JAKARTA, Iki Radio — Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan resmi menggelar pelatihan internasional pemadam kebakaran dan penyelamatan bertajuk FIRESAFE 2026. Kegiatan perdana ini diikuti oleh 42 peserta dari enam negara di kawasan Pasifik, yakni Fiji, Timor-Leste, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Federasi Mikronesia, dan Papua Nugini.
Program ini didukung penuh oleh pendanaan Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI) Kementerian Keuangan (Indonesian AID), serta melibatkan Kementerian Luar Negeri dan sejumlah lembaga mitra.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal ZA, menegaskan bahwa pesatnya pertumbuhan perkotaan, perkembangan infrastruktur, dan perubahan iklim telah meningkatkan kompleksitas risiko kebakaran saat ini. Kondisi ini menuntut penguatan kapasitas petugas, perbaikan sistem pencegahan, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat secara berkelanjutan.
“Melalui FIRESAFE 2026, kita ingin memperkuat kompetensi petugas sekaligus membangun kerja sama antarnegara dalam menghadapi berbagai risiko kebakaran dan kedaruratan,” ujar Safrizal dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (31/10/2026).
Safrizal membeberkan bahwa sepanjang tahun 2025, Indonesia mencatat sebanyak 20.931 kejadian kebakaran dan 122.071 operasi penyelamatan. Penyebab kebakaran didominasi oleh korsleting listrik (7.570 kejadian), kelalaian manusia (4.827 kejadian), serta kegagalan peralatan memasak dan tabung gas (2.309 kejadian).
Tinggi insiden tersebut menjadi bukti pentingnya pencegahan berbasis masyarakat di samping pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), seperti response time penanganan kebakaran maksimal 15 menit. Sebagai langkah konkret, Indonesia terus mendorong keterlibatan warga melalui Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar), yang jumlahnya melonjak signifikan dari 37.837 orang pada 2023 menjadi 82.675 orang pada akhir 2025.
FIRESAFE 2026 dirancang sebagai wadah pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik (best practices) antarnegara melalui pembelajaran di kelas, observasi lapangan, demonstrasi teknis, hingga simulasi kedaruratan.
“Indonesia tidak hanya ingin berbagi pengalaman, tetapi juga belajar dari inovasi negara-negara mitra. Harapannya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan untuk memperkuat pelayanan pemadam kebakaran dan penyelamatan di negara masing-masing,” pungkas Safrizal.
Melalui agenda internasional ini, Indonesia
menegaskan komitmennya dalam memperkuat kerja sama pembangunan kawasan serta
mendorong terciptanya layanan keselamatan kebakaran yang lebih profesional,
tangguh, dan responsif di Pasifik.








