Iki Radio - Rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) Tahun 2026 memasuki tahap penting dengan pelaksanaan ritual pengambilan Air Berkah di Umbul Jumprit, Desa Jumprit, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (30/5/2026).
Prosesi yang berlangsung sehari sebelum puncak perayaan Waisak di kawasan Candi Borobudur itu diikuti puluhan bhikkhu dan ratusan umat Buddha dari berbagai majelis. Ritual pengambilan air suci dimulai sekitar pukul 10.30 WIB dan berlangsung khidmat di kompleks mata air yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Waisak nasional.
Pengambilan Air Berkah menjadi salah satu simbol penyucian diri dalam ajaran Buddha sekaligus melengkapi rangkaian Waisak setelah sehari sebelumnya dilaksanakan pengambilan Api Dharma di Mrapen, Kabupaten Grobogan.
Dalam prosesi tersebut, para bhikkhu secara bergantian menuju sumber mata air Umbul Jumprit yang berada sekitar 25 meter dari altar utama. Dengan membawa kendi, mereka mengambil air dari mata air alami sambil melantunkan doa-doa suci.
Air yang telah ditampung kemudian dibawa kembali ke altar untuk didoakan bersama para bhikkhu dan umat Buddha sebelum diberangkatkan menuju Candi Mendut, Kabupaten Magelang.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung, Muhammad Soleh Mubin, mengatakan momentum Waisak menjadi pengingat pentingnya menjaga kerukunan dan kedamaian antarumat beragama di Indonesia.
Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan bangsa yang harus dijaga melalui pengamalan nilai-nilai agama secara konsisten dan penuh tanggung jawab.
Ia menegaskan bahwa kedamaian akan tercipta apabila setiap pemeluk agama menjalankan ajaran keyakinannya dengan baik serta menjunjung tinggi toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kalau kedamaian itu tercipta dari masing-masing penganut agama yang semuanya ada di Indonesia, maka kejayaan dan harga diri bangsa Indonesia akan menjadi cahaya yang menerangi kita semua,” ujar Soleh Mubin.
Muhammad Soleh juga menjelaskan makna simbolis penyalaan lilin panca warna dalam rangkaian Waisak yang mencerminkan semangat pengorbanan dan pengabdian untuk memberikan manfaat bagi sesama.
Menurutnya, nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran agama dapat menjadi fondasi bagi terciptanya kehidupan yang harmonis, damai, dan berkeadaban.
Sementara itu, Ketua DPD Walubi Jawa Tengah, Tanto Harsono, mengatakan pengambilan Air Berkah merupakan bagian integral dari persiapan puncak Tri Suci Waisak 2570 BE yang akan dipusatkan di kawasan Candi Borobudur.
Sebanyak 22 kendi Air Berkah disiapkan untuk dibawa ke Candi Mendut sebelum selanjutnya digunakan dalam prosesi sakral bersama Api Dharma, kitab suci, dan simbol-simbol keagamaan lainnya.
“Air Berkah ini akan disakralkan terlebih dahulu di Candi Mendut dan besok bersama Api Dharma serta kitab suci akan menjadi bagian dari prosesi puncak Waisak,” kata Tanto.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan Waisak tahun ini berjalan lancar serta mampu memperkuat semangat kebajikan, kasih sayang, dan kedamaian sebagaimana diajarkan Sang Buddha.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dari Temanggung, rombongan pembawa Air Berkah tiba di Candi Mendut, Kabupaten Magelang.
Setibanya di lokasi, Air Berkah langsung diterima oleh para Bhikkhu Sangha, panitia nasional Waisak, tokoh agama Buddha, serta Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Kementerian Agama, Nyoman Suriadarma.
Selanjutnya, air suci tersebut disakralkan melalui pembacaan paritta suci sebelum menjadi bagian dari prosesi puncak Tri Suci Waisak 2570 BE yang akan berlangsung di kawasan Candi Borobudur.
Perayaan Waisak tahun ini mengusung semangat penguatan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian, sekaligus menjadi momentum refleksi bagi umat Buddha untuk mengimplementasikan ajaran Buddha dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.












