Iki Terbaru/Paling Greeess

Showing posts with label Dangdut. Show all posts
Showing posts with label Dangdut. Show all posts

21 Oktober : Meggy Z, Sosok Pedangdut Senior Pelantun "Sakit Gigi" Meninggal Dunia

MADIUN, Iki Radio — Tanggal 21 Oktober menjadi momen emosional bagi para pecinta musik dangdut tanah air. Hari ini menandai peringatan kepergian sang legenda, Meggy Zakaria, atau yang lebih akrab disapa Meggy Z, yang menghembuskan napas terakhirnya pada 21 Oktober 2009 silam.

Seniman serba bisa kelahiran 24 Agustus 1945 tersebut wafat pada usia 64 tahun di Rumah Sakit Margonda, Depok, akibat penyakit jantung. Kepergian pelantun tembang Sakit Gigi ini didampingi oleh istri tercintanya, Zainabun, serta anak-anaknya sebelum akhirnya dimakamkan di TPU Cilangkap, Jakarta Timur.

Dedikasi dan Kejayaan di Dunia Dangdut

Meggy Z dikenal memiliki loyalitas yang sangat tinggi terhadap perkembangan musik dangdut Indonesia. Kiprahnya di industri musik tanah air melahirkan puluhan album solo, duet, hingga kompilasi. Sejak era 1980-an hingga 2000-an, lagu-lagunya seperti Benang Biru, Senyum Membawa Luka, Anggur Merah, Gubuk Bambu, hingga Jatuh Bangun berhasil mendominasi tangga lagu nasional.

Kehebatannya terbukti lewat deretan penghargaan bergengsi yang diraihnya. Pada ajang Anugerah Dangdut TPI 1997, Meggy Z dinobatkan sebagai Penyanyi Rekaman Dangdut Terbaik. 

Ia juga menyabet penghargaan Lagu Dangdut Terbaik lewat lagu Benang Biru pada tahun 1998, serta meraih gelar Penyanyi Pria Favorit melalui lagu Permisi pada tahun 2002.

Karya-karyanya pun melintas batas generasi. Lagu Jatuh Bangun, misalnya, tak hanya dipopulerkan kembali oleh sesama pedangdut seperti Kristina, tetapi juga dibawakan ulang dengan aransemen musik rock oleh grup band Tiket sebagai bentuk penghormatan atas karya almarhum.

Eksistensi di Layar Lebar dan Sinetron

Selain piawai bernyanyi, Meggy Z juga mengukir jejak kuat di dunia seni peran. Perjalanan aktingnya terbilang unik; ia sering dipercaya memerankan karakter antagonis dalam deretan film layar lebar pada era 1970-an, sebelum akhirnya lebih banyak memerankan karakter protagonis pada era 2000-an.

Debut sinetronnya dimulai lewat Bulan Berkaca, yang kemudian berlanjut ke berbagai judul populer lainnya seperti Jadi Pocong, Duk Duk Mong, hingga Kampung Dangdut. Karakter dan gaya beraktingnya yang khas membuat sosoknya kian dicintai oleh masyarakat luas.

Meski kini sang maestro telah tiada, dedikasi dan karya-karya legendaris Meggy Z akan selalu hidup dan mewarnai sejarah musik serta industri hiburan Indonesia.

Dangdut Makin Digandrungi Gen Z, Ayu Ting Ting Bagikan Pengalaman Seru di Synchronize Fest 2026

JAKARTA, Iki Radio — Penyanyi dangdut Ayu Ting Ting mengaku terkejut saat tampil di panggung Synchronize Fest 2026 pada Sabtu (17/10/2026). Pelantun lagu Alamat Palsu ini tidak menyangka penonton yang didominasi oleh Generasi Z (Gen Z) sangat familiar dan ikut bernyanyi bersama membawakan lagu-lagunya.

Bagi Ayu, pengalaman ini terasa baru. Pasalnya, penonton konser dangdut biasanya didominasi oleh kalangan generasi yang lebih matang.

"Aku agak sempat kaget juga sih, maksudnya di situ rata-rata yang nonton anak-anak muda semua kan. Dan alhamdulillah mereka semuanya hafal lagu aku," ujar Ayu seperti diberitakan detikPop pada Senin (19/10/2026).

Ayu merasa senang sekaligus terkesan karena lagu-lagunya yang telah dirilis beberapa tahun lalu masih diingat dan dinyanyikan dengan antusias oleh para pemuda. Ia mengenang bagaimana perjuangan mempopulerkan musik dangdut di kalangan anak muda pada masa lalu tidaklah mudah.

"Sedangkan kalau dari dulu kan saya ngerasain perjuangan yang namanya kita angkat dangdut tuh agak lumayan berat untuk kaum-kaum muda. Jarang anak-anak sekolah gitu, pasti kan anggap dangdut kayak, 'Ih apa sih dangdut?'. Tapi sekarang, mereka semuanya ramai-ramai bisa nyanyi lagu dangdut," jelasnya.

Melihat antusiasme ini, Ayu berharap dangdut dapat terus berkembang dan dikenal secara global, sebagaimana musik K-Pop dari Korea Selatan yang sukses mencuri perhatian dunia.

"Kalau kita sih penginnya dangdut bisa sama kayak K-Pop ya, bisa diterima sama semua negara pastinya, bisa bawa nama dangdut lebih besar lagi. Pastinya kita sebagai penyanyi dangdut pengin ngebawa dangdut lebih bagus lagi ke depannya, kalau bisa sampai ke mancanegara," ungkapnya.

Tren Dangdut Meningkat di Platform Digital

Fenomena naik daunnya dangdut di kalangan generasi muda juga sejalan dengan data digital. Pada Juni 2026 lalu, Google merilis Google Doodle edisi khusus dangdut yang menyoroti tingginya minat masyarakat terhadap genre musik khas Indonesia ini.

Country Marketing Manager Google Indonesia, Muriel Makarim, mengungkapkan bahwa pencarian terkait dangdut mengalami peningkatan signifikan di Google Search. Pencarian untuk genre Popdut tercatat naik sebesar 30 persen, sementara Disco Dangdut naik 20 persen.

Selain itu, pencarian kata kunci hiburan seperti Dangdut Cafe melonjak hingga 90 persen, dan Konser Dangdut naik 30 persen. Antusiasme publik juga terlihat dari pencarian ekspresi dan lirik, seperti "penyanyi Goyang Dombret" dan "lirik lagu Inul Daratista" yang melonjak lebih dari 100 persen.

 

 

Ingat Ine Sinthya ? Suara Manja Khas Dangdut Indonesia, Pelopor Manis Manja Group

MADIUN, Iki Radio — Nama Ine Sinthya Anggriana sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta musik dangdut tanah air. Penyanyi kelahiran Cianjur, 15 Agustus 1971 ini merupakan salah satu sosok pencetak hitsmaker era 90-an yang memiliki karakter vokal khas—sendu sekaligus manja—sehingga sangat mudah dikenali oleh masyarakat luas.

Selain berkarier solo, wajah Ine Sinthya yang kerap disebut memiliki kemiripan dengan vokalis grup musik dunia ABBA, Anni-Frid Lyngstad, juga dikenal aktif dalam grup musik terkemuka. Ia merupakan bagian dari Manis Manja Group bersama Yulia Citra, Kitty Nurbaiti, dan Murni Chania. Tak hanya itu, Ine juga tergabung dalam supergrup D'Duta (Delapan Diva Dangdut Wanita) yang diisi oleh sederet nama besar seperti Evie Tamala, Iis Dahlia, Ikke Nurjanah, Erie Suzan, Kristina, Cici Paramida, dan Iyeth Bustami.

Konsistensi Berkarya Tiga Dekade

Sejak awal kemunculannya, Ine Sinthya dikenal sebagai salah satu pedangdut yang paling produktif. Berbagai bentuk album dan tunggal (single) telah ia lahirkan, baik secara solo, duet, trio, hingga grup. Lagu-lagu populernya seperti “Lima Menit Lagi”, “Memori Daun Pisang”, “Cinta Bukan Sayur Asem”, “Aduh Buyung”, “Gaun Merah Jambu”, hingga “Prasangka” tetap dinikmati dan diputar di berbagai stasiun radio hingga saat ini.

Keberhasilannya di industri musik tercermin dari deretan penghargaan yang pernah diraih. Nama Ine beberapa kali masuk dalam nominasi penyanyi dangdut wanita terbaik, sementara Manis Manja Group yang ia pimpin berulang kali menyabet penghargaan sebagai Grup Dangdut Terbaik dan Terpopuler.

Tak hanya berhenti di dunia tarik suara, Ine juga melebarkan sayapnya ke dunia seni peran dan televisi. Ia tercatat pernah membintangi beberapa judul sinetron, di antaranya Prasangka (1997), Cinta Bukan Sayur Asem (2003), Kampung Dangdut (2006), serta FTV Cinderella Gaul. Ia juga pernah dipercaya menjadi juri dalam ajang pencarian bakat Kontes Dangdut TPI (KDI).

Perjalanan Kehidupan Pribadi

Di balik kesuksesan kariernya, kehidupan pribadi mantan istri Andri Syahrial Sambas ini sempat menjadi perhatian publik. Dari pernikahan tersebut, Ine dikaruniai dua orang anak, yaitu Agi Syahrain dan Sherin Anasya Syaharani.

Pasangan ini sempat menghadapi permasalahan rumah tangga hingga Ine mengajukan gugatan cerai pada Mei 2007 di Pengadilan Agama Cianjur. Meski sempat mengajukan gugatan, Ine sempat memilih mencabutnya pada sidang pertama demi pertimbangan keluarga dan anak-anak. Namun pada tahun 2010, Ine dan Andri akhirnya resmi berpisah.

Kendati diterpa gelombang kehidupan pribadi, Ine Sinthya terus membuktikan eksistensinya di panggung musik Indonesia. Hingga kini, dedikasi dan konsistensinya menjadikannya sebagai salah satu legenda hidup musik dangdut Indonesia yang inspiratif.

 

Mengenal Sosok Uut Permatasari: Dari "Goyang Ngecor" Hingga Puncak Karier Dangdut Indonesia

Iki Radio — Nama Uut Permatasari sudah tidak asing lagi di belantika musik dangdut Tanah Air. Penyanyi kelahiran 7 April 1982 yang memiliki nama asli Utami Suryaningsih ini dikenal luas lewat ciri khasnya, Goyang Ngecor—sebuah gerakan bergoyang dengan mengoperasikan satu kaki sebagai tumpuan sambil berputar bak menancapkan kaki ke tanah.

Kelenturan tubuh Uut saat tampil di atas panggung bukan tanpa alasan. Putri dari Ny. Supatiningsih ini sudah mengasah bakat seni sejak kecil. Selain rajin mengolah vokal hingga sering menjuarai kompetisi nyanyi dari tingkat kecamatan hingga kabupaten, Uut juga aktif berlatih balet dan tarian tradisional seperti tari Yapong.


Perjalanan Karier dan Puncak Popularitas

Untuk mengejar mimpinya, Uut memutuskan merantau ke Jakarta pada tahun 2002. Perjuangannya tidak langsung mulus; album pertamanya yang bertajuk "Dua Hati Satu Cinta" (2002) kurang berhasil di pasaran.

Namun, kegigihannya membuahkan hasil saat ia merilis album kedua, "Putri Panggung" (2003). Album ini sukses besar dan melejitkan namanya hingga dipercaya menjadi maskot serta presenter acara Laris Manis di SCTV. Karier televisinya kian mengkilap saat ia juga memandu program Digoda di Trans TV.

Tidak hanya di dalam negeri, kepopuleran Uut Permatasari pun menembus panggung internasional. Ia tercatat pernah tampil menghibur penggemar di Malaysia, Hong Kong, hingga Korea Selatan.


Kehidupan Pribadi dan Pasang Surut Karier

Uut mengakhiri masa lajangnya pada usia 32 tahun. Ia resmi dipersunting oleh Kompol Tri Goffarudin Pulungan pada 16 Februari 2015, disusul dengan resepsi pernikahan meriah di Gedung PTIK, Jakarta Selatan, pada 21 Maret 2015.

Di balik kesuksesannya, Uut juga sempat diterpa gelombang kontroversi. Pada tahun 2007, ia dituduh menyanyikan lagu "Ketahuan" milik grup band Matta tanpa izin. Beruntung, pihak manajemen dan label musik Uut bergerak cepat menyelesaikan hak cipta dengan pencipta lagu sebelum menempuh jalur hukum.


Karya dan Kontribusi Musik

Sepanjang kariernya, Uut telah melahirkan puluhan karya album dan single populer, di antaranya:

Album Populer: Putri Panggung (2003), Lenggak Lenggok (2004), Dewi Malam (2007), dan Takkan Ku Biarkan (2008).

Single Hits: Gak Jelas (2011), Ojek Cinta (2011), Hak E Hak E (2018), Kamu (2019), hingga Ku Puja Puja (2020).

Atas konsistensinya di industri hiburan, Uut juga sempat masuk dalam nominasi ajang penghargaan, salah satunya sebagai Bintang Tamu Teraduhai di YKS Romantic Award 2014.

 

Ikke Nurjanah: Dari Penyanyi Dangdut Santun Hingga Mengemban Amanah Komisioner LMKN

Iki Radio — Nama Hartini Erpi Nurjanah, atau yang lebih dikenal publik sebagai Ikke Nurjanah, tentu sudah tidak asing di belantika musik Tanah Air. Penyanyi kelahiran 18 Mei 1974 ini dikenal luas sebagai sosok legendaris yang konsisten mempertahankan citra manis, sopan, dan elegan di panggung musik dangdut Indonesia. Saat ini, di luar kiprah keartisannya, Ikke tengah mengemban amanah penting di pemerintahan sebagai Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).

Perjalanan karier Ikke terbilang unik. Meski dibesarkan di lingkungan keluarga seni—sang ayah, Abdul Pihar Tanjung, merupakan pemain biola lagu Melayu Deli—Ikke sejatinya bercita-cita menjadi seorang guru TK. Namun, bakat bernyanyinya sejak kecil justru membawanya ke puncak industri hiburan. Album perdananya yang bertajuk Ojo Lali pada tahun 1989 sukses mendapat respons positif masyarakat dan membuka jalan bagi belakangan album hits lainnya, seperti Sun Sing Suwe, Terlena, hingga lagu duet fenomenal Memandangmu.

Konsistensi Ikke dalam menjaga gaya panggung yang jauh dari kesan seronok justru menjadi kekuatan utama dan ciri khasnya. Karakter vocal yang khas dipadu penampilan santun terbukti membawanya meraih berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Penyanyi Dangdut Wanita Terbaik AMI Awards (1997, 1998, 1999, 2015, dan 2019), Penyanyi Dangdut Paling Ngetop SCTV Awards 2002, hingga meraih Piala Suling Emas dalam Anugerah Dangdut TPI 2005. Kepopulerannya bahkan menembus kancah internasional saat diundang tampil di program Asia Live Dream NHK Jepang pada tahun 1998.


Di samping dunia tarik suara, lulusan Sarjana Ekonomi Manajemen Universitas Jayabaya ini juga aktif melakoni peran sebagai presenter acara televisi dan membintangi sejumlah judul film layar lebar seperti Berbagi Suami (2006) dan Catatan Dodol Calon Dokter (2016). Karya musiknya pun terus mengalir hingga beberapa tahun terakhir, termasuk merilis tembang "Tasbih" dan "Melepasmu" yang membawanya meraih penghargaan Lagu Dangdut Terbaik di Anugerah Dangdut Indonesia 2025.

Perjalanan hidup dan dedikasi panjang Ikke Nurjanah membuktikan bahwa popularitas serta eksistensi di dunia hiburan dapat dicapai melalui kualitas karya, integritas, dan latar belakang pendidikan yang kuat.

 

Dewi Perssik 'Reuni' Bareng MD Entertainment Lewat Sinetron Musikal Suara Hati

Iki Radio — Penyanyi dangdut Dewi Perssik kembali menyapa penggemar lewat kebolehan beraktingnya. Kali ini, wanita yang akrab disapa Depe tersebut dipercaya memerankan karakter Melodi dalam sinetron musikal terbaru bertajuk Suara Hati.

Kembali terlibat dalam proyek seni peran membawa kebahagiaan tersendiri bagi Dewi Perssik. Apalagi, karakter Melodi menghadirkannya dalam dinamika kehidupan rumah tangga yang terbilang berbeda dari kehidupan pribadinya saat ini.

“Karakter yang berbeda dan saya punya suami di sini, ya kan?” ujar Dewi Perssik diselingi tawa saat ditemui dalam jumpa pers di kawasan Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (1/10/2026).

“Kalau di aslinya doain aja yaa,” selorohnya.

Tak hanya urusan suami, Dewi Perssik juga menemukan perbedaan lain antara sosok Melodi dan kehidupan nyatanya. Jika di dunia nyata ia dibersamai seorang putra, dalam Suara Hati ia berperan sebagai ibu dari dua putri yang beranjak dewasa.

“Kalau dalam real life, saya punya anak laki-laki satu-satunya. Kalau di sini, saya punya dua anak perempuan, yaitu Jihan sebagai Nisa, dan juga Ghea sebagai Maya,” jelasnya.

Meski demikian, Dewi mengaku tetap menemukan kemiripan antara dirinya dan karakter yang ia perankan. Melodi digambarkan sebagai figur ibu yang lembut namun tegas, serta berambisi besar agar anak-anaknya dapat mencapai cita-cita sesuai harapannya.

“Melodi ini penuh dengan kelembutan kalau lagi enggak kumat ya. Jadi maksudnya ya tetap tegas sebagai seorang ibu yang memang sangat berambisi punya cita-cita untuk anaknya supaya menjadi yang ibunya mau,” paparnya.

Dinamika hubungan ibu dan anak yang dibalut perbedaan keinginan serta konflik emosional diprediksi akan mengaduk-aduk perasaan penonton.

“Nah, itu yang agak susah tuh. Gimana biar nanti penonton pasti banyak tangisan, haru, dan gemas, dan kasihan, pasti jadi satu pokoknya, campur kayak gado-gado,” tambah Dewi.

Keterlibatan Dewi Perssik dalam sinetron musikal ini terasa kian spesial karena menjadi ajang reuni bersama MD Entertainment. Rumah produksi tersebut merupakan pihak yang pertama kali membukakan jalan baginya di seni peran lewat sinetron Mimpi Manis sekitar dua dekade lalu.

“Setelah 20 tahun bersama Mimpi Manis, saya kembali ke rumah saya, yaitu MD Entertainment yang memperkenalkan saya di dunia akting,” ungkapnya penuh syukur.

Sinetron musikal Suara Hati yang dibintangi Dewi Perssik ini dijadwalkan mulai tayang secara perdana pada 10 Oktober 2026 mendatang melalui saluran MDTV dan platform streaming Netflix.

 

Evie Tamala, Dari Panggung Daerah Hingga Jadi Ratu Dangdut Melankolis

Iki Radio — Nama Hj. Evie Tamala tentu sudah tidak asing lagi bagi para pencinta musik dangdut tanah air. Penyanyi senior kelahiran Tasikmalaya, 23 Juni 1969, yang memiliki nama asli Cucu Suryaningsih ini dikenal lewat deretan tembang hits legendaris seperti Selamat Malam, Cinta Ketok Magic, hingga Dokter Cinta.


Namun, di balik kesuksesannya yang mengkilap, bungsu dari 6 bersaudara ini menempuh jalan berliku dan penuh perjuangan sebelum akhirnya diakui sebagai salah satu maestro dangdut Indonesia.

Awal Perjalanan dan Kegagalan di Awal Karier

Perjalanan musik Evie dimulai pada tahun 1982. Saat itu, ia tampil sebagai penyanyi panggung bersama Orkes Melayu Sinar Remaja menggunakan nama panggung Uce Arifina. Lingkup tampilnya tak hanya di Tasikmalaya, tetapi juga merambah hingga ke Kota Bandung.

Bakat besarnya kemudian dilirik oleh pencipta lagu sekaligus produser ternama saat itu, Muchtar B, yang tertarik dengan kelembutan dan merdunya suara Evie. Menginjak tahun 1986–1987, Evie masuk dapur rekaman untuk menggarap album perdana Sesuap Nasi dan Sesuka Hatinya. Sayangnya, nasib buruk menimpa; album tersebut gagal total bahkan kasetnya tidak sempat beredar di pasaran.

Pantang menyerah, pada tahun 1988 Evie merilis album kedua bertajuk Tang Ting Tong Der. Album di bawah naungan MSC Records ini pun belum mampu melambungkan namanya. Di momen inilah, ia resmi mengadopsi nama panggung Evie Tamala—di mana "Tamala" diambil sebagai singkatan dari kota kelahirannya, Tasikmalaya.


Puncak Popularitas Lewat "Dokter Cinta"

Titik balik kariernya terjadi pada tahun 1989 melalui album ketiga, Dokter Cinta. Album ini meledak hebat di pasaran dan berhasil melontarkan nama Evie Tamala ke jajaran penyanyi dangdut papan atas Indonesia, sejajar dengan nama-nama besar seperti Elvy Sukaesih, Camelia Malik, dan Rita Sugiarto. Ketenaran lagu tersebut juga terdongkrak oleh penampilan komedian Doyok dalam video klipnya yang jenaka.

Setelah itu, kesuksesan demi kesuksesan terus menyertai deretan albumnya, antara lain:

  • Hari-Hari Cinta (1990)
  • Aduh Sayang (1991)
  • Cinta Ketok Magic (1991)
  • Rambut (1993)
  • Kangmas (1994)

 

Transformasi Genre dan Ciri Khas Vokal

Memasuki tahun 1994, peluncuran album Rembulan Malam menjadi tonggak penting perubahan arah musik Evie Tamala. Bekerja sama dengan produser dan penata musik Aliek Ababil, karakter vokal Evie dinilai sangat pas membawakan lagu-lagu bergenre dangdut romantis, melankolis, dan lembut.

Ia sukses memadukan musik dangdut dengan berbagai eksperimen genre lain seperti blues, klasik, hingga swing. Sentuhan puitis pada intro lagu serta warna musik yang kaya terlihat jelas pada album-album ikoniknya seperti Selamat Malam (1996) dan Suara Hati (1998) lewat lagu hits Seribu Purnama serta Malam Ini. Eksplorasi ini makin memantapkan posisinya sebagai penyanyi dangdut dengan karakter unik dan matang.


Eksistensi Karya Tanpa Batas

Tak hanya terbatas pada dangdut berbahasa Indonesia, Evie Tamala juga membuktikan keluwesannya dengan merilis album Pop Sunda (seperti Tunggara dan Kembang Hareupan), Pop Jawa (Kangen, Yogya Priyangan), hingga album bernuansa religi seperti Asmaul Husna.

Eksistensinya di industri musik tetap terjaga hingga saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Evie aktif merilis berbagai single baru, seperti Belahan Jiwa (2023), Sudah Tak Sayang (2024), karya religi Kemanapun Memandang (2025), hingga rilisan terbaru Selamat Malam 2 (2026).


Kehidupan Pribadi

Di balik kejayaannya di atas panggung, kehidupan rumah tangga Evie sempat mengalami pasang surut. Pernikahan pertamanya dengan Heru harus berakhir dengan perceraian lantaran belum dikaruniai keturunan. Pada tahun 2003, Evie kembali membina rumah tangga bersama pria bernama Malik. Meski hingga kini belum dikaruniai buah hati, kehidupan rumah tangga mereka tetap harmonis dan jauh dari terpaan gosip miring.

 

Itje Trisnawati, Legenda Dangdut Tanah Air Pelantun "Duh Engkang"

Iki Radio — Nama Hj. Itje Trisnawati tentu sudah tidak asing lagi di telinga para pencinta musik dangdut Tanah Air. Penyanyi kelahiran 27 Maret 1963 ini dikenal sebagai salah satu biduanita berparas cantik dengan karakter suara yang khas. Sosoknya sukses mengukir sejarah sebagai legenda dangdut yang karya-karyanya tetap dikenang hingga kini.

Mengawali kariernya sejak tahun 1979, popularitas Itje meroket tajam setelah bertemu dengan pelawak sekaligus Koordinator Acara Aneka Ria Safari, Eddy Sud. Lewat tangan dingin Eddy yang dikenal piawai mencetak artis sukses, karier musik Itje makin menanjak pesat hingga mereka berdua memutuskan untuk menikah.

Sepanjang perjalanan musiknya, Itje telah merilis puluhan album hits yang laris manis di pasaran. Beberapa lagu ikoniknya yang begitu populer di akhir era 80-an hingga 90-an antara lain "Duh Engkang", "Enggak Lagi Lagi Ah", "Madu Merah", "Dana Asmara", hingga "Satu Malam". Tak hanya dangdut, ia juga merambah genre pop dan lagu daerah. Selain bernyanyi, Itje sempat menguji bakat aktingnya lewat beberapa judul film layar lebar seperti Aduh Aduh.. Mana Tahaaan (1980) dan Mystics in Bali (1981).

Namun, perjalanan asmara sang legenda tidak semulus kariernya di panggung hiburan. Setelah membina rumah tangga selama kurang lebih 23 tahun dan dikaruniai dua orang anak (Eka Sutrisna & Ety Suryawati), pernikahan Itje dan Eddy Sud berakhir dengan perceraian.

Tiga bulan berselang, Itje kembali merajut asah dengan menikahi seorang pengusaha ruang pamer mobil, Agung Indra Permana Sarwono. Sayangnya, takdir berkata lain. Di saat keduanya tengah mempersiapkan rencana comeback Itje ke industri musik dangdut, Agung meninggal dunia pada tahun 2007 akibat penyakit jantung.

Meski harus melewati berbagai dinamika kehidupan dan kepedihan, kontribusi Itje Trisnawati dalam seni musik Indonesia tak tergantikan. Karya-karya emasnya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan musik dangdut di Indonesia.

 

close
Pasang Iklan Disini