Iki Radio — Suasana Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) di New York memanas usai puluhan delegasi dari berbagai negara memutuskan untuk walkout saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, naik ke podium utama, Jumat (25/9/2026).
Protes massal tersebut diiringi sorakan dari dalam ruang sidang serta gelombang demonstrasi besar di luar gedung PBB yang turut diikuti sejumlah figur publik dunia, seperti aktor Elliot Page dan Susan Sarandon.
Aksi keluar ruangan ini memicu reaksi tajam dari Netanyahu. Saat Presiden Majelis Umum PBB berusaha menenangkan ruang sidang, Netanyahu melontarkan cibiran balik secara terbuka sebelum memulai pidatonya.
"Sebelum saya mulai, ada satu pengumuman singkat: jika ada lagi pengecut moral yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan lakukan sekarang," cetus Netanyahu menyindir para delegasi yang berjalan keluar.
Dalam pidatonya, Netanyahu bersikap menantang dan memaparkan sejumlah poin krusial terkait kondisi geopolitik kawasan, eskalasi konflik dengan Iran, hingga tuduhan terhadap tokoh-tokoh pengkritiknya di Amerika Serikat.
Poin-Poin Utama Pidato Netanyahu di SMU PBB
Klaim atas Penghancuran Nuklir Iran: Netanyahu menegaskan bahwa keputusan menyerang fasilitas nuklir Iran merupakan langkah penting yang tak terhindarkan demi kelangsungan hidup Israel dan keamanan dunia.
Tudingan Kemunafikan Internasional: Ia menuding negara-negara yang beraksi walkout bersikap munafik. Menurutnya, banyak pemimpin negara justru berterima kasih secara personal kepada Israel di balik layar karena telah melumpuhkan ancaman nuklir Iran.
Perang di Tujuh Front: Netanyahu menyoroti ketangguhan pasukannya yang mampu bertahan dan menyerang balik di tujuh front sekaligus selama tiga tahun terakhir—menghadapi Hamas, Hizbullah, Houthi, Iran, milisi Irak, milisi Suriah, serta kelompok militan di Tepi Barat (Yudea dan Samaria).
Apresiasi Khusus untuk Donald Trump: Pemimpin Israel tersebut mengutarakan apresiasi mendalam kepada Presiden AS Donald Trump atas kepemimpinannya dan kerja sama militer dalam membendung ancaman kelompok radikal serta rezim Iran.
Tudingan Perang Media dan Media Sosial: Netanyahu menyebut propaganda global dan narasi media sebagai "front kedelapan" yang dihadapi Israel dalam mempertahankan narasi dan kebenaran.
Kritik Langsung terhadap Tokoh AS: Secara eksplisit, ia menyoroti politisi Zohran Mamdani dan streamer/influencer Hasan Piker, menuduh mereka berusaha membungkam suara Israel. "Mamdani, Anda mencoba membungkam saya. Nah, Anda tidak bisa membungkam saya. Anda tidak bisa membungkam kebenaran," tegasnya.
Kendati dihantam gelombang kritik atas tindakan
militernya di Timur Tengah, Netanyahu menutup pidatonyas sembari menegaskan
bahwa tindakan bersenjata yang diambil Israel bersama sekutu utamanya, Amerika
Serikat, adalah upaya untuk "menyelamatkan peradaban" dari ancaman
ekstremisme.

















