Iki Terbaru/Paling Greeess

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Peran Komunikasi Organisasi dalam Meningkatkan SDM

Iki Radio - Perkembangan dunia kerja pada era globalisasi dan digitalisasi membawa perubahan besar dalam cara organisasi mengelola sumber daya manusia (SDM).

Aisyah N Rizqiyah

Persaingan yang semakin ketat, kemajuan teknologi, serta tuntutan kinerja yang tinggi memaksa organisasi untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian target bisnis, tetapi juga pada penguatan kualitas manusia di dalamnya.

SDM kini dipandang sebagai aset strategis yang menentukan keberhasilan organisasi dalam jangka panjang, bukan sekadar faktor pendukung operasional. Namun, peningkatan kualitas SDM tidak selalu berjalan seiring dengan pelatihan dan teknologi. Banyak organisasi masih menghadapi persoalan rendahnya produktivitas, lemahnya kolaborasi tim, hingga menurunnya loyalitas karyawan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa permasalahan SDM sering kali berakar pada aspek non-teknis, salah satunya adalah komunikasi organisasi yang kurang efektif. Ketika informasi tidak tersampaikan dengan jelas, tujuan organisasi tidak dipahami secara utuh, dan ruang dialog tidak tersedia, potensi SDM menjadi sulit berkembang secara optimal.

Komunikasi organisasi memiliki peran penting sebagai penghubung antara kebijakan manajemen dan pelaksanaan di lapangan. Melalui komunikasi yang baik, nilai, visi, dan arah organisasi dapat dipahami oleh seluruh anggota secara konsisten. Sebaliknya, komunikasi yang tertutup dan satu arah berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, konflik internal, serta menurunkan motivasi kerja.

Dalam konteks organisasi modern yang semakin beragam, baik dari sisi latar belakang SDM maupun pola kerja dan tantangan komunikasi menjadi semakin kompleks dan membutuhkan perhatian serius. Isu komunikasi organisasi juga semakin relevan di tengah perubahan pola kerja, seperti penerapan kerja fleksibel dan pemanfaatan teknologi digital.

Interaksi yang sebelumnya terjadi secara langsung kini banyak dilakukan melalui media daring, sehingga menuntut kemampuan komunikasi yang lebih adaptif dan terstruktur. Tanpa strategi komunikasi yang tepat, organisasi berisiko kehilangan keterikatan karyawan (employee engagement) yang berdampak langsung pada kualitas kinerja SDM.

Berdasarkan kondisi tersebut, komunikasi organisasi tidak dapat dipandang sebagai aktivitas rutin semata, melainkan sebagai instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas SDM. Oleh karena itu, pembahasan mengenai peran komunikasi organisasi menjadi penting untuk memahami bagaimana proses komunikasi yang efektif dapat mendorong pengembangan kompetensi, sikap profesional, dan kinerja SDM secara berkelanjutan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian bertujuan untuk memahami secara mendalam peran komunikasi organisasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, bukan untuk mengukur hubungan antarvariabel secara kuantitatif. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat mengkaji konsep, teori, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif dan kontekstual sesuai dengan kondisi organisasi saat ini.

Objek penelitian dalam artikel ini adalah komunikasi organisasi yang dikaitkan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Fokus penelitian diarahkan pada proses komunikasi yang terjadi di dalam organisasi, peran pimpinan dan karyawan dalam komunikasi tersebut, serta dampak komunikasi organisasi terhadap motivasi, pemahaman kerja, dan kinerja SDM. Penentuan fokus ini bertujuan untuk memperjelas ruang lingkup penelitian agar pembahasan tetap terarah dan tidak meluas ke aspek di luar tujuan penelitian.

Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan cara mengelompokkan informasi berdasarkan tema-tema tertentu, membandingkan pandangan dari berbagai sumber, serta menafsirkan hubungan antara komunikasi organisasi dan kualitas sumber daya manusia. Untuk memperjelas alur pembahasan, kerangka analisis 5W+1H digunakan sebagai panduan agar pembahasan tersusun secara sistematis dan mudah dipahami.

Pembahasan

Pertama, What (Apa yang dimaksud dengan komunikasi organisasi?). Komunikasi organisasi adalah proses pertukaran informasi, gagasan, dan makna yang terjadi di dalam suatu organisasi, baik secara formal maupun informal. Proses ini mencakup komunikasi vertikal, horizontal, hingga diagonal yang bertujuan menyelaraskan pekerjaan individu dengan tujuan organisasi. Komunikasi yang efektif memungkinkan setiap anggota organisasi memahami perannya, tanggung jawabnya, serta arah kebijakan yang ditetapkan.

Kedua, Why (Mengapa komunikasi organisasi penting bagi peningkatan SDM?). Komunikasi organisasi memiliki peran strategis dalam pengembangan SDM karena menjadi sarana utama pembentukan sikap, perilaku, dan budaya kerja. SDM yang unggul tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh pemahaman terhadap nilai organisasi, kemampuan bekerja sama, dan kesiapan menghadapi perubahan. Tanpa komunikasi yang jelas dan terbuka, potensi SDM sulit berkembang secara optimal, bahkan dapat menimbulkan kesalahpahaman yang berdampak pada menurunnya kinerja.

Ketiga, Who (Siapa yang terlibat dalam komunikasi organisasi?). Seluruh elemen organisasi terlibat dalam proses komunikasi, mulai dari pimpinan puncak, manajer, hingga karyawan di level operasional. Pimpinan berperan sebagai komunikator utama yang menentukan arah dan pesan strategis, sementara karyawan berperan sebagai penerima sekaligus pemberi umpan balik. Ketika setiap pihak terlibat aktif dalam komunikasi dua arah, organisasi dapat menciptakan SDM yang lebih partisipatif dan bertanggung jawab.

Keempat, Where (Di mana komunikasi organisasi berlangsung?). Komunikasi organisasi berlangsung di berbagai ruang, baik fisik maupun digital. Rapat kerja, diskusi informal, pelatihan, hingga percakapan melalui platform daring seperti email dan aplikasi kolaborasi menjadi media komunikasi sehari-hari. Dalam konteks kerja modern dan fleksibel, kemampuan organisasi mengelola komunikasi lintas ruang menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas dan keterlibatan SDM.

Kelima, When (Kapan komunikasi organisasi berperan penting?). Komunikasi organisasi berperan krusial terutama saat organisasi menghadapi perubahan, seperti restrukturisasi, penerapan teknologi baru, atau krisis internal. Pada momen-momen tersebut, komunikasi yang transparan dan konsisten membantu SDM memahami situasi, mengurangi resistensi, serta menjaga motivasi kerja. Tanpa komunikasi yang baik, perubahan justru berpotensi menurunkan kinerja dan loyalitas karyawan.

Keenam, How (Bagaimana komunikasi organisasi meningkatkan kualitas SDM?). Komunikasi organisasi yang efektif mendorong peningkatan SDM melalui beberapa cara. Pertama, komunikasi yang terbuka menciptakan iklim kerja yang sehat sehingga karyawan merasa dihargai dan didengar. Kedua, penyampaian umpan balik yang konstruktif membantu SDM memahami kelebihan dan area yang perlu dikembangkan. Ketiga, komunikasi yang selaras dengan nilai organisasi mampu menanamkan budaya kerja positif yang berdampak langsung pada peningkatan kinerja dan profesionalisme SDM.

Komunikasi organisasi memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui komunikasi yang efektif, organisasi dapat membangun pemahaman bersama, meningkatkan motivasi, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pengembangan potensi SDM secara berkelanjutan. Kualitas SDM yang unggul tidak hanya lahir dari pelatihan dan pendidikan, tetapi juga dari komunikasi yang mampu menghubungkan visi organisasi dengan peran individu di dalamnya.

Sebagai saran, organisasi perlu menjadikan komunikasi sebagai bagian dari strategi pengelolaan SDM, bukan sekadar aktivitas pendukung. Pimpinan diharapkan mampu menjadi teladan dalam komunikasi yang terbuka dan inklusif, sementara organisasi perlu memanfaatkan teknologi komunikasi secara bijak untuk memperkuat keterlibatan karyawan. Dengan demikian, komunikasi organisasi dapat berfungsi optimal sebagai penggerak utama peningkatan kualitas SDM di era yang terus berubah.


Oleh : Aisyah N Rizqiyah

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya

Penulis adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, sedang menempuh mata Kuliah Komunikasi Organisasi dengan Dosen Pengampu Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A

Bersama Cegah HIV / Aids

Iki Radio - Setiap tanggal 1 Desember, semua orang memperingati Hari AIDS Sedunia. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaraan tentang bahaya HIV/AIDS, serta mendorong cara pencegahannya, dan mendukung cara pengobatannya. 

Penulis : Yuliana Epit, Mahasiswa UKWMS Madiun

Peringatan Hari HIV/AIDS menjadi hal yang sangat penting bagi lembaga kesehatan, pemerintah, komunitas, dan masyarakat luas untuk memperkuat komitmen untuk menyadari bahwa penyakit ini sangat merugikan diri sendiri dan juga orang lain, bahkan menjadi bencana dunia. 

Peringatan ini bukan hanya tentang mengenang mereka yang menjadi korban, melainkan juga mengajak semua pihak untuk bergerak bersama-sama mencegah penyebaran HIV/AIDS.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh dan AIDS (Acquired Immune Deficency Syndrome) adalah stadium akhir dari inveksi HIV ketika sistem kekebalan tubuh sudah rusak parah yang menghancurkan sel CD4 (sel yang melawan infeksi, bagian penting dalam sistem kekebalan). 

Sel CD4 yang rendah kurang dari 200/mm3 darah dengan standar normal 500-1500. Penyandang CD4 rendah akan rentan terinfeksi penyakit apa pun dan tak tersembuhkan. 

Kasus HIV/AIDS pertama pada tahun 1959 berdasarkan sampel darah seorang laki-laki di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo Afrika dan secara medis pada 1981 adanya wabah peneumonia di Los Angeles, AS yang menyerang pasangan homoseksual yang didentifikasi sebagai virus HIV. Ada anggapan penyakit ini kutukan bagi kaum homoseksual sebagai perilaku menyimpang. 

Sejarah HIV/AIDS di Indonesia pertama kali mencatat kasus HIV/AIDS pada tahun 1987, ditemukan pada seorang wisatawan asal Belanda di Bali. Sejak waktu itu, infeksi HIV/AIDS berkembang dan ditularkan melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik yang tidak steril. 

Stigma negatif bagi penderita terlihat pada pandangan orang jika seseorang dinyatakan terkena HIV/AIDS, orang-orang akan memutuskan sosial, tidak berani berteman dengan penderita. Hal ini bisa menimbulkan hilang semangat untuk menjalani hidupnya dan berjuang untuk sembuh. 

Penderita HIV/AIDS merasa dirinya tersinggirkan dan terbuang, karena orang-orang di sekitarnya menjauhi bahkan tidak mau berteman. 

Stigma negatif sebagai pelaku seks menyimpang bagi penderita menyebabkan mereka menarik diri dan tak mau melanjutkan pengobatan, bahkan sebagian menyembunyikan penyakitnya karena takut dihakimi dan dikucilkan. 

Stigma ini harus dihapuskan karena orang yang penderita HIV/AIDS perlu kita hargai juga sebagai manusia yang tetap punya hak hidup. 

Mengapa HIV/ AIDS sangat penting dicegah dan dilawan? Karena penyakit ini tidak hanya menyerang fisik melainkan bisa menyerang psikis dan sosial penderitanya. 

Maka dari itu harus diberikan edukasi agar psikis penderita tidak terganggu, mengingat bahwa penyakit ini menjadi momok yang sangat menakutkan dengan mitos yang menyesatkan di kalangan masyarakat. Untuk itu dibutuhkan kerja sama dan kepedulian berbagai pihak. 

Bagaimana bentuk peringatan hari AIDS ini dilakukan atau diselenggarakan? Banyak hal yang bisa dilakukan seperti seminar kesehatan, pembagian brosur informasi mengenai pencegahan ADIS, dan penyuluhan perilaku hidup sehat. 

Selain kegiatan tersebut bisa juga mengajak masyarakat untuk memahami bahwa HIV/AIDS bisa dicegah dengan tidak melakukan seks dengan orang yang diagnosis HIV/AIDS dan tidak satu tempat makan dengan penderita karena penularannya melalui cairan penderita yang tercampur dalam makanan dan minuman. 

Della (21 tahun) seorang mahasiswa mengatakan bahwa HIV/AIDS di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan yang serius karena rendahnya kesadaran masyarakat dan masih adanya stigma terhadap penderita. 

Edukasi pencegahan dan penularan belum merata, sehingga banyak orang takut untuk memeriksakan diri. Oleh karena itu, penanganan HIV/ AIDS di Indonesia harus mengutamakan edukasi dan layanan kesehatan yang mudah diakses semua orang, tanpa penghakiman dan pengucilan.

Peringatan Hari Aids ini tidak hanya sebagai rutinitas melainkan menjadi salah satu momentum untuk mengajak seluruh masyarakat bergerak bersama-sama dalam mengayomi para penderita untuk tidak melakukan hal yang merusak kesehatan diri. Para penyintas masih layak hidup dan didukung untuk tetap sehat.

Mari kita bersama-sama memberikan semangat kepada para penderita HIV/AIDS agar mereka mampu bangkit dan menjalani hidup dengan penuh harapan. 

Hindarilah sikap menghakimi, karena stigma sering kali jauh lebih menyakitkan dibandingkan penyakit yang mereka derita. 

Dengan sikap saling peduli dan saling memahami, kita belajar untuk menjadi manusia yang mempunyai hati nurani, sekaligus kita membantu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi orang di sekitar kita. 

Penulis : Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya kampus Kota Madiun

Mikul Duwur Mendem Jero: Ajaran Jawa tentang Ilmu, Etika, dan Pendidikan Karakter

Iki Radio - Ungkapan mikul duwur mendem jero erat kaitannya dengan masyarakat Jawa. Pepatah itu seolah menjadi prinsip hidup dan menjadi bagian khazanah budaya bangsa.

Konsep tersebut berangkat dari agama dan budaya yang hubungannya tidak dapat dipisahkan dalam sejarah peradaban. Oleh karena itu, ungkapan tersebut turut dalam pembentukan identitas bangsa Indonesia. 

Secara bahasa, mikul duwur berarti menjunjung tinggi, sedangkan mendem jero berarti mengubur dalam-dalam. Ungkapan ini mencerminkan etika Jawa dalam memperlakukan orang lain, terutama orang tua, guru, atau pemimpin.

Sederhananya, seseorang diajarkan untuk menghargai jasa orang lain dengan meninggikan kehormatan mereka (mikul duwur) sekaligus menutupi kekurangan atau aib mereka (mendem jero).

Konsep ini menjadi dasar moral sosial di Jawa bahwa hubungan antargenerasi dibangun di atas rasa hormat dan penghargaan.

Akan tetapi, sebenarnya prinsip tersebut tidak sesederhana itu. Prof. Dr. H. Sugeng Solehuddin, M.Ag., dosen Pendidikan Agama Islam mengungkapkan mikul duwur mendem jero dalam konsep pendidikan. Prof. Sudeng mengungkapkan pemikirannya dalam pidato pengangkatan guru besar yang berjudul “Konsep Edukasi Mikul Duwur Mendem Jero dalam Perspektif Ilmu Pendidikan Islam (Kajian Funamental Structure dalam Kearifan Lokal Masyarakat Jawa)” pada Sabtu 2 Maret 2024.

Pembelajaran Berasal dari Pemahaman Diri

Prof. Sugeng menekankan bahwa mikul duwur mendem jero dapat dijadikan landasan dalam ilmu pendidikan Islam. Filosofi ini memberi arah bagaimana proses belajar bukan hanya pencarian ilmu, tetapi juga pembentukan karakter.

Pembelajaran sejati dimulai dari pemahaman diri (mendem jero) dan mencapai puncaknya dengan mencari pengetahuan yang lebih tinggi (mikul duwur).

Mendem jero atau “mengubur dalam” mengandung arti bahwa sebelum seseorang berusaha memahami dunia luar, ia harus lebih dulu mengenali dirinya. Pemahaman diri berarti menyadari kelebihan dan kekurangan, mengendalikan hawa nafsu, serta menempatkan ego pada posisi yang tepat.

Dalam tradisi Jawa, mendem jero juga mengajarkan sikap rendah hati, tidak mudah menonjolkan diri, tidak mempermalukan orang lain, dan tidak membuka aib yang seharusnya disimpan.

Setelah tahap pemahaman diri, barulah seseorang menuju mikul duwur atau “menjunjung tinggi”. Tahap ini adalah puncak dari proses pembelajaran, yaitu ketika seseorang mencari pengetahuan yang lebih tinggi dan menggunakannya untuk memberi manfaat.

Mikul duwur juga berarti memuliakan nilai-nilai luhur, menghormati orang tua, guru, atau tokoh yang telah memberi ilmu dan bimbingan. Pengetahuan dijunjung untuk meninggikan martabat diri sekaligus orang lain.

Kecerdasan dalam Pendidikan bukan Hanya Intelektual, tapi Juga Moral

Mikul duwur mendem jero menyiratkan bahwa ilmu sejati bukan hanya tentang kepintaran intelektual, tetapi juga kesadaran spiritual dan etika sosial. Mikul duwur mendem jero menekankan pentingnya menjunjung tinggi kehormatan keluarga, menjaga harga diri, dan memperkuat jati diri seseorang.

Lebih jauh, filosofi ini juga menggambarkan bagaimana seseorang seharusnya menunjukkan rasa hormat dan kepatuhan kepada orang lain. Nilai-nilai itu hidup dalam keseharian, misalnya seorang anak yang menjaga nama baik orang tuanya, cucu yang menghormati kakek-neneknya, atau murid yang menaruh hormat kepada gurunya.

“Mikul Duwur Mendem Jero adalah cerminan dari etika sosial dalam budaya Jawa, yang berarti menjunjung tinggi kehormatan keluarga, hargadiri, dalam pengguatan jati diri seseorang serta menggambarkan rasa hormat atau patuh kepada orang lain,” dikutip dari laman resmi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur).

Dalam implementasinya di dunia pendidikan, ungkapan tersebut akan menciptakan perilaku kesederhanaan dalam pembelajaran. Sedangkan, dalam dunia kerja adalah bagaimana agar dapat menjaga kekurangan atau aib (mendem jero) pimpinan serta bagaimana kita dapat menghormati pimpinan kita (mikul duwur).

Sementara itu, di tengah masyarakat mikul duwur dalam bermasyarakat, misalnya dengan berterimakasih atas kebaikan yang dilakukan orang lain kepada kita, karena rasa terima kasih kita kepada orang lain merupakan perwujudan rasa yukur kita kepada Allah.

Dengan kata lain, mikul duwur mendem jero adalah panduan moral yang menghubungkan pembentukan karakter pribadi dengan etika sosial. Ia mengajarkan bahwa martabat diri seseorang akan semakin kokoh bila dibangun di atas penghormatan kepada orang lain dan pengendalian atas diri sendiri.

Oleh : Aslamatur Rizqiyah dari goodnewsfromindonesia.id

Peran Digital Public Relations dalam Menggerakkan Marketing Produk UMKM

Iki radio - Di era digital yang serba cepat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, mengubah cara kita berkomunikasi dan berinteraksi. Dahulu, interaksi seringkali dilakukan secara langsung, namun kini komunikasi termediasi komputer (Computer Mediated Communication/CMC) melalui internet telah mengambil alih.

CMC memungkinkan pertukaran pesan dan informasi secara daring dengan cepat, fleksibel, dan real-time, meskipun tanpa melibatkan isyarat non-verbal seperti nada suara atau ekspresi wajah. Perkembangan ini tidak hanya memudahkan komunikasi personal, tetapi juga membawa revolusi dalam dunia bisnis, khususnya bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sebelum era digital, pemasaran produk UMKM terbatas pada media konvensional seperti cetak, radio, dan televisi yang membutuhkan biaya besar. Kini, dengan hadirnya berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan YouTube, UMKM dapat memasarkan produk mereka dengan biaya yang lebih efisien dan jangkauan yang lebih luas.

Data APJII tahun 2016 menunjukkan bahwa pemanfaatan media sosial untuk gaya hidup mencapai 87,13%, dengan Instagram menjadi salah satu platform dengan pertumbuhan pengguna tercepat di Indonesia. Fenomena ini membuka peluang besar bagi UMKM untuk berinovasi dan tetap eksis.

Berdasarkan rilis yang diterima Tim JNR Kominfo Jatim pada Senin (16/6/2025), Ragil Noviyanti, Akademisi dan Praktisi Public Relation dari UNUSIDA (Universitas NU Sidoarjo) mengatakan perubahan besar yang terjadi adalah pergeseran dari Public Relations (PR) konvensional ke Digital Public Relations (Digital PR). Jika PR tradisional berfokus pada siaran pers, buletin, dan konferensi pers, Digital PR memanfaatkan kanal-kanal digital seperti situs web, email, media sosial, e-newsletter, dan mesin pencari. Transformasi ini mengubah cara PR menyajikan dan mengkomunikasikan informasi, menjadikannya lebih beragam dan interaktif. Digital PR memungkinkan proses komunikasi yang lebih cair, instan, dan melibatkan berbagai media sosial, yang pada gilirannya mendorong interaksi konsumen secara real-time.

Konsep strategi komunikasi yang digerakkan oleh persepsi publik menjadi kunci utama dalam Digital PR. Pendekatan ini menempatkan pemahaman dan pengelolaan pandangan masyarakat sebagai inti dari setiap upaya komunikasi. Artinya, UMKM tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga secara aktif mendengarkan, menganalisis, dan merespons bagaimana pesan tersebut diterima dan diinterpretasikan oleh publik.

Manfaat dan Tujuan Digital PR bagi UMKM

Penerapan Digital PR sangat penting bagi UMKM, terutama dalam situasi krisis, untuk menarik minat beli dan membangun kepercayaan konsumen. Dengan memahami perilaku konsumen, UMKM dapat menyajikan experience produk yang relevan dan memenuhi keinginan pasar.

Tujuan spesifik dari strategi komunikasi yang digerakkan oleh persepsi publik ini meliputi:

  • Membangun dan Menjaga Citra Positif: Menyesuaikan pesan dan tindakan untuk membangun citra yang baik, tepercaya, dan relevan di mata masyarakat.
  • Mendapatkan Kepercayaan dan Dukungan: Meningkatkan legitimasi dan penerimaan terhadap produk atau program yang ditawarkan.
  • Mencegah dan Mengelola Krisis: Memantau persepsi publik untuk mendeteksi masalah lebih awal dan mengambil tindakan proaktif.
  • Meningkatkan Pemahaman (To Secure Understanding): Memastikan pesan dipahami sesuai maksud komunikator, menghindari misinterpretasi.
  • Membina Penerimaan (To Establish Acceptance): Mendorong publik untuk menerima pesan atau ide produk.
  • Mendorong Tindakan (To Motivate Action): Memotivasi publik untuk membeli produk, mendukung kampanye, atau mengubah kebiasaan.
  • Memperkuat Hubungan dengan Pemangku Kepentingan: Membantu dalam negosiasi dan kolaborasi dengan pihak lain.
  • Adaptasi Komunikasi: Menciptakan strategi komunikasi yang spesifik dan adaptif terhadap karakteristik serta kebudayaan masyarakat yang berbeda-beda.

Singkatnya, strategi ini adalah tentang menjadi responsif, proaktif, dan relevan dalam berinteraksi dengan masyarakat, bukan hanya sekadar "menyampaikan pesan". Ini memungkinkan UMKM untuk secara efektif mengenalkan sekaligus membangun citra usaha mereka dengan biaya yang relatif murah dan jangkauan yang luas.

Salah satu strategi yang lazim digunakan UMKM dalam implementasi Digital PR adalah ingratiation (menyenangkan orang lain) dan self-promotion (promosi diri). Melalui media daring, UMKM dapat membangun citra melalui komunikasi interaksi dengan konsumen di e-commerce dan media sosial untuk berinteraksi aktif dengan audiensnya, mendengarkan umpan balik, dan membangun hubungan yang positif secara daring.

Strategi ini krusial bagi UMKM karena keterbatasan modal dibandingkan perusahaan besar. Dengan memanfaatkan tools Digital PR seperti situs, email, media sosial, situs pencari, dan etalase di e-commerce, UMKM dapat menyampaikan informasi dengan cepat, luas, dan efisien. Kolaborasi antar pelaku UMKM juga menjadi kunci untuk memaksimalkan peran digital marketing dan menjaga keberlangsungan usaha.

Pemerintah daerah harus berperan aktif dalam mendukung UMKM dengan menyediakan pelatihan dan fasilitas yang memungkinkan mereka mengoptimalkan digital PR. Dengan demikian, produk-produk UMKM dapat bersaing lebih jauh di pasar global dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian daerah. (byu/hjr)

 

Menakar Kualitas Pendidikan Lewat Keterlibatan Kolektif

Iki Radio - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 mengusung tema "Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua". 

Tema ini menekankan bahwa pendidikan berkualitas adalah hasil kolaborasi seluruh elemen bangsa—orang tua, pendidik, pemerintah, dan masyarakat. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab institusi formal, melainkan buah dari sinergi kolektif yang berkelanjutan.

Orang Tua Fondasi Utama Pendidikan Anak

Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anak. Peran mereka melampaui penyediaan kebutuhan materi; mereka adalah teladan dalam menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan semangat belajar. Menurut Epstein (1995), kolaborasi yang erat antara keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki dampak signifikan terhadap prestasi akademik siswa. 

Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan bahwa siswa dengan keterlibatan orang tua yang tinggi memiliki skor rata-rata 30 poin lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang keterlibatan orang tuanya rendah. 

Namun, survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mengungkapkan bahwa hanya sekitar 54% orang tua di Indonesia yang secara aktif mendampingi anak dalam belajar di rumah.  Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran dan partisipasi orang tua dalam pendidikan anak.


Pendidik: Pengajar, Pembimbing, dan Inspirator

Guru dan dosen tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga berperan sebagai pembimbing dan inspirator bagi peserta didik. Mereka membantu siswa mengembangkan potensi diri, membentuk karakter, dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan karakter yang ditanamkan oleh pendidik menjadi landasan bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.


Pemerintah: Penjamin Akses dan Kualitas Pendidikan

Pemerintah memiliki tanggung jawab konstitusional untuk menjamin terselenggaranya pendidikan nasional yang merata dan berkualitas. Melalui kebijakan afirmatif, alokasi anggaran yang memadai, dan peningkatan kompetensi pendidik, pemerintah berupaya menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Program-program seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan contoh konkret dukungan pemerintah dalam meningkatkan akses pendidikan.


Masyarakat: Mitra Strategis dalam Ekosistem Pendidikan

Masyarakat berperan sebagai mitra strategis dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pendidikan. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sekolah, seperti komite sekolah dan program literasi, memperkuat ekosistem pendidikan yang partisipatif. Dukungan moral dan material dari masyarakat membantu sekolah dalam menjalankan fungsi edukatifnya secara optimal.


Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua

Pendidikan berkualitas adalah hak setiap warga negara, bukan privilese segelintir kelompok. Untuk mewujudkannya, diperlukan partisipasi semesta—kerja sama harmonis antara orang tua, pendidik, pemerintah, dan masyarakat. Dengan sinergi ini, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai, menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang unggul dan berdaya saing di kancah global.

 

Referensi:

             Epstein, J. L. (1995).

             Programme for International Student Assessment (PISA) 2018.(Homeschooling HSPG)

             Badan Pusat Statistik (BPS) 2023.

*) Penulis adalah : Ketua Dewan Pembina di Yayasan Bestari Indonesia dan bekerja di GTK di PKBM BESTARI dan ketua 2 di Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional 

 

Masihkah Radio Tetap Bertahan di Era Digital

Di era digital yang serba canggih seperti sekarang, banyak yang bertanya-tanya: apakah radio masih memiliki tempat di hati pendengar modern? Dengan maraknya layanan streaming musik, podcast, dan platform on-demand lainnya, radio tampaknya menghadapi tantangan besar. 



Namun, apakah radio benar-benar kehilangan relevansinya? Jawabannya mungkin akan mengejutkan Anda.

1. Fleksibilitas dan Kemudahan Akses

Radio tetap menjadi media yang mudah diakses oleh semua kalangan. Tidak memerlukan koneksi internet, perangkat mahal, atau langganan bulanan, radio dapat dinikmati dengan perangkat sederhana. Dari mobil, tempat kerja, hingga pasar tradisional, radio hadir di mana-mana, menjadikannya media yang sangat fleksibel.

2. Konten Lokal yang Berbeda

Salah satu keunggulan radio adalah kemampuannya menyajikan konten lokal yang relevan. Berbeda dengan platform streaming global, radio lokal menyampaikan berita, cuaca, dan informasi terkini yang spesifik untuk komunitas tertentu. Ini memberikan nilai tambah yang tidak bisa ditawarkan oleh platform digital besar.

3. Interaksi dengan Pendengar

Radio memberikan ruang bagi pendengar untuk berinteraksi langsung melalui panggilan telepon, pesan teks, atau media sosial. Ini menciptakan rasa kedekatan dan komunitas yang sulit ditiru oleh platform digital lainnya. Acara-acara seperti diskusi langsung, kuis, dan dedikasi lagu adalah bentuk interaksi unik yang tetap menarik bagi pendengar.

4. Pendamping Aktivitas Sehari-Hari

Bagi banyak orang, radio adalah teman setia saat berkendara, bekerja, atau bersantai di rumah. Musik, berita, atau obrolan ringan dari penyiar dapat menjadi hiburan yang tidak mengganggu aktivitas utama. Hal ini membuat radio tetap relevan dalam rutinitas sehari-hari.

5. Adaptasi Radio di Era Digital

Radio tidak tinggal diam menghadapi perubahan zaman. Banyak stasiun radio kini juga hadir dalam bentuk streaming online, aplikasi mobile, hingga integrasi dengan platform seperti Spotify dan YouTube. Dengan begitu, radio tidak hanya bertahan tetapi juga beradaptasi dengan teknologi modern.

6. Peran dalam Situasi Darurat

Dalam situasi darurat atau bencana alam, radio sering menjadi media andalan untuk menyampaikan informasi penting. Keandalan radio dalam kondisi tanpa internet atau listrik menjadikannya salah satu sarana komunikasi paling vital.

Kesimpulan

Meski menghadapi tantangan dari platform digital, radio tetap memiliki relevansi di zaman sekarang. Dengan fleksibilitas, konten lokal, interaksi, dan kemampuannya beradaptasi, radio terus menjadi media yang dicintai banyak orang. Radio bukan hanya tentang nostalgia, tetapi juga tentang keberlanjutan dan kemampuan untuk tetap relevan di tengah arus perubahan teknologi.

Jadi, apakah Anda masih mendengarkan radio? Jika ya, Anda adalah bagian dari generasi yang menghargai medium klasik ini dalam bentuknya yang terus berkembang.

close
Pasang Iklan Disini