Operasional dan Kuota Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Madiun: Fasilitas Lengkap, Terapkan Pendekatan Humanis dalam Pengasuhan

Iki Radio — Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Kabupaten Madiun terus memantapkan operasionalnya untuk mendukung kegiatan belajar mengajar dan pengasuhan siswa berbasis asrama. Saat ini, dari total kapasitas kuota sebanyak 360 siswa, SRT Kabupaten Madiun telah menampung siswa dari tingkat SD, SMP, hingga SMA, termasuk titipan siswa dari Kabupaten Ponorogo yang sekolah permanennya masih dalam tahap pembangunan.

Kepala SR Kabupaten Madiun, Rohmah Agustin Setyowuni (kacamata) saat mendampingi Bupati Madiun melihat kegiatan belajar siswa, Senin (5/10/2026)

Kepala SRT Kabupaten Madiun, Rohmah Agustin Setyowuni, mengungkapkan bahwa kuota yang diperuntukkan bagi Kabupaten Madiun adalah sebanyak 270 siswa. Hingga saat ini, tersisa kurang lebih 29 kuota siswa yang masih dapat diisi.

"Paling banyak siswa kami berada di jenjang SMP yaitu sebanyak 150 siswa. Sementara yang masih kurang berada di jenjang SD, dari kuota 90 siswa, saat ini terisi sekitar 84 siswa atau kurang 6 anak. Wajar karena anak-anak SD masih kecil sehingga orang tua masih berat untuk melepas ke asrama," ujar Agustin, Senin (5/10/2026).

Terkait dengan operasional dan fasilitas, SRT Kabupaten Madiun telah mengaktifkan seluruh gedung mulai dari jenjang SMA, SMP, hingga SD. Fasilitas pendukung seperti perpustakaan, laboratorium komputer, hingga sarana olahraga seperti lapangan mini soccer, basket, dan voli sudah dimanfaatkan secara optimal oleh para siswa untuk kegiatan ekstra maupun rekreasi harian.

Untuk pemenuhan perangkat penunjang belajar seperti laptop, pihak sekolah masih menunggu penyaluran standar dari pemerintah pusat. Perangkat tersebut nantinya akan ditempatkan di laboratorium komputer untuk digunakan secara bergantian sesuai jadwal kegiatan belajar.

 

Pengasuhan, Rasio Petugas, dan Mitigasi Perundungan

Mengenai tenaga pendidik dan kependidikan, SRT Madiun saat ini didukung oleh 34 guru pusat, 50 wali asuh/wali asrama, serta 6 tenaga Tata Usaha (TU). Dengan beroperasinya pengasuhan berbasis piket yang terbagi dalam shift harian, rasio pendampingan wali asuh saat piket adalah 1 banding 20 siswa. Jumlah ini dinilai jauh lebih ideal dibandingkan masa awal operasional yang mencapai 1 banding 40.

Dalam menyikapi dinamika kehidupan berasrama dan potensi perundungan (bullying), manajemen sekolah mengedepankan pendekatan berbasis hati, komunikasi terbuka, serta mitigasi preventif. Pihak sekolah rutin melakukan patroli piket keliling, berkoordinasi dengan petugas keamanan, serta menggandeng pihak eksternal seperti TNI, Babinsa, hingga Universitas Pertahanan (Unhan).

"Kami mendatangkan TNI dan tim Unhan untuk mendampingi siswa selama kurang lebih tujuh hari. Mereka diajarkan kedisiplinan dan cara beradaptasi dengan kehidupan asrama, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur. Ini bukan pelatihan militer, melainkan pembentukan karakter agar anak tertib, menjaga emosi, dan paham aturan hidup bersama," tegas Agustin.

Agustin menambahkan, jika terjadi perundungan kecil atau kesalahpahaman antarsiswa—seperti persoalan perlengkapan yang tertukar—sekolah akan segera melakukan penelusuran, komunikasi, serta pendampingan terapi bekerja sama dengan Dinas Sosial dan sentra terkait.(ir)

 

close
Pasang Iklan Disini