Menjadi Pamong, Raihanah Wariskan Nilai Kebersamaan kepada Generasi Paskibraka

Iki Radio - Tiga tahun setelah mengemban tugas sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Pusat 2023, Raihanah Az Zahra kini kembali ke lingkungan Paskibraka dengan peran berbeda. Perwakilan Provinsi Aceh itu dipercaya menjadi pengasuh atau pamong bagi para Calon Paskibraka (Capaska) 2026.


Raihanah mendampingi mereka menjalani proses pembentukan karakter hingga menjelang pengibaran bendera pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi Raihanah, suasana yang dirasakan saat menjadi pamong tidak jauh berbeda dengan ketika ia menjadi peserta. Rasa bangga, antusias, dan kesempatan bertemu dengan anak-anak terbaik dari seluruh Indonesia kembali ia rasakan, meski kini berada di sisi pembimbing.

"Kurang lebih pengalaman dan perasaannya mirip. Rasanya seru, senang bisa bertemu banyak teman, kenalan dengan orang-orang baru, dan belajar banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui. Saya bersyukur bisa mendapat pengalaman yang tidak mudah diakses oleh kebanyakan anak SMA," ujar Raihanah di Pemusatan Pembinaan Paskibraka Tingkat Pusat 2026 di Depok, Selasa (4/8/2026).

Pengalaman tersebut, menurut Raihanah, menjadi bekal berharga untuk membimbing para Capaska. Ia pun mengingatkan generasi muda agar memanfaatkan setiap kesempatan yang datang, bukan hanya di Paskibraka, tetapi dalam berbagai bidang kehidupan.

"Setiap kesempatan emas harus dinikmati. Baik suka maupun dukanya, semuanya akan memberikan pelajaran yang berharga," katanya.

Sebagai pamong, Raihanah mengakui tantangan yang dihadapi berbeda dengan saat menjadi Capaska. Selain harus menyesuaikan diri dengan lokasi pendidikan dan pelatihan yang baru, ia juga memperhatikan waktu istirahat peserta yang menjadi lebih terbatas karena jarak antarfasilitas yang lebih jauh dibandingkan lokasi pelatihan sebelumnya di Cibubur.

Namun, tantangan terbesar justru datang dari proses membangun kebersamaan di antara para peserta yang berasal dari latar belakang, budaya, dan karakter yang berbeda.

Raihanah mengenang, saat menjadi Capaska 2023, ia juga harus belajar menyatukan berbagai perbedaan agar seluruh anggota mampu bergerak sebagai satu tim yang solid pada hari pelaksanaan pengibaran bendera.

"Tantangannya adalah bagaimana menyatukan semuanya menjadi satu hati, satu raga, satu jiwa, padahal setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Kami memiliki target waktu yang sama menuju 17 Agustus, sehingga semuanya harus kompak," tuturnya.

Pengalaman itu kini menjadi bekal untuk mendampingi Capaska 2026. Menurutnya, dinamika antarpeserta merupakan hal yang wajar. Sejak hari pertama pelatihan, perbedaan sifat dan kebiasaan kerap memunculkan gesekan di antara mereka.

Alih-alih langsung mengambil alih penyelesaian persoalan, para pamong justru mendorong peserta untuk belajar menyelesaikan konflik secara mandiri melalui musyawarah.

"Kami menyediakan perangkat yang dipimpin oleh peserta sendiri untuk membantu menyelesaikan persoalan di antara mereka. Sebelum pamong turun tangan, kami ingin mereka belajar bermusyawarah dan mencari solusi bersama," jelasnya.

Pendekatan tersebut dilakukan agar para Capaska tidak hanya berhasil menjalankan tugas sebagai pengibar bendera, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang matang ketika kembali ke daerah masing-masing.

"Kami ingin setelah keluar dari sini mereka benar-benar siap menghadapi tantangan kehidupan, mampu menyelesaikan masalah dengan baik, dan menjadi teladan bagi teman-teman di sekolah maupun masyarakat," katanya.

Menutup wawancara, Raihanah menyampaikan pesan optimistis kepada seluruh masyarakat Indonesia. Menurutnya, masa depan bangsa berada di tangan rakyat yang terus menjaga semangat persatuan dan tidak kehilangan harapan terhadap Indonesia.

"Jangan pernah putus asa terhadap negara kita. Kemajuan dan tetap merdekanya Indonesia ada di tangan kita sendiri sebagai rakyat," pungkasnya.

 

close
Pasang Iklan Disini