Iki Radio - Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-21 Perhimpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) digelar di halaman Pendopo Ronggo Djumeno Kabupaten Madiun, Sabtu (5/9/2026).
Peringatan ini juga dihadiri perwakilan pengurus serta pendidik PAUD dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Mengusung tema "Nyalakan Asa, Wujudkan Pengakuan dan Kesetaraan Guru PAUD Nonformal", peringatan ini menjadi momentum penting untuk menyuarakan nasib para pendidik di lapangan.
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) HIMPAUDI, Betti Nuraini (Popo Betti), membeberkan bahwa dari 220.000 guru PAUD se-Indonesia, sebanyak 70 persen di antaranya masih menerima honor rata-rata Rp250.000 per bulan, bahkan ada yang hanya mendapat Rp50.000 hingga tidak bergaji.
"Bagaimana mungkin kita meminta seorang guru menyalakan masa depan anak-anak bangsa, sementara kehidupan gurunya dibiarkan dalam kegelapan? Terangi gurunya, sejahterakan mereka, maka mereka akan mengantarkan anak-anak kita menuju gerbang Generasi Emas," tegas Popo Betti.
Popo Betti juga menyampaikan sejumlah poin strategis perjuangan HIMPAUDI, diantaranya terkait dengan Rancangan Undang Undang (RUU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan legalitas pendidik PAUD, pihaknya mendorong pencantuman klausul agar pendidik Kelompok Bermain (KB) diakui secara legal sebagai guru, sehingga membuka akses Sertifikasi/PPG dan Program Indonesia Pintar (PIP).
Memanfaatkan program beasiswa yang dibuka sejak Januari 2026 untuk memfasilitasi guru berijazah SMA menuntaskan S1 dalam batas waktu 10 tahun. Serta peninjauan bantuan revitalisasi kini dilakukan transparan melalui data riil Dapodik.
Popo Betti juga memastikan lembaga KB, TPA, dan SPS memiliki panduan resmi menerima anak usia 5–6 tahun tanpa dikotomi formal dan nonformal.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PW HIMPAUDI Jawa Timur, Galih Waskito, menegaskan tiga fokus utama perjuangan organisasi meliputi kesetaraan status hukum, insentif daerah yang layak, serta jaminan perlindungan kerja.
Ia mengapresiasi sinergi Pemkab Madiun dalam mendukung layanan KB, Satuan PAUD Sejenis (SPS), dan Tempat Penitipan Anak (TPA).
"Memang saat ini kita adalah pahlawan-pahlawan yang belum diakui secara penuh oleh negara. Namun, saya yakin setiap langkah panjenengan semua dicatat oleh Allah SWT," ujar Galih.
Sementara itu, Bupati Madiun Hari Wuryanto menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dua dekade lebih pengabdian para guru PAUD.
Menjawab aspirasi peserta, Pemkab Madiun berkomitmen terus memberikan perhatian nyata, salah satunya lewat pemberian insentif daerah sebesar Rp650.000 bagi guru PAUD nonformal meski di tengah keterbatasan anggaran. Pemkab Madiun juga memfasilitasi program beasiswa kuliah bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi agar para guru dapat menuntaskan jenjang D4 atau S1.
"Panjenengan tidak bisa berjalan sendiri, dan kami pun demikian. Mari kita berjuang bersama-sama untuk memajukan pendidikan anak usia dini dan mewujudkan kesetaraan bagi para pendidik," tutur Hari Wuryanto.
Acara diakhiri dengan seruan penuh semangat "PAUD Kuat, Indonesia Maju, HIMPAUDI Jaya!"
sebagai simbol kepedulian dan komitmen bersama menuju pendidikan anak usia dini
yang berkualitas di Jawa Timur.(ir)





.png)












