Iki Radio — Harga telur ayam di tingkat peternak di Kabupaten Madiun kembali mengalami penurunan drastis hingga menyentuh kisaran Rp20.000 per kilogram.
Kondisi ini membuat para peternak lokal kian tertekan dan menjerit rugi, lantaran harga jual di pasar sudah berada jauh di bawah biaya produksi harian, sementara harga pakan ternak justru terus melambung tinggi.
Situasi ini salah satunya dirasakan oleh Suciani, seorang peternak ayam petelur asal Desa Ketandan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.
Ia mengungkapkan bahwa pendapatan yang diterima peternak saat ini sudah tidak mampu lagi menutup biaya operasional harian, terutama bagi mereka yang terpaksa menjual hasil panennya melalui pihak ketiga atau pengepul.
“Kalau dijual langsung ke toko, kami masih bisa dapat sekitar Rp20.000 per kilogram. Tapi kalau lewat pengepul, harganya bisa jauh lebih rendah lagi. Dengan harga seperti ini, jelas kami rugi,” ujar Suciani saat ditemui pada Jumat (3/7/2026).
Suciani membeberkan bahwa harga telur bahkan sempat merosot tajam hingga menyentuh angka Rp17.700 per kilogram, sebelum akhirnya perlahan merangkak naik ke posisi Rp20.000.
Meski ada sedikit kenaikan, nominal tersebut dinilai masih sangat jauh dari kata ideal agar usaha peternakan rakyat bisa tetap bernapas tanpa menanggung kerugian.
Menurut kalkulasi peternak, harga telur di tingkat peternak setidaknya harus berada di angka Rp24.000 per kilogram agar bisa menutup modal produksi.
“Setiap hari ya kami nombok. Kalau terus-terusan seperti ini, tentu sangat berat bagi peternak kecil,” keluhnya.
Ia juga menyoroti kebijakan Harga Pokok Penjualan (HPP) telur ayam yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Menurutnya, regulasi tersebut belum pernah benar-benar terealisasi dan dirasakan dampaknya oleh para peternak di akar rumput.
“HPP itu sampai sekarang hanya jadi patokan di atas kertas saja. Faktanya, kami di lapangan tetap harus mengikuti harga riil yang dibentuk oleh mekanisme pasar,” ungkap Suciani.
Anjloknya harga telur kali ini dipicu oleh akumulasi dua faktor utama, penurunan daya beli dan melonjaknya biaya input produksi.
Memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, konsumsi masyarakat terhadap telur ayam biasanya mengalami penurunan musiman. Akibatnya, stok telur yang melimpah di tingkat peternak tidak terserap secara maksimal oleh pasar.
“Permintaan pasar turun, sementara produksi telur tetap banyak. Akibatnya harga terus ditekan ke bawah,” tuturnya.
Ironisnya, di saat harga jual hancur, beban biaya produksi justru semakin membengkak akibat kenaikan harga pakan yang ugal-ugalan. Dalam dua bulan terakhir saja, harga pakan konsentrat dilaporkan melonjak dari Rp390.000 menjadi Rp437.500 per sak.
“Kenaikannya memang bertahap, tapi kalau dihitung dengan total kebutuhan pakan setiap hari, dampaknya sangat terasa. Pakan justru naik gila-gilaan saat harga telur sedang jatuh,” tambahnya.
Melihat situasi yang tidak berpihak ini, Suciani meminta pemerintah untuk mengubah fokus strategi.
Daripada sibuk mengintervensi harga telur yang telanjur dikontrol mekanisme pasar, pemerintah diharapkan bisa lebih fokus menjaga stabilitas harga pakan ternak dan mendistribusikan subsidi secara merata.
Selama ini, ia mengaku belum pernah menerima bantuan atau subsidi pakan dalam bentuk apa pun, termasuk jagung yang menjadi bahan baku utama.
“Kalau harga pakan bisa ditekan dan dikontrol, kami masih punya kesempatan untuk bertahan. Tapi kalau pakan naik terus dan harga telur tetap rendah, lama-lama peternak kecil akan habis dan gulung tikar,” tegasnya.
Saat ini, Suciani mengelola sekitar 1.600 ekor ayam petelur dengan kapasitas produksi harian mencapai 75 hingga 80 kilogram telur. Ia hanya bisa berharap agar kondisi pasar bisa segera pulih dan berpihak pada nasib peternak mandiri.
“Harapan kami sederhana, usaha yang sudah berjalan bertahun-tahun ini bisa tetap jalan. Kalau kondisinya tidak berubah, bukan tidak mungkin banyak peternak yang memilih menutup kandangnya karena sudah tidak sanggup lagi menanggung kerugian,” pungkasnya.(ir)








