Kecamatan Balerejo Gelar Sarasehan Budaya Damai Kampung Pesilat guna Cegah Konflik Antar Perguruan

Iki Radio – Pemerintah Kabupaten Madiun terus memperkuat komitmen penjagaan kondusivitas wilayah berbasis seni budaya dan olahraga. 

Melalui Pemerintah Kecamatan Balerejo, forum Sarasehan Implementasi Budaya Damai Kampung Pesilat melalui Paguyuban Kampung Pesilat sukses digelar di Pendopo Kecamatan Balerejo pada Kamis (1/10/2026). 

Kegiatan ini bertujuan merawat kerukunan sekaligus meminimalisir potensi konflik antar perguruan pencak silat.

Acara tersebut dihadiri sekitar 130 peserta, terdiri dari jajaran Forkopimcam/Muspika Balerejo, Kepala Desa, perwakilan Kepala Dusun (Kasun), Babinsa, Bhabinkamtibmas, pengurus PPNI, hingga jajaran ketua ranting dan pengurus dari 9 perguruan pencak silat se-Kecamatan Balerejo.

Camat Balerejo, Suci Wuryani, dalam pemaparannya menegaskan pentingnya analisis faktor internal dan eksternal dalam menyukseskan keberhasilan visi Madiun. Menurutnya, potensi besar pencak silat harus diarahkan menjadi modal sosial dan ekonomi daerah.

"Madiun merupakan bumi kandung tempat lahir dan berkembangnya belasan perguruan pencak silat besar. Di Balerejo sendiri ada sembilan perguruan yang berjalan lancar, damai, dan sejahtera. Keberadaan Perbup Nomor 48 Tahun 2025 tentang Kabupaten Madiun Kampung Pesilat Indonesia menjadi payung hukum dan identitas kuat kita," ujar Suci Wuryani.

Camat Balerejo menekankan perlunya kewaspadaan terhadap ancaman isu citra negatif akibat oknum, serta mendorong langkah konkrit seperti pembentukan paguyuban hingga tingkat desa, dialog berkala, dan aksi sosial gotong royong. 

"Mari kita buktikan bahwa Kampung Pesilat adalah kampung damai. Kita hilangkan ego sektoral, karena di atas warna baju sakral, kita semua adalah manusia yang dipenuhi pancaran sinar Ilahi," tambahnya.

Wakil Bupati Madiun, dr. Purnomo Hadi, yang hadir mendampingi Bupati Madiun, memberikan apresiasi atas kekompakan dan sinergi masyarakat serta jajaran Forkopimcam Balerejo. Dalam sambutannya yang hangat dan penuh keakraban, dr. Purnomo menekankan bahwa kondusivitas daerah merupakan kunci utama berjalannya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan warga.

"Suatu daerah ingin maju dan pembaruannya lancar karena dampaknya langsung pada kesejahteraan masyarakat. Kunci utamanya adalah terciptanya kondusivitas daerah," tutur Purnomo Hadi.

Lebih lanjut, Wakil Bupati Madiun memaparkan 4 Komponen Dasar penciptaan kondusivitas wilayah.

Yang pertama adalah penegakan hukum dan keamanan rormal, yang mencakup kehadiran aktif TNI-Polri (Babinsa dan Bhabinkamtibmas) serta penguatan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling).

Kehadiran pemerintah yang adil, adaptif, dan amanah, ditopang oleh regulasi Perda maupun Perbup (seperti Perbup No. 48 Tahun 2025 dan kebijakan turunan PP 16/2026). Peran aktif tokoh agama, tokoh masyarakat, dan komunitas pesilat. Mengingat dari sekitar 739.000 penduduk Kabupaten Madiun, sebanyak 57% (sekitar 422.000 jiwa) merupakan anggota perguruan pencak silat, maka kerukunan komunitas ini menjadi pondasi mutlak stabilitas daerah.

Serta penciptaan lapangan kerja melalui iklim investasi dan hilirisasi. Terbukti pada triwulan II tahun 2026, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Madiun mencapai 7,48%, tertinggi dalam 10 tahun terakhir dan berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur.

Di samping itu, dr. Purnomo Hadi turut mengapresiasi raihan prestasi 5 pesilat wanita asal Balerejo yang berhasil meraih Juara 3 Lomba Senam Kampung Pesilat Perwosi Kabupaten Madiun 2026. 

Sebagai wujud penghormatan pemerintah daerah terhadap warisan tradisi silat, Pemkab Madiun juga merencanakan pembangunan Monumen Kampung Pesilat di area Delta depan Pusat Pemerintahan Kabupaten Madiun sebagai simbol persatuan seluruh perguruan.(ir)

close
Pasang Iklan Disini