Iki Radio - Tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat seiring menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), harga minyak kembali menembus US$100 per barel, dan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun mendekati lima persen.
![]() |
Seorang warga menukarkan uang rupiah layak edar pada layanan kas keliling Bank Indonesia di Pasar Baru Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (27/8/2026). Bank Indonesia menyediakan layanan tersebut untuk memudahkan masyarakat, khususnya pedagang, menukarkan uang pecahan kecil, menarik uang lusuh atau rusak, serta mengedukasi masyarakat agar merawat fisik Rupiah. (ANTARA FOTO/Akbar Tado/tom)
Kondisi tersebut menunjukkan
Indonesia perlu menyiapkan strategi yang lebih berlapis untuk menghadapi
periode harga modal global yang lebih mahal. Menjaga rupiah, menurut Kepala
Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, tidak cukup hanya
mengandalkan kenaikan atau penurunan BI Rate.
Menurutnya, tantangan Indonesia
bukan semata-mata arah suku bunga The Fed, tetapi perubahan clearing price of capital global yang berpotensi berlangsung lebih lama. Jika suku
bunga global kembali meningkat, tekanan terhadap negara berkembang dapat muncul
melalui penguatan dolar sekaligus penyesuaian harga berbagai instrumen
modal. “Higher-for-longer berarti bunga tidak turun. Yang perlu mulai kita
antisipasi sekarang adalah kemungkinan bunga global justru harus naik lagi.
Kalau itu terjadi, tekanan terhadap emerging markets akan datang bukan hanya melalui dolar, tetapi juga
melalui repricing seluruh harga modal global,” ujar Fakhrul, dalam
keterangannya, Senin (14/9/2026).
Menurut dia, BI Rate tetap
penting sebagai jangkar kebijakan moneter. Namun, tekanan terhadap rupiah,
likuiditas domestik, arus modal, dan inflasi akibat kenaikan harga minyak
memiliki sumber persoalan yang berbeda sehingga tidak semuanya tepat direspons
dengan instrumen suku bunga. “BI Rate tetap merupakan jangkar moneter. Tetapi
persoalan rupiah, likuiditas domestik, capital flow dan inflasi akibat minyak
tidak seluruhnya mempunyai penyakit yang sama. Karena itu obatnya juga tidak
harus satu,” katanya.
Salah satu instrumen yang dinilai
dapat menyerap sebagian tekanan global adalah pasar Surat Utang Negara (SUN).
Ketika yield US Treasury meningkat, Fakhrul menilai yield SUN perlu diberi
ruang untuk melakukan price discovery agar daya tarik aset Indonesia tetap terjaga.
Trimegah melihat yield SUN 10
tahun dapat bergerak menuju kisaran 7,3-7,5% jika diperlukan untuk mencapai market-clearing yield.
“Kenaikan yield SUN menuju 7,3-7,5% tidak harus dilihat sebagai kegagalan
menjaga pasar. Justru yield yang menemukan clearing price dapat menjadi salah
satu guardrail bagi rupiah karena membantu mempertahankan daya tarik aset
Indonesia ketika yield global naik,” ujarnya.
Menurut Fakhrul Fulvian,
mempertahankan yield domestik terlalu rendah ketika risk-free rate global
meningkat justru dapat mengurangi insentif investor asing untuk menempatkan
dana di pasar Indonesia. Karena itu, sebagian penyesuaian dinilai lebih sehat
apabila terjadi melalui pasar obligasi daripada seluruh tekanan harus diserap
oleh nilai tukar. “Kalau yield tidak diperbolehkan melakukan adjustment, tekanan
akhirnya dapat berpindah ke rupiah. Saya lebih memilih sebagian adjustment
terjadi secara sehat melalui bond market daripada seluruh shock harus diserap
oleh currency,” katanya.
Fakhrul sebelumnya memperkirakan
Indonesia membutuhkan sekitar US$11 miliar capital inflow untuk membantu
menjaga stabilitas neraca pembayaran dan rupiah. Dalam situasi persaingan
memperoleh modal global yang semakin ketat, daya tarik relatif aset berdenominasi
rupiah menjadi semakin penting.
Meski menghadapi tekanan dari
kenaikan harga minyak, tingginya yield US Treasury, dan sikap The Fed yang
lebih hawkish, Fakhrul menilai pelemahan rupiah dari level saat ini masih dapat
dijaga agar tetap terbatas jika respons kebijakan dilakukan secara tepat dan
konsisten. “Saya lihat potensi pelemahan rupiah hanya sampai ke 17.800,”
ujarnya.
Fakhrul menilai Indonesia saat
ini memiliki perangkat kebijakan yang lebih beragam dibandingkan periode
tekanan eksternal sebelumnya. Bank Indonesia (BI) tidak hanya memiliki BI Rate,
tetapi juga instrumen intervensi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward
(DNDF), pengelolaan likuiditas, instrumen pasar uang dan valas, serta
pengembangan Local Currency Transaction (LCT). “Saya tidak melihat
kondisi sekarang sebagai alasan untuk menjadi terlalu bearish terhadap rupiah.
Tekanan memang ada, tetapi pelemahannya dari level saat ini seharusnya relatif
terbatas apabila policy reaction
function kita tepat,” katanya.
Ia menekankan, strategi tersebut
bukan berarti mempertahankan rupiah pada level tertentu dengan segala cara.
Yang lebih penting adalah memastikan setiap tekanan diserap oleh instrumen dan
pasar yang sesuai dengan sumbernya.
Jika tekanan berasal dari
kenaikan yield global, sebagian penyesuaian dapat terjadi melalui yield SUN.
Sementara volatilitas berlebihan di pasar valas dapat diredam melalui
intervensi BI. Adapun kebutuhan dolar yang bersifat struktural perlu diatasi
melalui penguatan LCT, ekspor, investasi langsung, dan sumber pembiayaan
eksternal lainnya. “Kita jangan meminta BI Rate menyelesaikan semuanya,”
tegasnya.
Pengembangan Local
Currency Transaction
Fakhrul juga melihat kondisi
global saat ini sebagai momentum untuk mempercepat pengembangan LCT.
Menurutnya, kerja sama transaksi menggunakan mata uang lokal tidak cukup hanya
mengejar peningkatan nominal transaksi, tetapi perlu berkembang menjadi
ekosistem likuiditas dan pembiayaan yang lebih dalam.
Indonesia telah memperluas LCT
dengan Singapura untuk transaksi berjalan, investasi langsung, dan pembayaran
lintas negara dalam rupiah dan dolar Singapura. BI juga memperkuat mekanisme
renminbi melalui Renminbi Clearing Bank.
Namun, menurut Fakhrul, tahap
berikutnya harus mencakup likuiditas, lindung nilai, pembiayaan perdagangan,
hingga pembiayaan investasi. “LCT generasi pertama berbicara mengenai
settlement. LCT berikutnya harus berbicara mengenai liquidity, hedging, trade
finance dan investment financing,” ujarnya.
Tujuannya bukan menggantikan
dolar AS, melainkan mengurangi ketergantungan pada satu sumber likuiditas
eksternal. “Saya tidak melihat LCT sebagai de-dollarization. Saya melihatnya
sebagai monetary redundancy. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia
tidak seharusnya hanya mempunyai satu jalan untuk memperoleh likuiditas
eksternal,” katanya.
Karena itu, Indonesia perlu
memperdalam pasar IDR/CNY, IDR/JPY, IDR/SGD, dan IDR/MYR yang didukung direct
quotation, penyedia likuiditas, swap, forward, serta fasilitas pembiayaan
perdagangan.
Keberhasilan LCT, menurut
Fakhrul, juga perlu diukur lebih dari sekadar nilai transaksi. Indikatornya
mencakup seberapa besar transaksi yang tidak lagi membutuhkan komponen dolar
AS, tingkat bid-ask spread, biaya lindung nilai, serta seberapa banyak
perdagangan dan investasi yang dapat dibiayai langsung menggunakan mata uang
mitra.
Pertahanan rupiah juga tidak
dapat sepenuhnya dibebankan kepada sektor moneter. Kenaikan harga minyak
meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi, sementara tingginya yield
global membuat biaya memperoleh modal eksternal semakin mahal.
Karena itu, pemerintah perlu
menjalankan kebijakan yang secara bersamaan mengurangi kebutuhan valuta asing
secara struktural dan meningkatkan pasokannya. “BI dapat membeli waktu dan
meredam volatilitas. Tetapi pemerintah yang pada akhirnya harus memperbaiki
struktur kebutuhan dan pasokan valuta asing Indonesia,” ujar Fakhrul.
Menurutnya, kebijakan energi
seperti B50, peningkatan kapasitas produksi domestik, penguatan ekspor,
percepatan investasi langsung asing (FDI), serta kebijakan yang menurunkan
risiko berusaha menjadi semakin penting.
Indonesia juga perlu memperluas
sumber pembiayaan eksternal bagi perusahaan domestik, termasuk melalui
perbankan asing dari Jepang, China, Korea, dan Singapura. “Kita perlu bergerak
dari ketergantungan pada portfolio inflow menuju struktur capital flow yang
lebih berimbang antara portfolio, FDI dan private-sector financing,” kata
Fakhrul Fulvian.
Fakhrul menilai respons Indonesia
terhadap perubahan kondisi global perlu dibangun dalam beberapa lapisan. BI
Rate tetap berfungsi sebagai jangkar moneter, intervensi valas menjaga rupiah
dari pergerakan yang tidak teratur, sementara SUN diberikan ruang untuk
menemukan harga. Pada saat yang sama, LCT dapat mengurangi konsentrasi
kebutuhan dolar dan pemerintah memperbaiki fundamental neraca pembayaran
melalui investasi, ekspor, dan penguatan kapasitas domestik.
Menurutnya, Indonesia tidak
mungkin mempertahankan seluruh harga sekaligus ketika biaya modal global
meningkat. “Indonesia tidak mungkin menginginkan pada saat bersamaan suku bunga
semakin murah, yield obligasi tetap rendah, rupiah terus menguat dan capital
inflow tetap besar ketika harga modal global sedang naik. Salah satu harga
harus melakukan adjustment,” ujarnya.
Ia menegaskan, koordinasi
kebijakan tidak berarti mengurangi independensi BI. Setiap institusi justru
perlu menggunakan instrumen yang paling sesuai dengan sumber tekanan. “Yang
perlu kita jaga bukan seluruh harga, tetapi sistemnya. Biarkan bond market
menemukan harga, guardrail rupiah dari volatilitas berlebihan, diversifikasi
sumber likuiditas eksternal melalui LCT, dan gunakan kebijakan pemerintah untuk
memperbaiki fundamental neraca pembayaran,” kata Fakhrul.
Menurut dia, tekanan dari The Fed
yang semakin hawkish sekaligus menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak dapat
menentukan harga uang dunia. Namun, Indonesia masih memiliki ruang untuk
membangun sistem keuangan eksternal yang lebih tahan terhadap perubahan
global. “Fed yang hawkish adalah pengingat bahwa Indonesia tidak dapat
menentukan harga uang dunia. Yang dapat kita lakukan adalah membangun sistem
yang membuat setiap perubahan harga uang dunia tidak otomatis menjadi tekanan
besar terhadap rupiah," tutup Fakhrul Fulvian.








