Inflasi Juni 2026 Tetap Terkendali, Bank Indonesia Optimistis Sesuai Sasaran

Iki Radio - Laju inflasi Indonesia pada Juni 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan, yakni 2,5±1 persen. Kondisi tersebut mencerminkan terjaganya stabilitas harga di tengah dinamika ekonomi global yang masih diwarnai tingginya harga energi dan sejumlah komoditas dunia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tercatat sebesar 3,34 persen, masih berada dalam rentang target yang ditetapkan pemerintah bersama Bank Indonesia.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, inflasi yang tetap terjaga merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia yang didukung sinergi erat dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

"Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah, baik melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) maupun Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional," ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Jumat (3/7/2026).

Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen sepanjang 2026 hingga 2027 seiring kuatnya koordinasi kebijakan dan efektivitas langkah-langkah pengendalian inflasi.

Pada komponen inflasi inti, tekanan harga juga masih relatif stabil. Inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,22 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi inti meningkat menjadi 2,76 persen (yoy), dari sebelumnya 2,59 persen (yoy).

Menurut Bank Indonesia, perkembangan tersebut dipengaruhi oleh masih tingginya harga komoditas global, meskipun ekspektasi inflasi domestik tetap terjaga dengan baik.

Sementara itu, kelompok volatile food atau komponen harga pangan bergejolak masih menunjukkan kondisi yang terkendali. Inflasi kelompok ini pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,14 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,22 persen (mtm).

Komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi volatile food antara lain bawang merah, bawang putih, dan beras. Kenaikan harga dipicu oleh menurunnya produksi di sejumlah daerah sentra, meningkatnya biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya.

Meski demikian, secara tahunan inflasi volatile food justru menurun menjadi 5,58 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi Mei 2026 sebesar 6,24 persen (yoy).

Bank Indonesia menilai kondisi tersebut menunjukkan efektivitas berbagai langkah pengendalian inflasi pangan yang dilakukan bersama pemerintah melalui TPIP, TPID, serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Di sisi lain, kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah mengalami peningkatan inflasi. Pada Juni 2026, kelompok ini mencatat inflasi sebesar 1,41 persen (mtm), meningkat dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,52 persen (mtm).

Peningkatan tersebut terutama dipicu oleh naiknya harga bensin serta tarif angkutan udara, seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan avtur akibat tingginya harga energi global.

Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices mencapai 3,42 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,07 persen (yoy).

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter serta koordinasi bersama pemerintah guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Melalui sinergi yang terus diperkuat, inflasi diharapkan tetap berada dalam kisaran sasaran sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi global.

close
Pasang Iklan Disini