Iki Radio — Sinden kondang asal Kediri, Niken Salindry, berhasil membius ribuan pasang mata yang memadati Alun-Alun Reksogati Caruban pada Jumat (24/7/2026) malam.
Kehadirannya dalam pagelaran wayang kulit bersama dalang ternama Ki Cahyo Kuntadi menjadi salah satu magnet utama dalam panggung peringatan Hari Jadi Ke-458 Kabupaten Madiun.
Tampil energik pada sesi Limbukan, pedangdut sekaligus sinden muda ini membawakan beberapa tembang hits.
Suasana semakin pecah saat Niken melantunkan lagu berjudul "Negoro Angin", yang langsung disambut antusias oleh penonton dengan gemuruh sing-along di seluruh penjuru alun-alun.
Penampilan Niken Salindry benar-benar menghidupkan suasana pertunjukan wayang kulit yang mengambil lakon “Semar Mbangun Khayangan” itu. Kombinasi seni tradisi dan hiburan populer yang dibawakannya sangat luar biasa.
Pemilik nama lengkap Dimas Niken Salindry ini lahir di Kediri pada 29 Juni 2008. Darah seni mengalir kuat dari sang ayah, Ki Degleng Gondosupono, seorang dalang kondang, dan ibunya, Wiwin Arumita.
Perjalanan karier Niken terbilang istimewa. Usia 2 tahun Niken mulai mengenal dan meniti karier di dunia pesindenan. Usia 4 tahun sudah dipercaya tampil dalam pementasan wayang kulit profesional yang dipimpin oleh ayahnya.
Tahun 2023 namanya makin meroket secara nasional setelah membawakan ulang (cover) lagu "Mangku Purel" ciptaan Nurbayan versi campursari hingga melesat ke posisi 7 Trending YouTube.
Kualitas vokal dan daya pikat Niken di atas panggung tidak perlu diragukan lagi.
Pada tahun 2023, ia sukses menyabet penghargaan sebagai Penyanyi Cover Lagu Terambyar pada ajang Ambyar Awards MNCTV lewat lagu "Kalih Welasku" ciptaan Denny Caknan, Soepardi Aye, dan Banyu Onyonk.
Video kolaborasinya bersama Lala Atika saat membawakan lagu tersebut di kanal YouTube Kembar Music Digital bahkan sempat menduduki peringkat trending dan telah ditonton lebih dari 27 juta kali.
Kehadiran sosok seniman muda berbakat seperti Niken
Salindry di panggung peringatan Hari Jadi Kabupaten Madiun ini tak hanya hiburan
semata, namun juga menjadi bukti nyata bahwa seni tradisi seperti wayang kulit
dan campursari tetap digandrungi oleh lintas generasi.(ir)


















