Menelisik Sejarah Lahirnya Polisi Wanita di Indonesia

Iki Radio — Peran perempuan dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia tidak hanya terukir di medan pertempuran, melainkan juga dalam penegakan hukum dan keutamaan menjaga ketertiban masyarakat. 

Sejarah mencatat bahwa lahirnya Polisi Wanita (Polwan) di tanah air dipelopori oleh enam perempuan gigih asal Minangkabau pada masa-masa krusial mempertahankan kemerdekaan.


Awal Pembentukan dan Kebutuhan Darurat

Lahirnya Polwan berawal dari situasi darurat di Bukittinggi, Sumatera Barat, menjelang Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948. Gelombang pengungsian masyarakat yang menghindari zona pertempuran menciptakan kebutuhan mendesak di garis pemeriksaan. 

Polisi pria saat itu mengalami kesulitan dan keterbatasan etika ketika harus melakukan pemeriksaan fisik terhadap pengungsi wanita.

Guna mengatasi hambatan tersebut, Organisasi Kepolisian Negara mengambil langkah strategis dengan membuka pendidikan inspektur polisi khusus wanita di Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukittinggi. Dari proses seleksi, terpilih enam remaja perempuan Minangkabau sebagai perintis:

  1. Mariana Saanin
  2. Nelly Pauna
  3. Rosmalina Loekman
  4. Dahniar Sukotjo
  5. Djasmainar
  6. Rosnalia Taher

Momen bersejarah berdirinya kelas pendidikan kepolisian wanita pada 1 September 1948 tersebut selanjutnya secara resmi ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Polwan hingga saat ini.


Diterpa Perang hingga Kelulusan Pertama

Perjalanan pendidikan keenam srikandi ini tidak berjalan mulus. Meletusnya Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948 memaksa aktivitas pendidikan di SPN Bukittinggi terhenti sementara karena para siswa dan instruktur harus ikut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan.

Setelah situasi keamanan terkendali pasca-pengakuan kedaulatan, pelatihan kepolisian bagi keenam calon inspektur ini dilanjutkan kembali pada 19 Juli 1950 di SPN Sukabumi, Jawa Barat. Penyesuaian kurikulum dan penataan organisasi kepolisian modern ditempuh guna memantapkan keahlian teknis mereka.

Perjuangan tersebut membuah hasil pada 1 Mei 1951, di mana keenam peserta secara resmi dilantik sebagai Inspektur Polisi wanita pertama di Indonesia. 

Pasca lulus, mereka langsung diterjunkan ke penugasan awal di Komando Kepolisian Kota Besar Jakarta untuk menangani penegakan hukum, perlindungan, serta kasus kejahatan yang melibatkan perempuan dan anak-anak—sebuah fondasi peran yang terus berkembang pesat hingga Kepolisian Negara Republik Indonesia saat ini.

close
Pasang Iklan Disini