Iki Terbaru/Paling Greeess

Showing posts with label Legend. Show all posts
Showing posts with label Legend. Show all posts

26 Oktober : Mengenang Mbah Maridjan, Juru Kunci Merapi yang Setia Hingga Akhir Hayatnya dalam Erupsi 2010

YOGYAKARTA, Iki Radio — Tanggal 26 Oktober 2010 menjadi catatan sejarah kelam bagi masyarakat di sekitar Gunung Merapi. Mbah Maridjan, sosok juru kunci spiritual Gunung Merapi yang disegani dan dikenal sebagai pembantu setia Sultan Hamengkubuwana IX, gugur saat bencana letusan hebat menghantam kawasan tempat tinggalnya.

Pria bernama lengkap Mas Penewu Surakso Hargo yang lahir pada 5 Februari 1927 ini mengemban amanah sebagai juru kunci Merapi dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Perjalanannya mengabdi di lereng Merapi dimulai sejak diangkat menjadi wakil juru kunci pada tahun 1970, sebelum akhirnya resmi menjabat sebagai juru kunci penuh pada tahun 1982. Sosoknya begitu dihormati; warga setempat kerap menantikan komando darinya saat tanda-tanda Merapi meletus mulai terlihat.

Nama Mbah Maridjan semakin dikenal secara nasional sejak peristiwa ancaman erupsi Merapi pada tahun 2006. Keteguhan hati serta keberaniannya memikat perhatian publik hingga ia ditunjuk menjadi bintang iklan produk minuman energi. Tak hanya dikenal sebagai juru kunci, Mbah Maridjan juga aktif mengabdi di organisasi keagamaan sebagai Wakil Rais Syuriah MWC Nahdlatul Ulama Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, hingga akhir hayatnya.


Diterjang Awan Panas Merapi

Tragedi terjadi pada 26 Oktober 2010 ketika Gunung Merapi kembali meletus dahsyat, menyemburkan awan panas (wedhus gembel) setinggi 1,5 kilometer. Gulungan awan panas bersuhu tinggi tersebut meluncur deras menyeberangi permukiman tempat Mbah Maridjan tinggal.

Beberapa jam pasca-kejadian, tim SAR menemukan jasad Mbah Maridjan bersama 16 korban jiwa lainnya dalam kondisi luka bakar serius. Kepastian identitas jenazah sang juru kunci dikonfirmasi secara resmi pada 27 Oktober 2010.


Diberi Penghargaan Anugerah Budaya

Atas dedikasi dan kesetiaannya merawat tradisi lokal, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menganugerahkan penghargaan Anugerah Budaya 2011 kategori Pelestari Adat dan Tradisi secara anumerta kepada almarhum Mbah Maridjan.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi DIY, Ikhsanuri, pada 29 November 2011 di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta, sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas pengabdian Mbah Maridjan sepanjang hidupnya.

21 Oktober : Meggy Z, Sosok Pedangdut Senior Pelantun "Sakit Gigi" Meninggal Dunia

MADIUN, Iki Radio — Tanggal 21 Oktober menjadi momen emosional bagi para pecinta musik dangdut tanah air. Hari ini menandai peringatan kepergian sang legenda, Meggy Zakaria, atau yang lebih akrab disapa Meggy Z, yang menghembuskan napas terakhirnya pada 21 Oktober 2009 silam.

Seniman serba bisa kelahiran 24 Agustus 1945 tersebut wafat pada usia 64 tahun di Rumah Sakit Margonda, Depok, akibat penyakit jantung. Kepergian pelantun tembang Sakit Gigi ini didampingi oleh istri tercintanya, Zainabun, serta anak-anaknya sebelum akhirnya dimakamkan di TPU Cilangkap, Jakarta Timur.

Dedikasi dan Kejayaan di Dunia Dangdut

Meggy Z dikenal memiliki loyalitas yang sangat tinggi terhadap perkembangan musik dangdut Indonesia. Kiprahnya di industri musik tanah air melahirkan puluhan album solo, duet, hingga kompilasi. Sejak era 1980-an hingga 2000-an, lagu-lagunya seperti Benang Biru, Senyum Membawa Luka, Anggur Merah, Gubuk Bambu, hingga Jatuh Bangun berhasil mendominasi tangga lagu nasional.

Kehebatannya terbukti lewat deretan penghargaan bergengsi yang diraihnya. Pada ajang Anugerah Dangdut TPI 1997, Meggy Z dinobatkan sebagai Penyanyi Rekaman Dangdut Terbaik. 

Ia juga menyabet penghargaan Lagu Dangdut Terbaik lewat lagu Benang Biru pada tahun 1998, serta meraih gelar Penyanyi Pria Favorit melalui lagu Permisi pada tahun 2002.

Karya-karyanya pun melintas batas generasi. Lagu Jatuh Bangun, misalnya, tak hanya dipopulerkan kembali oleh sesama pedangdut seperti Kristina, tetapi juga dibawakan ulang dengan aransemen musik rock oleh grup band Tiket sebagai bentuk penghormatan atas karya almarhum.

Eksistensi di Layar Lebar dan Sinetron

Selain piawai bernyanyi, Meggy Z juga mengukir jejak kuat di dunia seni peran. Perjalanan aktingnya terbilang unik; ia sering dipercaya memerankan karakter antagonis dalam deretan film layar lebar pada era 1970-an, sebelum akhirnya lebih banyak memerankan karakter protagonis pada era 2000-an.

Debut sinetronnya dimulai lewat Bulan Berkaca, yang kemudian berlanjut ke berbagai judul populer lainnya seperti Jadi Pocong, Duk Duk Mong, hingga Kampung Dangdut. Karakter dan gaya beraktingnya yang khas membuat sosoknya kian dicintai oleh masyarakat luas.

Meski kini sang maestro telah tiada, dedikasi dan karya-karya legendaris Meggy Z akan selalu hidup dan mewarnai sejarah musik serta industri hiburan Indonesia.

Ingat Ine Sinthya ? Suara Manja Khas Dangdut Indonesia, Pelopor Manis Manja Group

MADIUN, Iki Radio — Nama Ine Sinthya Anggriana sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta musik dangdut tanah air. Penyanyi kelahiran Cianjur, 15 Agustus 1971 ini merupakan salah satu sosok pencetak hitsmaker era 90-an yang memiliki karakter vokal khas—sendu sekaligus manja—sehingga sangat mudah dikenali oleh masyarakat luas.

Selain berkarier solo, wajah Ine Sinthya yang kerap disebut memiliki kemiripan dengan vokalis grup musik dunia ABBA, Anni-Frid Lyngstad, juga dikenal aktif dalam grup musik terkemuka. Ia merupakan bagian dari Manis Manja Group bersama Yulia Citra, Kitty Nurbaiti, dan Murni Chania. Tak hanya itu, Ine juga tergabung dalam supergrup D'Duta (Delapan Diva Dangdut Wanita) yang diisi oleh sederet nama besar seperti Evie Tamala, Iis Dahlia, Ikke Nurjanah, Erie Suzan, Kristina, Cici Paramida, dan Iyeth Bustami.

Konsistensi Berkarya Tiga Dekade

Sejak awal kemunculannya, Ine Sinthya dikenal sebagai salah satu pedangdut yang paling produktif. Berbagai bentuk album dan tunggal (single) telah ia lahirkan, baik secara solo, duet, trio, hingga grup. Lagu-lagu populernya seperti “Lima Menit Lagi”, “Memori Daun Pisang”, “Cinta Bukan Sayur Asem”, “Aduh Buyung”, “Gaun Merah Jambu”, hingga “Prasangka” tetap dinikmati dan diputar di berbagai stasiun radio hingga saat ini.

Keberhasilannya di industri musik tercermin dari deretan penghargaan yang pernah diraih. Nama Ine beberapa kali masuk dalam nominasi penyanyi dangdut wanita terbaik, sementara Manis Manja Group yang ia pimpin berulang kali menyabet penghargaan sebagai Grup Dangdut Terbaik dan Terpopuler.

Tak hanya berhenti di dunia tarik suara, Ine juga melebarkan sayapnya ke dunia seni peran dan televisi. Ia tercatat pernah membintangi beberapa judul sinetron, di antaranya Prasangka (1997), Cinta Bukan Sayur Asem (2003), Kampung Dangdut (2006), serta FTV Cinderella Gaul. Ia juga pernah dipercaya menjadi juri dalam ajang pencarian bakat Kontes Dangdut TPI (KDI).

Perjalanan Kehidupan Pribadi

Di balik kesuksesan kariernya, kehidupan pribadi mantan istri Andri Syahrial Sambas ini sempat menjadi perhatian publik. Dari pernikahan tersebut, Ine dikaruniai dua orang anak, yaitu Agi Syahrain dan Sherin Anasya Syaharani.

Pasangan ini sempat menghadapi permasalahan rumah tangga hingga Ine mengajukan gugatan cerai pada Mei 2007 di Pengadilan Agama Cianjur. Meski sempat mengajukan gugatan, Ine sempat memilih mencabutnya pada sidang pertama demi pertimbangan keluarga dan anak-anak. Namun pada tahun 2010, Ine dan Andri akhirnya resmi berpisah.

Kendati diterpa gelombang kehidupan pribadi, Ine Sinthya terus membuktikan eksistensinya di panggung musik Indonesia. Hingga kini, dedikasi dan konsistensinya menjadikannya sebagai salah satu legenda hidup musik dangdut Indonesia yang inspiratif.

 

Dunia Hiburan Berduka, Aktor Senior Yadi Timo Meninggal Dunia di Usia 66 Tahun

JAKARTA, Iki Radio — Kabar duka kembali menyelimuti industri perfilman dan hiburan Tanah Air. Aktor senior Yadi Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Yadi Timo, meninggal dunia pada usia 66 tahun pada Jumat (16/10/2026).

Kabar kepergian sang aktor pertama kali dibagikan oleh penulis skenario Joko Nugroho melalui unggahan emosional di akun Instagram pribadinya. Hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai penyebab pasti meninggalnya Yadi Timo.

"RIP YADI TIMO. Subuh baru saja beranjak, hari baru saja dimulai. Terhenyak membaca khabar, satu teman baik pergi," tulis Joko Nugroho dalam unggahannya, Jumat (16/10/2026).

Kenangan dan Sosok Yadi Timo di Mata Rekan Kerja

Dalam unggahan belasungkawanya, Joko Nugroho mengenang sosok Yadi Timo bukan sekadar sebagai aktor senior, melainkan sebagai kakak kelas, teman baik, hingga sosok kritikus yang pedas namun penuh dukungan.

Joko menceritakan bagaimana Yadi sering memberikan kritik tajam sekaligus apresiasi terhadap hasil karyanya, serta menunjukkan sikap loyalitas yang luar biasa antarsesama insan seni.

"Lo bikin cerita apa sih Jok? Bikinlah yang pantes buat gue mainin," kenang Joko menirukan ucapan Yadi. Namun, setelah melihat hasilnya, Yadi tetap memuji dengan gayanya yang khas: "Gue nggak pernah ngajarin lo bikin se keren ini, darimana lo belajar?"

Joko juga mengenang momen solidaritas tinggi dari Yadi Timo ketika pengerjaan suatu proyek mengalami pergantian sutradara, hingga momen kebersamaan mereka di awal karier saat Yadi membagikan honor syutingnya secara sukarela agar rekan-rekannya bisa merasakan hasil kerja keras di lokasi.


Perjalanan Karier dan Warisan Karya

Yadi Timo dikenal sebagai salah satu aktor karakter paling berbakat di Indonesia. Karakter aktingnya yang kuat membuatnya kerap dipercaya memerankan berbagai peran ikonik, mulai dari tokoh antagonis yang licik hingga sosok ayah yang menderita.

Selama masa hidupnya, Yadi Timo telah membintangi puluhan judul film layar lebar dan serial televisi hit, di antaranya:

Film Layar Lebar:

  • Petualangan Sherina
  • Banyu Biru
  • Petualangan 100 Jam
  • Brownies
  • Marley (2022)

Serial Televisi / Sinetron:

  • Lorong Waktu
  • Kisah Sedih di Hari Minggu
  • Jin & Jun
  • Dan berbagai judul sinetron populer lainnya.

Kepergian Yadi Timo meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, serta para penggemar karya-karyanya di panggung seni peran Indonesia. Selamat jalan, Yadi Timo.

 

Ikke Nurjanah: Dari Penyanyi Dangdut Santun Hingga Mengemban Amanah Komisioner LMKN

Iki Radio — Nama Hartini Erpi Nurjanah, atau yang lebih dikenal publik sebagai Ikke Nurjanah, tentu sudah tidak asing di belantika musik Tanah Air. Penyanyi kelahiran 18 Mei 1974 ini dikenal luas sebagai sosok legendaris yang konsisten mempertahankan citra manis, sopan, dan elegan di panggung musik dangdut Indonesia. Saat ini, di luar kiprah keartisannya, Ikke tengah mengemban amanah penting di pemerintahan sebagai Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).

Perjalanan karier Ikke terbilang unik. Meski dibesarkan di lingkungan keluarga seni—sang ayah, Abdul Pihar Tanjung, merupakan pemain biola lagu Melayu Deli—Ikke sejatinya bercita-cita menjadi seorang guru TK. Namun, bakat bernyanyinya sejak kecil justru membawanya ke puncak industri hiburan. Album perdananya yang bertajuk Ojo Lali pada tahun 1989 sukses mendapat respons positif masyarakat dan membuka jalan bagi belakangan album hits lainnya, seperti Sun Sing Suwe, Terlena, hingga lagu duet fenomenal Memandangmu.

Konsistensi Ikke dalam menjaga gaya panggung yang jauh dari kesan seronok justru menjadi kekuatan utama dan ciri khasnya. Karakter vocal yang khas dipadu penampilan santun terbukti membawanya meraih berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Penyanyi Dangdut Wanita Terbaik AMI Awards (1997, 1998, 1999, 2015, dan 2019), Penyanyi Dangdut Paling Ngetop SCTV Awards 2002, hingga meraih Piala Suling Emas dalam Anugerah Dangdut TPI 2005. Kepopulerannya bahkan menembus kancah internasional saat diundang tampil di program Asia Live Dream NHK Jepang pada tahun 1998.


Di samping dunia tarik suara, lulusan Sarjana Ekonomi Manajemen Universitas Jayabaya ini juga aktif melakoni peran sebagai presenter acara televisi dan membintangi sejumlah judul film layar lebar seperti Berbagi Suami (2006) dan Catatan Dodol Calon Dokter (2016). Karya musiknya pun terus mengalir hingga beberapa tahun terakhir, termasuk merilis tembang "Tasbih" dan "Melepasmu" yang membawanya meraih penghargaan Lagu Dangdut Terbaik di Anugerah Dangdut Indonesia 2025.

Perjalanan hidup dan dedikasi panjang Ikke Nurjanah membuktikan bahwa popularitas serta eksistensi di dunia hiburan dapat dicapai melalui kualitas karya, integritas, dan latar belakang pendidikan yang kuat.

 

Siap Kembali ke Layar Lebar, Jamal Mirdad Siapkan Proyek Film Baru dan Nostalgia Kejayaan Ramadhan dan Ramona

Iki Radio - Aktor senior Jamal Mirdad memberi sinyal kuat akan kembali menyapa pecinta sinema Tanah Air. Bintang utama film legendaris Ramadhan dan Ramona (1992) ini mengungkapkan bahwa dirinya tengah mempersiapkan sebuah proyek film layar lebar terbaru yang akan menampilkan perannya dalam karakter yang lebih matang.

"Saya kebetulan memang sedang mempersiapkan untuk membuat film. Mudah-mudahan saya panjang umur, sehat, lancar keuangan. Kurang lebih seperti itu nanti, jadi aktor tua. Yang memang ternyata tua itu tidak bisa dianggap sebuah ketuaan yang rapuh," ujar Jamal Mirdad.

Rencana kembalinya ke industri perfilman juga membawa ingatan Jamal berkarat pada masa-masa emas kariernya, terutama saat menggarap Ramadhan dan Ramona bersama sang mantan istri, Lydia Kandou. Film karya rumah produksi independen milik mereka tersebut sukses memborong lima Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 1992.

"Kebetulan memang itu perusahaan kita sendiri, modal kita sendiri, yang main kita sendiri, terus dapat lima Piala Citra. Dua pemain laki-perempuan, sutradara, penulis, dan pemusik. Jadi kita borong saat itu, dan itu real. Jadi alhamdulillah," kenang pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah tersebut.

Tak hanya bernostalgia tentang kesuksesan penghargaan, Jamal juga sempat memperagakan salah satu adegan paling ikonik ketika karakternya menyatakan cinta kepada Ramona dengan dialek Melayu yang khas.

"'Ramona, saya suka sama kau lah,' langsung dia marah, 'Apa kau cakap?!' Kurang lebih gitu adegannya. Perempuan itu punya kepribadian yang sangat luar biasa," kenangnya sembari tersenyum.

Terkait detail alur cerita maupun judul proyek terbarunya, pemeran kawakan ini masih memilih untuk merahasiakannya demi memberikan kejutan bagi para penggemar.

"Wah ini rahasia, boleh saya rahasiakan sedikit dulu. Tapi saya sudah punya catatan di Mas Ogi itu. Nanti kumpul ngopi kita ngobrol bareng lagi kalau sudah mulai rilis," pungkasnya.

 

Perjalanan Karier Inneke Koesherawati: Dari Bintang Layar Lebar Hingga Ikon Busana Muslimah

Iki Radio — Sosok Inneke Koesherawati dikenal luas dalam industri hiburan Tanah Air sebagai aktris dan model yang telah melintasi berbagai era transformasi karier. Lahir pada 13 Desember 1975 sebagai anak kelima dari enam bersaudara asal Purworejo, Jawa Tengah, perempuan yang akrab disapa Inne ini mengawali kiprahnya dari dunia pemodelan sebelum menjadi salah satu pemeran ternama di Indonesia.

Langkah awal kariernya di dunia hiburan dimulai saat menorehkan prestasi sebagai Juara Berbakat pada ajang GADIS Sampul 1990. Untuk memperdalam bakatnya, ia menempuh pendidikan di sekolah model OQ Modelling milik peragawati senior Okky Asokawati.

 

Kiprah di Dunia Seni Peran

Ketertarikan Inneke pada dunia akting bermula saat menjadi figuran dalam film Lupus 4. Debut layar lebarnya dimulai lewat film Diskotek DJ (1990). Nama Inneke kemudian melambung pesat di dekade 1990-an setelah membintangi film Gadis Metropolis (1992). Sepanjang era tersebut, ia membintangi puluhan judul film layar lebar, termasuk beberapa judul film komedi bersama grup Warkop DKI seperti Bisa Naik Bisa Turun dan Bagi-Bagi Dong.

Di layar kaca, Inneke juga mencatatkan perjalanan akting yang panjang melalui berbagai judul sinetron populer, di antaranya Bunga-Bunga Kehidupan (1994), Tirai Sutra (1996), hingga Jangan Ada Dusta (2001).

 

Transformasi dan Dedikasi di Karya Religius

Memasuki tahun 2001, Inneke mengambil keputusan penting dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya dengan mulai mengenakan jilbab. Langkah ini memicu transformasi pada fokus karyanya di dunia hiburan, di mana ia banyak berpartisipasi dalam judul-judul sinetron bernuansa religi yang sukses di pasaran, seperti Padamu Aku Bersimpuh (2001), Lorong Waktu (2002), Mutiara Hati (2005), hingga Para Pencari Tuhan Jilid 10 (2016). Lewat perannya di Mutiara Hati, ia sempat masuk dalam nominasi Aktris Terfavorit pada ajang Panasonic Awards 2006.

Selain berakting, Inneke juga aktif sebagai pembawa acara program televisi, seperti Sahur Bersama di SCTV, Kesaksian di Lativi, serta program Ramadan di RCTI. Atas dedikasinya dalam penyiaran bernuansa Islami, ia dianugerahi penghargaan Pembawa Acara Terpuji oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Anugerah Syiar Ramadhan.

 

Duta Merek dan Aktivitas Bisnis

Di luar seni peran, Inneke merambah dunia bisnis dan multitalenta. Ia pernah mendirikan rumah produksi PT Gamal Golden Entertainment dan bertindak sebagai Direktur Utama yang melahirkan sinetron seperti Bias-Bias Obsesi dan Bila Esok Tiba. Ia juga sempat menjadi produser grup musik Uno serta ikon untuk saluran televisi berlangganan Astro Oasis pada tahun 2007.

Keberadaannya sebagai figur publik yang inspiratif membawanya dipercaya menjadi duta merek (brand ambassador) untuk berbagai produk nasional, termasuk menjadi brand ambassador pertama produk kecantikan Wardah sejak 2002 hingga 2018, serta Teh Kantong Sari Murni (2009–2018).

Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki latar belakang keyakinan beragam, Inneke juga dikenal memiliki sikap toleransi yang tinggi dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Evie Tamala, Dari Panggung Daerah Hingga Jadi Ratu Dangdut Melankolis

Iki Radio — Nama Hj. Evie Tamala tentu sudah tidak asing lagi bagi para pencinta musik dangdut tanah air. Penyanyi senior kelahiran Tasikmalaya, 23 Juni 1969, yang memiliki nama asli Cucu Suryaningsih ini dikenal lewat deretan tembang hits legendaris seperti Selamat Malam, Cinta Ketok Magic, hingga Dokter Cinta.


Namun, di balik kesuksesannya yang mengkilap, bungsu dari 6 bersaudara ini menempuh jalan berliku dan penuh perjuangan sebelum akhirnya diakui sebagai salah satu maestro dangdut Indonesia.

Awal Perjalanan dan Kegagalan di Awal Karier

Perjalanan musik Evie dimulai pada tahun 1982. Saat itu, ia tampil sebagai penyanyi panggung bersama Orkes Melayu Sinar Remaja menggunakan nama panggung Uce Arifina. Lingkup tampilnya tak hanya di Tasikmalaya, tetapi juga merambah hingga ke Kota Bandung.

Bakat besarnya kemudian dilirik oleh pencipta lagu sekaligus produser ternama saat itu, Muchtar B, yang tertarik dengan kelembutan dan merdunya suara Evie. Menginjak tahun 1986–1987, Evie masuk dapur rekaman untuk menggarap album perdana Sesuap Nasi dan Sesuka Hatinya. Sayangnya, nasib buruk menimpa; album tersebut gagal total bahkan kasetnya tidak sempat beredar di pasaran.

Pantang menyerah, pada tahun 1988 Evie merilis album kedua bertajuk Tang Ting Tong Der. Album di bawah naungan MSC Records ini pun belum mampu melambungkan namanya. Di momen inilah, ia resmi mengadopsi nama panggung Evie Tamala—di mana "Tamala" diambil sebagai singkatan dari kota kelahirannya, Tasikmalaya.


Puncak Popularitas Lewat "Dokter Cinta"

Titik balik kariernya terjadi pada tahun 1989 melalui album ketiga, Dokter Cinta. Album ini meledak hebat di pasaran dan berhasil melontarkan nama Evie Tamala ke jajaran penyanyi dangdut papan atas Indonesia, sejajar dengan nama-nama besar seperti Elvy Sukaesih, Camelia Malik, dan Rita Sugiarto. Ketenaran lagu tersebut juga terdongkrak oleh penampilan komedian Doyok dalam video klipnya yang jenaka.

Setelah itu, kesuksesan demi kesuksesan terus menyertai deretan albumnya, antara lain:

  • Hari-Hari Cinta (1990)
  • Aduh Sayang (1991)
  • Cinta Ketok Magic (1991)
  • Rambut (1993)
  • Kangmas (1994)

 

Transformasi Genre dan Ciri Khas Vokal

Memasuki tahun 1994, peluncuran album Rembulan Malam menjadi tonggak penting perubahan arah musik Evie Tamala. Bekerja sama dengan produser dan penata musik Aliek Ababil, karakter vokal Evie dinilai sangat pas membawakan lagu-lagu bergenre dangdut romantis, melankolis, dan lembut.

Ia sukses memadukan musik dangdut dengan berbagai eksperimen genre lain seperti blues, klasik, hingga swing. Sentuhan puitis pada intro lagu serta warna musik yang kaya terlihat jelas pada album-album ikoniknya seperti Selamat Malam (1996) dan Suara Hati (1998) lewat lagu hits Seribu Purnama serta Malam Ini. Eksplorasi ini makin memantapkan posisinya sebagai penyanyi dangdut dengan karakter unik dan matang.


Eksistensi Karya Tanpa Batas

Tak hanya terbatas pada dangdut berbahasa Indonesia, Evie Tamala juga membuktikan keluwesannya dengan merilis album Pop Sunda (seperti Tunggara dan Kembang Hareupan), Pop Jawa (Kangen, Yogya Priyangan), hingga album bernuansa religi seperti Asmaul Husna.

Eksistensinya di industri musik tetap terjaga hingga saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Evie aktif merilis berbagai single baru, seperti Belahan Jiwa (2023), Sudah Tak Sayang (2024), karya religi Kemanapun Memandang (2025), hingga rilisan terbaru Selamat Malam 2 (2026).


Kehidupan Pribadi

Di balik kejayaannya di atas panggung, kehidupan rumah tangga Evie sempat mengalami pasang surut. Pernikahan pertamanya dengan Heru harus berakhir dengan perceraian lantaran belum dikaruniai keturunan. Pada tahun 2003, Evie kembali membina rumah tangga bersama pria bernama Malik. Meski hingga kini belum dikaruniai buah hati, kehidupan rumah tangga mereka tetap harmonis dan jauh dari terpaan gosip miring.

 

close
Pasang Iklan Disini