BANDUNG, Iki Radio — Krisis air bersih akibat kekeringan di Jawa Barat semakin meluas dan kini telah berdampak pada seluruh kabupaten dan kota di wilayah tersebut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mencatat, total bantuan air bersih yang disalurkan kepada warga terdampak hingga saat ini telah menembus 44,6 juta liter.
Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, menyampaikan bahwa pasokan air bersih tersebut tidak hanya berasal dari BPBD, melainkan juga hasil kolaborasi lintas sektor.
"Selain BPBD, bantuan air bersih juga diberikan oleh sejumlah lembaga, di antaranya PMI, PDAM, Damkar, Polres, Kodim, dunia usaha, komunitas, hingga pemerintah daerah," ujar Hadi Rahmat pada Minggu (25/10/2026).
Berdasarkan data terbaru pekan ini, wilayah terdampak kekeringan meningkat menjadi 896 desa/kelurahan di 284 kecamatan, tersebar di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya yang mencatat 879 desa/kelurahan di 281 kecamatan.
Dampak krisis air kini dirasakan oleh sedikitnya 449.064 kepala keluarga (KK) atau lebih dari 1,4 juta jiwa.
Fenomena kemarau panjang masih menjadi penyebab utama kekeringan skala besar ini. Meskipun beberapa wilayah mulai diguyur hujan, curah hujan yang ada dinilai belum merata dan belum cukup untuk memulihkan cadangan air tanah maupun sumber air warga.
"Musim kemarau panjang masih terjadi. Ada hujan di sejumlah daerah, tapi tidak merata. Jawa Barat diprediksi baru akan memasuki musim hujan secara menyeluruh pada November mendatang," pungkas Hadi.
Pemerintah daerah bersama pihak terkait terus bersiap dan menyiagakan distribusi bantuan air bersih guna mengantisipasi kebutuhan masyarakat hingga peralihan musim secara penuh tiba.








