Anik Sunyahni, Sang "Ratu Kutut Manggung" yang Dedikasikan Hidupnya untuk Pelestarian Seni Sindhen

Iki Radio – Nama Anik Sunyahni sudah tidak asing lagi di dunia karawitan dan pewayangan modern Indonesia. Pesinden kelahiran Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1976 ini dikenal luas lewat kepiawaiannya membawakan gending "Kutut Manggung", hingga publik menyematkan julukan ikonik "Ratu Kutut Manggung" kepadanya.

Lahir dari keluarga pencinta seni Jawa—dengan sang ayah, Atmowiyono, yang merupakan pemilik perangkat gamelan—bakat vokal Sunyahni sudah mengemuka sejak dini. Ia mulai mengasah teknik vokal karawitan dan tampil di atas panggung sebagai pesinden sejak usianya baru menginjak delapan tahun.

Karier profesionalnya melesat cepat. Saat berusia 14 tahun, Sunyahni sudah dipercaya mendampingi para dalang maestro tanah air, seperti Ki Anom Suroto dan Ki Mantep Sudarsono. Namanya kian melambung pada era 1990-an ketika ia merambah genre musik campursari, bergabung dengan kelompok Panitia Tetap (Pantap) Semarang, hingga mendapatkan kontrak dari stasiun televisi Indosiar.

Sepanjang perjalanan kariernya, Sunyahni tidak hanya tampil di berbagai panggung nasional, tetapi juga membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. Ia tercatat pernah menunjukkan kebolehan mendhalang dan nyindhen di Suriname, Slovakia, Republik Ceko, hingga Taiwan. Di dalam negeri, berbagai penghargaan bergengsi telah dikantonginya, termasuk kesempatan tampil di Gedung MPR/DPR dan bertemu langsung dengan Presiden Soeharto.

Di balik gemerlap panggung, kehidupan pribadinya tetap berakar kuat di tanah Jawa. Pada 4 Oktober 2012, ia melangsungkan pernikahan dengan Budianto Dian Tibi, warga Tarudan, Sewon, Bantul, yang digelar di Joglo Wisma Sunyahni, Kalasan, Sleman.

Di tengah gempuran modernisasi dan menurunnya minat masyarakat terhadap seni tradisi, komitmen Sunyahni terhadap karawitan tidak pernah surut. Ia aktif mewariskan keahlian serta Pemahaman nilai filosofis syair karawitan kepada generasi penerus, termasuk kepada kedua putrinya, Puti dan Monika, agar seni sindhen tetap lestari dan dicintai.

 

close
Pasang Iklan Disini