Iki Radio - Pemerintah Kabupaten Madiun, menggelar wayang kulit bersama dalang Ki Cahyo Kuntadi, di Alun Alun Reksogati Caruban, Jum'at (24/7/2026).
Pagelaran wayang dalam rangka Hari Jadi ke 458 Kabupaten Madiun ini, mengambil lakon "Semar Mbangun Khayangan".
Lakon Semar Mbangun Khayangan adalah salah satu kisah pewayangan Jawa yang sangat populer dan syarat akan makna filosofis, sosial, dan spiritual.
Secara garis besar, lakon ini bukan bercerita tentang Semar yang membangun istana/kerajaan megah secara fisik di langit (Khayangan), melainkan tentang proses perbaikan moral, ketentraman, dan keadilan dalam hati manusia serta jiwa pimpinan negara.
Cerita berawal saat Kerajaan Amarta (tempat para Pandawa) sedang tertimpa musibah, wabah penyakit, bencana alam, dan ketidakpastian politik.
Di saat yang sama, Semar Badranaya (pengasuh sekaligus pamomong para Pandawa) prihatin melihat kondisi tersebut dan memutuskan untuk "membangun khayangan".
Namun, niat Semar ini disalahartikan oleh para tokoh.
Prabu Kresna dan Para Pandawa, mengira Semar menjadi sombong/lupa diri karena orang kecil (punokawan) ingin membangun khayangan menyaingi para dewa. Prabu Kresna bahkan sempat ingin menghalangi atau menghukum Semar.
Para Dewa (Batara Guru), terusik dan merasa terancam karena menganggap tindakan Semar melangkahi wewenang dewa.
Semar mengutus anak-anaknya (Petruk, Gareng, Bagong) untuk meminta pusaka-pusaka keramat milik Pandawa (seperti Jamus Kalimasada) sebagai syarat "pembangunan" tersebut.
Pandawa menolak, sehingga terjadilah perselisihan antara anak-anak Semar dan para Pandawa.
Dalam perselisihan ini, anak-anak Semar secara ajaib tidak bisa dikalahkan, menunjukkan bahwa kebenaran dan niat tulus Semar berada di pihak yang benar.
Setelah melalui berbagai kesalahpahaman dan pertarungan, Semar akhirnya menjelaskan maksud sebenarnya di hadapan Prabu Kresna, para Pandawa, dan para Dewa.
Khayangan yang dimaksud Semar adalah "Khayangan Jiwa" (Hati nurani manusia).
Mbangun khayangan berarti pembersihan diri memperbaiki watak dan jiwa para pemimpin (Pandawa) agar kembali jujur, adil, bijaksana, dan peduli pada rakyat kecil (wong alit).
Menata kembali tata pemerintahan agar negara kembali makmur, aman, dan tenteram (gemah ripah loh jinawi).
Mengingatkan para raja/penguasa bahwa kekuasaan adalah amanah, dan kesombongan hanya akan membawa kehancuran.
Setelah para Pandawa menyadari kekhilafan mereka dan kembali menata jiwa serta kepemimpinannya, bencana di Kerajaan Amarta pun sirna, dan kedamaian kembali terwujud.
Dalam cerita ini, tokoh Semar sebagai simbol rakyat kecil sekaligus manifestasi ketuhanan (Ismaya) yang menjadi pengingat nurani bagi para penguasa.
Khayangan adalah ketenangan batin, keadilan sosial, dan tatanan moral yang luhur.
Dari cerita ini dapat diambil pesan bahwa kesejahteraan suatu bangsa tidak diukur dari megahnya bangunan fisik, melainkan dari keluhuran budi pekerti para pemimpinnya dan kepedulian mereka terhadap rakyat kecil.(ir)








