MADIUN, Iki Radio — Partai Golongan Karya (Golkar) resmi menginjak usia ke-62 pada Selasa, 20 Oktober 2026. Dalam peringatan tahun ini, Partai Golkar mengusung tema "Golkar Bersama Rakyat, Kerja Nyata, Rakyat Sejahtera".
Atas arahan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, peringatan HUT ke-62 digelar secara sederhana namun sarat makna. Rangkaian acara difokuskan pada kegiatan sosial dan kemasyarakatan di berbagai daerah, seperti ziarah ke Taman Makam Pahlawan, aksi donor darah, hingga pembagian paket sembako gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Akar Sejarah: Konsep Integralistik dan Golongan Fungsional
Lahirnya Golkar tidak lepas dari kolaborasi pemikiran tiga tokoh bangsa sejak dekade 1940-an, yaitu Soekarno, Prof. Soepomo, dan Ki Hadjar Dewantara. Ketiganya mengajukan gagasan integralistik-kolektivitis yang menginginkan keterwakilan kolektif berbasis 'demokrasi' khas Indonesia.
Pada dekade 1950-an, gagasan ini diwujudkan melalui pembentukan Golongan Fungsional (1957) sebagai wadah perwakilan kelompok-kelompok profesional/kemasyarakatan, bukan sebuah partai politik. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Sanskerta menjadi Golongan Karya pada tahun 1959.
Pada awalnya, Golkar digagas sebagai sistem perwakilan alternatif di tengah maraknya sistem multipartai untuk menumbuhkan persatuan dan kerja sama tanpa sekat perbedaan kelas.
Transformasi Menjadi Partai Politik dan Era Sekber Golkar
Seiring dinamika politik nasional di akhir era Orde Lama, fungsi Golkar mengalami pergeseran mendasar. Dengan Soekarno sebagai konseptor dan Jenderal TNI (Purn) Abdul Haris Nasution bersama Angkatan Darat sebagai penggerak, Golkar didorong menjadi kekuatan politik resmi guna menandingi pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Langkah historis ditandai dengan dibentuknya Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) pada 20 Oktober 1964 yang dipelopori oleh Soeharto dan Suhardiman. Gagasan awal Golkar yang semula menolak konsep partai politik akhirnya bertransformasi menjadi sebuah organisasi politik formal.
Kejayaan dan Pengaruh di Panggung Politik Nasional
Memasuki masa Orde Baru, Golkar hadir sebagai pilar utama pembaruan politik. Keberadaan Golkar terbukti mendominasi lanskap politik Indonesia sejak Pemilu pertamanya pada 3 Juli 1971. Saat itu, Sekber Golkar berhasil meraih 62,8% suara dan mengamankan 236 dari 360 kursi DPR, jauh mengungguli partai-partai besar lainnya saat itu.
Hingga kini, perjalanan panjang dari sebuah wadah fungsional anti-partai menjadi salah satu partai politik tertua dan terbesar di Indonesia membuktikan daya tahan serta fleksibilitas Partai Golkar dalam mengawal perjalanan demokrasi bangsa. Melalui momen HUT ke-62 ini, Partai Golkar menegaskan kembali komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui karya dan kerja nyata.









