Iki Radio — Perumda BPR Bank Daerah Kabupaten Madiun terus memantapkan langkahnya dalam menerapkan fondasi Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) yang terintegrasi.
Penerapan GRC ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan instrumen strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis, mitigasi risiko, serta mendorong pertumbuhan kinerja perusahaan yang sehat.
Penguatan GRC tersebut menjadi bagian integral dari proses transformasi perusahaan yang saat ini tengah berganti status hukum menjadi PT BPR Bank Perekonomian Rakyat Bank Daerah Kabupaten Madiun (Perseroda).
Seluruh persyaratan legal telah dipenuhi dan kini perusahaan sedang menunggu penerbitan izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Utama Perumda BPR Bank Daerah Kabupaten Madiun, Velly Murdianto, menjelaskan bahwa momentum transformasi ini diusung melalui tema besar "The Perseroda Leap: Keberlanjutan Bank Madiun melalui Intelligent GRC".
“Momentum ini kami harapkan menjadi lompatan baru. Ketika resmi menjadi Perseroda, kami insya Allah bisa lebih lincah dalam berbisnis dan berkolaborasi dengan berbagai pihak tanpa meninggalkan fungsi utama kami sebagai bank milik pemerintah daerah,” ujar Velly, Selasa (28/7/2026).
Velly menekankan bahwa GRC di Bank Madiun telah melekat dalam strategi bisnis harian, didukung oleh optimalisasi divisi kepatuhan dan manajemen risiko yang dikawal bersama Direktur Kepatuhan, Eko Supriyono.
Di tengah dinamika ekonomi dan penyesuaian standar akuntansi keuangan, penerapan GRC terbukti mampu menjaga kualitas portofolio bisnis bank.
Diantaranya sekitar 79% dari total penyaluran kredit difokuskan pada sektor produktif, sedangkan kredit konsumtif berada pada porsi sekitar 20%. Bermitra dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) sebagai off-taker hasil panen.
Dari portofolio kredit sekitar Rp192 miliar, sebanyak Rp21 miliar disalurkan kepada petani tebu dengan tingkat kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) terjaga di angka 0%.
Program Kurma Manis (Kredit Rakyat Maju Mantap dan Istimewa) hadir untuk memberikan akses pembiayaan yang sehat bagi pelaku UMKM dan pedagang kecil sekaligus membebaskan mereka dari jerat rentenir.
Berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan Pemkab Madiun guna memitigasi risiko iklim dan operasional pada sektor pertanian lokal.
Dalam aspek operasional, Bank Madiun menerapkan kerangka pengawasan menyeluruh berbasis three lines of defense. Mulai dari Unit Operasional,Divisi Kepatuhan dan Manajemen Risiko (penerbitan opini risiko dan compliance review sebelum & sesudah pencairan kredit), dan Unit Audit Internal (penerapan early warning system, pemantauan berkala, dan strategi pencegahan fraud).
Berdasarkan hasil audit internal, tingkat efektivitas penerapan pengendalian internal perusahaan mencatatkan skor 82% dengan kategori Efektif.
Menatap masa depan, Bank Madiun sedang mengembangkan model integrasi GRC berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan digitalisasi sistem pelaporan melalui dashboard real-time.
Kombinasi antara GRC terintegrasi, digitalisasi, dan AI ini telah memberikan dampak nyata pada kinerja keuangan perusahaan tahun ini, di mana total aset meningkat, laba tumbuh sekitar 7,9%, efisiensi biaya tetap terkendali, dan posisi likuiditas berada dalam kondisi aman.
“Kami ingin seluruh keputusan bisnis benar-benar berbasis
data yang valid. Itulah arah penguatan Intelligent GRC yang sedang kami bangun
untuk memastikan keberlanjutan Bank Madiun ke depan,” tutup Velly.(tb/ir)








