TERNATE, Iki Radio — Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengungkapkan bahwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kiriman dari Papua turut memperburuk kondisi udara dan memperparah jarak pandang di wilayah Maluku Utara.
Pernyataan tersebut disampaikan Sherly usai melakukan kunjungan kerja dan berdiskusi langsung dengan Kepala BMKG Maluku Utara, Desindra Deddy Kurniawan, pada Kamis (15/10/2026).
"Menurut penjelasan BMKG, selain kebakaran di Maluku Utara, asap kiriman dari Papua turut memperburuk kondisi. Jarak pandang turun di bawah 2.000 meter, sementara untuk normalisasi penerbangan dibutuhkan sekitar 3.800 meter," ujar Sherly melalui unggahan di akun Instagram resminya, Kamis (15/10/2026).
Titik Panas Mulai Berkurang Paschahujan
Meskipun menghadapi tantangan asap kiriman, Sherly menjelaskan bahwa intensitas titik panas (hotspot) di wilayah Maluku Utara sebenarnya sudah mulai menunjukkan penurunan. Hal ini dipicu oleh hujan yang mulai membasahi enam kabupaten/kota pada 12–13 Oktober lalu.
Berdasarkan pemantauan terbaru, sebaran titik panas di Maluku Utara kini tersisa 2 titik dalam kategori merah (sangat rawan), 63 titik kategori kuning (sedang), dan 4 titik kategori hijau (rendah).
"Namun, beberapa lokasi kebakaran masih sulit dijangkau dan belum diguyur hujan," tambah Sherly.
Bantuan Helikopter Tiba, Operasi Udara Masih
Tertahan
Guna menangani karhutla yang meluas, Pemerintah Provinsi Maluku Utara telah mengajukan dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta water bombing kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak 9 September lalu.
Permohonan tersebut telah disetujui, dan armada helikopter water bombing bahkan telah mendarat di Ternate pada Rabu (14/10/2026). Kendati demikian, pelaksanaan penanganan dari udara masih menemui kendala teknis akibat pekatnya kabut asap.
"Kendalanya, kru water bombing dan pesawat OMC belum dapat mendarat akibat kabut asap. Sementara itu, asap dari luar wilayah juga memengaruhi kondisi udara kita. Kami terus mengupayakan percepatan kedatangan tim agar pemadaman dari udara dan intervensi cuaca dapat segera dilakukan," jelasnya.
Apresiasi Petugas dan Empati terhadap
Masyarakat
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Sherly menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh personel gabungan dari TNI, Polri, Kementerian PU, BNPB, BMKG, BPBD Provinsi, hingga pemerintah kabupaten/kota dan para relawan di lapangan yang terus berjibaku memadamkan api.
Ia juga menyampaikan rasa simpati atas dampak ekonomi dan sosial yang dialami warga akibat gangguan penerbangan serta terancamnya mata pencaharian akibat lahan yang terbakar.
"Saya memahami beratnya kondisi ini. Ada keluarga yang menunggu, perjalanan tertunda, aktivitas ekonomi terganggu, bahkan lahan sumber penghasilan masyarakat yang terbakar. Saat hujan mulai turun dan bantuan sudah tersedia, kita masih membutuhkan satu hal yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan: kondisi langit yang memungkinkan bantuan itu bekerja," tuturnya.
Menutup pernyataannya, Sherly mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus berdoa agar kondisi cuaca dan jarak pandang segera membaik sehingga penanganan udara dapat berjalan optimal.
"Kita terus berikhtiar, dan saya sungguh berdoa
semoga Allah memberi pertolongan-Nya. Hujan turun di wilayah kebakaran Maluku
Utara dan Papua, jarak pandang membaik, dan tim segera bisa mendarat. Semoga
segera ada jalan keluar. Api padam, asap hilang, langit kembali bersih, dan
kehidupan masyarakat kembali normal," pungkasnya.








