JAKARTA, Iki Radio — Di tengah pesatnya tren digital dan budaya populer yang digandrungi generasi muda, Ni Made Lifia Kristina (21) justru memilih jalan pemuda yang berbeda. Peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 asal Bali ini mendedikasikan dirinya untuk menghidupkan kembali aksara Bali yang perlahan mulai ditinggalkan oleh anak muda di tanah kelahirannya.
Bagi Lifia, aksara Bali bukan sekadar deretan simbol ornamental di papan nama jalan, melainkan media penyimpan sejarah, filosofi, dan warisan nilai leluhur. Melihat semakin berkurangnya anak muda yang mampu membaca dan memahami makna di balik goresan aksara tersebut, Lifia mendirikan komunitas Semara Budaya (Sarang Belajar Aksara dan Budaya) pada 2025.
"Dari kecil saya memang dekat dengan aksara Bali lewat pelatihan dan pasraman. Namun, semakin dewasa, saya melihat aksara ini mulai ditinggalkan karena dianggap tidak menarik, tidak relevan, bahkan tidak gaul," ujar Lifia saat mengikuti kegiatan WYC 2026 di Artotel Hotel, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Melalui Semara Budaya, gadis yang juga berprofesi sebagai Master of Ceremony (MC) dan coach public speaking ini menggelar pelatihan rutin bulanan bagi anak-anak di berbagai desa di Bali. Tak hanya itu, pengalaman sebagai fasilitator di tempat wisata Rumah Anyar juga ia manfaatkan untuk memperkenalkan aksara Bali kepada wisatawan asing melalui penulisan nama tradisional. Pendekatan interaktif ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk agar generasi muda melihat aksara Bali sebagai keterampilan yang menarik dan bernilai praktis.
Lifia menegaskan pentingnya menjaga kemampuan membaca aksara Bali, mengingat sebagian besar pengetahuan dan sejarah Bali tersimpan dalam naskah lontar. "Mengenalkan aksara Bali berarti membuka kembali akses generasi muda terhadap kekayaan pengetahuan leluhur mereka," ungkapnya.
Membangun Kolaborasi dan Jejaring Literasi
Meski berawal dari gerakan mandiri bersama rekan-rekannya, Lifia memanfaatkan keikutsertaannya dalam WYC 2026 untuk memperluas jejaring. Ia berharap dapat membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan di Bali, guna memperluas jangkauan ruang belajar.
Di samping pelestarian aksara, Lifia juga menaruh perhatian besar pada penguatan budaya literasi untuk menangkal penyebaran hoaks. Ke depan, ia berencana mengembangkan Semara Budaya agar turut memfasilitasi kegiatan klub baca buku bagi anak muda.
Selama mengikuti forum tingkat nasional tersebut, Lifia mengaku memetik banyak pelajaran berharga dari interaksi bersama peserta dari berbagai penjuru Indonesia, termasuk memadukan nilai gotong royong khas Bali dengan semangat kemandirian anak muda perkotaan.
"Tempat ini layaknya laboratorium belajar. Kita tidak hanya belajar dari fasilitator, tetapi juga dari sesama peserta. Semuanya adalah guru, tempat ini adalah sekolah, dan pengalamannya menjadi pelajaran," tutur Lifia.
Ia berharap program Wirasena Youth Camp dapat terus berlanjut setiap tahunnya untuk melahirkan pemuda-pemuda yang berani berkolaborasi demi daerah masing-masing.
"Warisan budaya tidak cukup hanya dikenang atau dipajang. Ia perlu dipelajari, dipahami, dan diwariskan kembali agar tetap hidup di tangan generasi berikutnya," pungkas Lifia.








