Iki Radio – Memperingati Puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pemerintah Kabupaten Madiun menegaskan komitmennya untuk mewujudkan visi Kabupaten Madiun "Bersahaja" (Bersih, Sehat, dan Sejahtera).
![]() |
| Jaga kebersihan, petugas DLH Kabupaten Madiun, membersihkan area Alun Alun Reksogati |
Melalui momentum ini, Pemkab Madiun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengubah paradigma lama dalam mengelola sampah.
Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menyampaikan bahwa urusan kebersihan lingkungan bukanlah tanggung jawab pemerintah semata, melainkan urusan bersama seluruh warga Kabupaten Madiun.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemkab telah menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) "Selamat Asri" (Selasa dan Jumat untuk gerakan aman, sehat, resik, dan indah).
"Kemitraan dan gotong royong itu kunci. Urusan sampah adalah urusan bersama. Jangan buang sampah sembarangan, kita sudah siapkan fasilitas tempat sampah. Kalau ada sampah ya segera diambil, dibersihkan, tidak usah selalu menunggu petugas," tegas Bupati Hari Wuryanto, Sabtu (6/6/2026).
Bupati Hari Wuryanto mengungkapkan bahwa Kabupaten Madiun berhasil masuk dalam 35 besar kabupaten di Indonesia yang menerima sertifikat menuju bersih.
Mengingat belum ada daerah yang meraih Adipura tahun ini, Bupati optimistis Madiun bisa menyabet penghargaan bergengsi tersebut di masa mendatang.
Namun, target tersebut menghadapi tantangan besar, terutama terkait kepedulian masyarakat yang dinilai masih kurang.
Sebagai langkah masif untuk mengedukasi generasi muda, Pemkab Madiun terus menggenjot program Adiwiyata (Sekolah Ramah Lingkungan). Tidak sekadar imbauan, Pemkab Madiun menyiapkan skema penghargaan dan "sanksi" unik yang akan dilombakan pada Hari Jadi Kabupaten Madiun mendatang.
“Sekolah juara akan diberikan apresiasi dan penghargaan khusus atas komitmen menjaga lingkungan asri. Sekolah terkotor akan diberikan "hadiah" berupa sapu sebagai bentuk teguran dan motivasi agar berbenah,” tambahnya.
Selain sekolah, penilaian berbasis lingkungan asri ini juga diterapkan secara masif di sektor perkantoran (Kantor Asri) hingga tingkat desa (Desa Kelurahan Berseri).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Madiun, Muhamad Zahrowi, mengamini hal tersebut.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah habit atau perilaku masyarakat.
"Tantangan terbesar adalah mengubah perilaku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Masih ada pola pikir di mana masyarakat yang sudah membayar layanan gerobak sampah merasa tanggung jawabnya selesai di situ saja. Padahal, harus ada keberlanjutan untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya," jelas Zahrowi.
Menyelaraskan dengan arahan Menteri Lingkungan Hidup pada puncak peringatan nasional, Zahrowi menekankan pentingnya migrasi paradigma pengelolaan sampah di tingkat masyarakat bawah.
"Kita harus mengubah paradigma lama dari sekadar buang dan bakar sampah, menjadi paradigma baru: mengolah sampah dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dengan pengelolaan yang benar, sampah bisa menjadi produktif dan membentuk perputaran ekonomi baru (circular economy)," pungkasnya.
DLH Kabupaten Madiun memastikan akan selalu hadir
memberikan support, pembinaan, serta pendampingan bagi berbagai paguyuban—mulai
dari komunitas peduli sampah, paguyuban parkir, hingga pedagang pasar—agar
gerakan peduli lingkungan ini berjalan secara berkesinambungan.(ir)


.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)















