Iki Radio - Pemerintah Kota Probolinggo memperkuat implementasi program Sekolah Rakyat (SR) sebagai strategi terintegrasi untuk mempercepat pengentasan kemiskinan. Program ini tidak hanya berfokus pada pendidikan anak, tetapi juga menyasar pemberdayaan keluarga melalui kolaborasi lintas sektor.
Kepala
Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota
Probolinggo, Madihah, menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 (SR-T7)
di wilayahnya merupakan bagian dari program rintisan nasional yang langsung
direspons cepat oleh pemerintah daerah sejak awal peluncuran.
“Sejak
program ini disampaikan pemerintah pusat, kami langsung menindaklanjuti dengan
pengajuan dan penyediaan sarana prasarana. Alhamdulillah, Kota Probolinggo
termasuk dalam kategori rintisan awal,” ujar Madihah, dalam kunjungan
jurnalistik ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 di Kota Probolinggo, Jawa
Timur, Kamis (16/4/2026).
Ia menuturkan, konsep
“terintegrasi” dalam SR-T7 tidak hanya merujuk pada jenjang pendidikan yang
mencakup SMP dan SMA dalam satu lokasi, tetapi juga pada pendekatan
penyelesaian masalah secara menyeluruh melalui sinergi lintas perangkat daerah,
instansi vertikal, serta dukungan pemerintah pusat.
Dalam
implementasinya, Pemkot Probolinggo memanfaatkan rumah susun sederhana sewa
(rusunawa) sebagai asrama siswa, serta memanfaatkan gedung sekolah yang ada
untuk kegiatan belajar mengajar. Model ini memungkinkan program berjalan cepat
meski dengan keterbatasan waktu dan infrastruktur awal.
Madihah
mengungkapkan, pelaksanaan program dibagi dalam tiga fase utama, yakni
inisiasi, validasi, dan penguatan. Pada fase validasi, pemerintah bersama Badan
Pusat Statistik (BPS) dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) melakukan
verifikasi langsung ke lapangan untuk memastikan siswa yang diterima
benar-benar berasal dari keluarga desil satu dan dua atau kategori paling
miskin.
“Prosesnya
dilakukan door to door untuk memastikan ketepatan sasaran. Ini penting agar
intervensi yang diberikan benar-benar menyentuh kelompok yang membutuhkan,”
katanya.
Saat
ini, jumlah siswa aktif mencapai 91 orang dari total awal 100 siswa, dengan
tingkat putus sekolah (drop out) yang relatif rendah dibandingkan daerah lain.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pendidikan siswa, termasuk
pendampingan psikososial melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).
“Anak-anak
ini memiliki latar belakang yang kompleks. Sebagian bahkan menjadi tulang
punggung keluarga. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak bisa hanya
pendidikan formal, tetapi juga pendampingan mental dan sosial,” ujar Madihah.
Perubahan
signifikan terlihat dari sisi kepercayaan diri dan pola pikir siswa. Jika
sebelumnya banyak yang tidak memiliki harapan tinggi terhadap masa depan, kini
mereka mulai memiliki cita-cita dan optimisme yang lebih kuat.
“Dulu
ada yang bercita-cita sangat sederhana karena keterbatasan akses. Sekarang,
setelah mendapatkan pendidikan dan pendampingan, kepercayaan diri mereka tumbuh
dan cara pandang terhadap masa depan berubah,” ungkapnya.
Untuk
memastikan keberlanjutan setelah lulus, Pemkot Probolinggo juga menjalin kerja
sama dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan Universitas Negeri Surabaya
(UNESA) yang menyediakan peluang beasiswa bagi lulusan Sekolah Rakyat di Jawa
Timur. Selain itu, pemerintah juga membuka akses pelatihan keterampilan dan
menjajaki kemitraan dengan dunia usaha dan industri.
“Bagi
yang melanjutkan pendidikan tinggi sudah ada skema beasiswa. Sementara yang
tidak, kami arahkan ke pelatihan keterampilan dan peluang kerja melalui kerja
sama dengan berbagai pihak, termasuk program dari Kementerian Ketenagakerjaan,”
jelasnya.
Di
sisi lain, intervensi juga menyasar orang tua siswa. Dinas Sosial memberikan
pelatihan keterampilan seperti laundry dan pengolahan makanan, disertai
dukungan peralatan dan akses permodalan. Hingga saat ini, sekitar 60 dari 100
orang tua telah mengikuti pelatihan tersebut.
Langkah
ini bertujuan agar keluarga memiliki sumber penghasilan mandiri, sehingga anak
dapat fokus menjalani pendidikan tanpa harus menjadi tulang punggung keluarga.
“Pendekatan
kami dari hulu ke hilir. Tidak hanya anak yang dibina, tetapi orang tua juga
diberdayakan. Harapannya, pengentasan kemiskinan bisa dilakukan secara holistik
dan berkelanjutan,” kata Madihah.
Dengan berbagai capaian
tersebut, Sekolah Rakyat di Kota Probolinggo kini menjadi salah satu rujukan
bagi daerah lain yang ingin mengembangkan program serupa. Pemerintah
optimistis, model ini dapat melahirkan generasi unggul dari keluarga
prasejahtera dan menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia
Indonesia.






.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)















