Iki Radio - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir mendorong pembenahan tata kelola organisasi cabang olahraga (cabor) untuk mencegah terjadinya dualisme kepengurusan yang pada akhirnya dapat merugikan atlet. Pemerintah juga mendorong setiap federasi memiliki tata kelola yang jelas antara liga, tim nasional, dan keikutsertaan pada ajang multievent.
Menurut Erick Thohir, mekanisme administrasi organisasi olahraga kini diarahkan agar lebih sederhana. Ketika terjadi pergantian kepengurusan melalui proses pemilihan, federasi cukup menyampaikan informasi kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk selanjutnya diproses sesuai ketentuan dan diregistrasikan pada Kementerian Hukum.
“Kalau di Kemenpora yang baru, itu jelas bahwa cabor-cabor ketika terjadi pemilihan, tinggal kirim informasi kepada kami, lalu diregister Kemenkum. Jadi tidak ada lagi isu dualisme,” ujar Erick kepada awak media dalam penyelenggaraan Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Dikatakan, kepastian tata kelola organisasi sangat penting karena konflik internal federasi dapat berdampak langsung terhadap pembinaan dan kesejahteraan atlet.
“Problemnya, ketika federasinya pecah, ketika pengurusnya hanya memikirkan dirinya sendiri, akhirnya dikorbankan atletnya,” tegas Menpora Erick Thohir.
Salah satunya, Erick Thohir menyebut aturan di lingkungan Kemenpora telah mengatur masa kepemimpinan organisasi olahraga maksimal tiga kali. Pemerintah juga secara bertahap akan mendorong perbaikan statuta masing-masing cabang olahraga agar pembagian peran dalam ekosistem olahraga menjadi lebih jelas.
Ia menilai federasi perlu memiliki pemetaan yang tegas mengenai kewenangan dan tanggung jawab dalam pengelolaan liga, tim nasional, kejuaraan dunia, maupun multievent.
“Pelan-pelan kita akan mendorong perbaikan statuta cabor-cabor olahraga, supaya jelas di olahraga itu ada liga, ada tim nasional,” kata Menpora.
Menpora Erick menjelaskan, federasi harus mampu membedakan domain kompetisi. Liga menjadi bagian dari pengembangan kompetisi domestik, sementara tim nasional dipersiapkan untuk membawa nama Indonesia dalam berbagai ajang internasional dan multievent.
“Yang multievent tugasnya siapa, yang dunia tugasnya siapa, liga domainnya federasi, tim nasional kita pari passu, sama-sama. Ini yang kita sekarang lakukan,” ujarnya.
Penguatan kompetisi domestik juga menjadi perhatian pemerintah. Erick mengatakan keberadaan liga penting untuk menciptakan kesinambungan pembinaan sekaligus membuka sumber pendanaan bagi federasi.
Dalam Indonesia Sports Summit 2026, Kemenpora mengundang sejumlah penyelenggara liga, antara lain liga bola basket, liga sepak bola, serta pihak yang tengah mempersiapkan liga padel.
Menurut Erick Thohir, kompetisi domestik dibutuhkan agar atlet tidak hanya mengandalkan kejuaraan internasional.
“Tidak mungkin para atlet sendiri hanya bergantung kepada pertandingan-pertandingan dunia tanpa ada kejuaraan tambahan di negaranya,” katanya.
Dengan kompetisi yang berjalan secara berkelanjutan, federasi diharapkan memiliki sumber pendanaan yang lebih kuat untuk membiayai pembinaan, penyelenggaraan kompetisi, serta pengembangan atlet.
Menpora Erick Thohir juga mengingatkan agar kepemimpinan federasi benar-benar diisi figur yang memiliki kepedulian terhadap cabang olahraga yang dipimpinnya.
“Ketua federasi itu harusnya memang yang suka kepada olahraga tersebut, bukan yang cari makan ataupun sekadar ingin ngetop di olahraganya,” tegasnya.
Selain memiliki kepedulian, seorang pemimpin federasi juga harus mempunyai waktu untuk mendampingi dan mengelola organisasi.
“Yang kedua, penting juga para figur itu punya waktu untuk mendampingi federasinya, jangan enggak punya waktu. Yang ketiga, kalau bisa cari uang. Tetapi jangan korbankan atlet,” lanjut Erick.
Keberpihakan Pada Atlet
Dengan demikian, Menteri Erick menilai keberpihakan terhadap atlet harus menjadi bagian utama dari pembenahan ekosistem olahraga nasional. Hal itu karena karier atlet memiliki masa yang relatif singkat dibandingkan profesi lainnya.
“Karena kenapa? Atlet itu usianya pendek. Umur 30 sudah berhenti. Beda sama kita, media sama menteri umur 30 masih tambah aktif,” ujarnya.
Menurut Erick Thohir, sebagian atlet bahkan menghadapi risiko kehilangan karier pada usia yang lebih muda apabila mengalami cedera serius. Kondisi tersebut membuat dukungan negara terhadap atlet tidak hanya dibutuhkan ketika mereka sedang berprestasi, tetapi juga untuk menjamin keberlanjutan masa depannya.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah telah meningkatkan perhatian terhadap penghargaan bagi atlet berprestasi pada ajang multievent.
Menpora menyebut peningkatan bonus prestasi tersebut merupakan bentuk kehadiran negara sekaligus kesempatan bagi atlet untuk mempersiapkan kehidupan setelah tidak lagi aktif bertanding.
“Artinya nanti para atlet ini juga bisa mulai menabung untuk masa depannya,” katanya.
Satu hal, Erick Thohir menegaskan pembenahan tata kelola federasi pada akhirnya harus bermuara pada kepentingan atlet. Pemerintah tidak ingin konflik kepengurusan, lemahnya organisasi, maupun persoalan pendanaan membuat atlet kehilangan kesempatan untuk berlatih dan bertanding.
Karena itu, pembagian peran antara federasi, liga, dan tim nasional harus dibuat semakin jelas. Federasi juga diharapkan mampu membangun sistem pembinaan yang berkesinambungan dan memiliki sumber pembiayaan yang sehat.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk membangun ekosistem olahraga yang tidak hanya mengejar prestasi sesaat, tetapi juga memberikan kepastian bagi atlet sepanjang kariernya.
“Jadi ini bagian membuktikan bahwa Bapak Presiden, negara hadir untuk olahraga dan keselamatan atletnya,” pungkas Menpora Erick Thohir.



















