Iki Radio - Sebanyak 209 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Provinsi Riau telah menjalani proses verifikasi dan validasi. Dari jumlah tersebut, data 105 KDKMP telah dimasukkan ke Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa Merah Putih (SIMKOPDES).
Pemerintah Provinsi (Pemprov)
Riau terus mendorong agar hasil pemeriksaan lapangan yang telah dinyatakan
lengkap segera dicatat dalam sistem sehingga proses verifikasi dan validasi
tidak berhenti pada tahapan pemeriksaan.
Perkembangan tersebut menjadi
bagian dari evaluasi dalam pemantauan nasional yang diikuti Pemprov Riau secara
virtual dari Ruang Rapat Kediaman Sekretaris Daerah, Kota
Pekanbaru, Provinsi Riau, pada Minggu (20/9/2026).
Sekretaris Daerah Provinsi Riau,
Syahrial Abdi, mengatakan percepatan verifikasi dan validasi harus diikuti
dengan penginputan data secara konsisten agar perkembangan KDKMP di
masing-masing daerah dapat dipantau.
“Proses verifikasi dan validasi
terus kita percepat, termasuk memastikan hasil pemeriksaan yang sudah lengkap
dapat segera diinput sehingga data KDKMP di Riau tetap terbarui,” ujarnya.
Menurut Syahrial, koordinasi
dengan pemerintah kabupaten dan kota terus diperkuat, terutama untuk memastikan
kelengkapan data dan dokumen pendukung sebelum hasil verifikasi dan validasi
dimasukkan ke dalam SIMKOPDES.
“Jangan sampai hasil pemeriksaan
yang sudah dilakukan di lapangan berhenti begitu saja. Harus segera
ditindaklanjuti melalui penginputan data agar seluruh prosesnya dapat terus
bergerak,” katanya.
Kepala Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Riau, Taufik OH, mengatakan jumlah KDKMP
yang telah diverifikasi maupun dimasukkan ke SIMKOPDES masih terus bertambah
seiring dengan proses yang berjalan di daerah.
“Ini terus berprogres. Angka di
dalam SIMKOPDES terus berubah karena setiap daerah masih melakukan
penginputan,” jelas Taufik.
Untuk mempercepat proses
tersebut, tim provinsi yang melakukan pendampingan ke kabupaten dan kota
membawa perangkat kerja agar data dapat langsung dimasukkan ke dalam sistem
apabila dokumen pendukung telah dinyatakan lengkap dan memadai.
“Tim yang turun di lapangan
membawa laptop dan langsung melakukan input kalau data sudah dianggap bisa dan
memadai,” katanya.
Taufik mengatakan pola tersebut
dapat memangkas jeda antara pemeriksaan lapangan dan pencatatan dalam
SIMKOPDES. Langkah itu juga memudahkan pemerintah memantau perkembangan
masing-masing daerah serta menindaklanjuti kekurangan data yang masih
ditemukan.
“Setiap hasil verval yang sudah
lengkap kami dorong untuk segera diinput, sehingga prosesnya tidak menumpuk dan
perkembangan masing-masing daerah dapat terus dipantau,” ujarnya.








