Iki Radio - HUT ke 40 Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL), dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit, bertempat di kediaman mantan Panglima TNI Laksamana (purn) Yudo Margono, di Desa Garon, Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun, Sabtu (29/8/2026).
Pagelaran wayang kulit ini menampilkan lakon "Mbangun Taman Maerokoco" oleh dalang Ki Sigit Aryanto.
Berikut ringkasan cerita lakon "Mbangun Taman Maerokoco".
Dikisahkan, Istana Kerajaan Panchala mendadak gempar setelah Prabu Drupada resmi mengumumkan dibukanya sayembara Mbangun Taman Maerokoco. Langkah ini diambil demi memulihkan keindahan taman istana yang rusak porak-poranda akibat serangan musuh, sekaligus menjaring kesatria terbaik untuk menyunting putrinya, Dewi Srikandi.
Persyaratan utama yang diajukan dalam sayembara ini terbilang mustahil: peserta wajib membangun dan merestorasi kembali seluruh kemegahan Taman Maerokoco hanya dalam waktu satu malam.
Sejumlah tokoh dan kesatria ternama melangkah ke arena persaingan, termasuk mahaguru Resi Drona. Namun, perhatian publik tertuju pada sososk misterius bernama Tumenggung Cakranegara. Usut punya usut, sosok tersebut merupakan penyamaran dari Raden Arjuna, kesatria Penengah Pandawa yang sengaja menyembunyikan identitas aslinya.
Persaingan berlangsung sengit saat malam mulai merayap. Mengandalkan kesaktian, ketekunan, serta restu dari para dewa, Tumenggung Cakranegara berhasil merangkai kembali bangunan taman, menata pepohonan, hingga mengalirkan air jernih di kanal-kanal Taman Maerokoco tepat sebelum fajar menyingsing.
Dengan tuntasnya pembangunan tersebut, Prabu Drupada secara resmi menetapkan Raden Arjuna (Tumenggung Cakranegara) sebagai pemenang tunggal sayembara. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri masa keprihatinan Kerajaan Panchala dan meresmikan hubungan antara Arjuna dengan Dewi Srikandi.
Cerita ini menggambarkan keteguhan niat, kesungguhan, serta pembuktian kesetiaan dan kesaktian dalam mengatasi hal yang tampak mustahil.
Makna dan Nilai Filosofis
Ketekunan dan Kerja Keras: Menyelesaikan pekerjaan besar dalam waktu singkat (semalam) menggambarkan bahwa rintangan seberat apa pun dapat diselesaikan jika dikerjakan dengan tekad kuat, fokus, dan sarana yang tepat.
Tanggung Jawab Moral: Usaha membangun taman melambangkan upaya memulihkan keindahan, keharmonisan, serta tatanan hidup yang sempat rusak oleh konflik atau amarah (kehancuran).
Simbol Kesucian dan Keindahan: Taman Maerokoco sering dimaknai sebagai lambang batin yang suci, tempat ketenangan jiwa yang harus dijaga dan dirawat agar tidak dirusak oleh hawa nafsu atau niat buruk.



















