Iki Terbaru/Paling Greeess

Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Kemenkes Ungkap Temuan CKG 2025, Risiko Gangguan Kesehatan Tinggi

Iki Radio – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap sejumlah temuan penting dari pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 yang menunjukkan masih tingginya risiko gangguan kesehatan pada berbagai kelompok umur, mulai dari bayi baru lahir hingga lanjut usia. Temuan ini akan menjadi dasar penguatan tata laksana CKG pada 2026.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa pada kelompok bayi, sekitar 6 persen lahir dengan berat badan rendah di bawah 2,5 kilogram. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan kejadian stunting dan gangguan tumbuh kembang apabila tidak ditangani sejak dini.

Selain itu, Kemenkes juga menemukan sejumlah kelainan bawaan serius, seperti penyakit jantung bawaan kritis dan kekurangan hormon tiroid. Menurut Maria, skrining dini menjadi kunci untuk mencegah dampak jangka panjang pada kualitas hidup anak.

“Kekurangan hormon tiroid sangat penting diperiksa karena jika tidak ditangani, bayi dapat mengalami retardasi mental yang berdampak seumur hidup,” jelas Maria di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Ia menegaskan bahwa bayi yang teridentifikasi mengalami kekurangan hormon tiroid harus segera mendapatkan pengobatan maksimal dalam waktu satu bulan. Seluruh pembiayaan pengobatan tersebut ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Penguatan Skrining Menuju CKG 2026

Untuk menekan risiko gangguan kesehatan di masa depan, Kemenkes mendorong penguatan skrining kesehatan sejak pra-kehamilan, termasuk pada calon pengantin. Ibu hamil juga diimbau menghindari paparan asap rokok dan konsumsi alkohol.

Maria menjelaskan, perbedaan utama CKG 2026 dibandingkan tahun sebelumnya terletak pada penguatan tata laksana dan perawatan, khususnya pada tindak lanjut hasil pemeriksaan.

“Temuan pemeriksaan menunjukkan berbagai masalah kesehatan signifikan di setiap fase kehidupan, mulai dari gangguan pertumbuhan pada bayi hingga ancaman penyakit kronis pada kelompok usia lanjut,” ungkapnya.

Pada kelompok balita dan anak prasekolah usia 1–6 tahun, masalah kesehatan gigi menjadi perhatian utama. Karies gigi ditemukan pada 31 persen anak atau satu dari tiga anak. Kondisi ini berpotensi memicu infeksi, demam, gangguan tenggorokan, serta menghambat konsentrasi belajar dan pertumbuhan anak.

Selain itu, lebih dari 10 ribu balita tercatat mengalami berat badan kurang. Orang tua diimbau memberikan makanan beragam dengan kandungan protein hewani, seperti telur, ikan, dan daging, serta rutin memantau pertumbuhan anak melalui Posyandu setiap bulan.

Pada kelompok usia sekolah dan remaja, Kemenkes menemukan satu dari lima remaja memiliki tekanan darah di atas normal. Risiko ini meningkat pada remaja dengan kegemukan dan obesitas yang dialami sekitar 7 persen remaja.

Masalah pendengaran juga mulai muncul akibat penggunaan earbud berlebihan. Kemenkes menyarankan penggunaan earbud maksimal satu jam per hari dengan volume terkontrol. Di sisi lain, anemia masih dialami oleh satu dari empat remaja, terutama siswi kelas 7 dan 10.

Memasuki usia dewasa, obesitas sentral dialami satu dari tiga orang dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Data Kemenkes mencatat sekitar 7 juta orang dewasa memiliki tekanan darah di atas normal, serta 100 ribu orang mengalami diabetes dan prediabetes.

Pada kelompok lanjut usia, kondisi kesehatan tercatat lebih mengkhawatirkan. Sebanyak 51 persen lansia memiliki tekanan darah di atas normal, sementara 58 persen mengalami masalah kesehatan gigi yang berpotensi memicu infeksi serius.


Kepatuhan Berobat Masih Rendah

Meski berbagai penyakit berhasil terdeteksi melalui CKG, tingkat kepatuhan masyarakat untuk berobat dan melakukan kontrol lanjutan masih rendah. Dari penderita hipertensi, hanya sekitar sepertiga yang rutin mengonsumsi obat dan kontrol. Pada penderita diabetes, tingkat keberhasilan pengendalian gula darah masih di bawah 10 persen.

“Kondisi ini menjadi bahan evaluasi utama Kemenkes dalam penyempurnaan layanan kesehatan pada 2026, dengan fokus pada penguatan tindak lanjut hasil pemeriksaan dan perubahan perilaku hidup sehat,” tegas Maria.

Untuk menekan angka penyakit tidak menular, Kemenkes mengimbau masyarakat membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak, melakukan pemeriksaan kesehatan rutin minimal setahun sekali, meningkatkan aktivitas fisik, serta patuh mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Dengan deteksi dini dan penerapan gaya hidup sehat, kualitas hidup masyarakat diharapkan meningkat dan risiko penyakit kronis di masa depan dapat ditekan.

Kemenkes Dorong Optimalisasi Obat Kesehatan Jiwa untuk Perluas Layanan Kuratif

Iki Radio - Kementerian Kesehatan memperkuat layanan kesehatan jiwa nasional melalui peningkatan signifikan alokasi obat kesehatan jiwa pada 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya serius pemerintah dalam memperluas akses layanan kuratif bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan.



Direktur Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan, penambahan alokasi obat kesehatan jiwa yang hampir mencapai lima kali lipat merupakan respons atas tingginya beban gangguan kesehatan jiwa di Indonesia serta masih terbatasnya ketersediaan obat di fasilitas layanan tingkat pertama.  

“Ini momentum yang tidak boleh kita sia-siakan. Dukungan penambahan obat kesehatan jiwa harus dimanfaatkan secara optimal agar benar-benar berdampak pada peningkatan layanan di Puskesmas,” ujar Imran dalam Sosialisasi Obat Kesehatan Jiwa 2026, secara daring, Selasa (20/1/2026). 

Imran Pambudi menjelaskan, isu kesehatan jiwa kini menjadi perhatian strategis nasional. Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, kesehatan jiwa disepakati sebagai salah satu isu prioritas yang akan dipantau secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan tantangan global dan kondisi sosial ekonomi yang berpotensi meningkatkan tekanan psikososial masyarakat.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi depresi pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen. Sementara itu, prevalensi keluarga dengan anggota rumah tangga yang memiliki gangguan jiwa tercatat sebesar 4 per 1.000 penduduk. 

Data Institute for Health Metrics and Evaluation juga menunjukkan bahwa gangguan jiwa menempati peringkat kedua penyebab years lived with disability atau tahun produktif yang hilang akibat disabilitas.  

“Dampak gangguan jiwa sangat besar terhadap produktivitas individu dan pembangunan. Karena itu, layanan kesehatan jiwa harus diperkuat, terutama di layanan primer,” kata Imran.

Dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2022–2029, terdapat sejumlah indikator kinerja utama kesehatan jiwa yang masih perlu digenjot. Capaian layanan depresi pada 2025 baru mencapai 0,7 persen dari target 5 persen. 

Sementara itu, layanan bagi orang dengan gangguan jiwa baru mencapai 56,84 persen dari target 70 persen, dan Puskesmas yang mampu memberikan layanan kesehatan jiwa baru mencapai 47,46 persen dari target 70 persen.

Menurutnya, salah satu tantangan utama terletak pada ketersediaan obat kesehatan jiwa di Puskesmas. Meskipun hampir 80 persen tenaga kesehatan telah mendapatkan pelatihan, Puskesmas yang memiliki obat kesehatan jiwa masih sekitar 40 persen. 

Kondisi ini mendorong Kementerian Kesehatan melakukan pengadaan obat kesehatan jiwa secara terpusat melalui Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

Selain penguatan pengadaan obat, Kementerian Kesehatan juga terus meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan daring berbasis Massive Open Online Course, termasuk pelatihan kesehatan jiwa terpadu dan tata kelola gangguan penggunaan zat. 

Upaya lainnya adalah memasukkan layanan pelacakan serta pendampingan minum obat bagi orang dengan gangguan jiwa ke dalam dukungan Dana BOK.

Imran Pambudi berharap, dengan ketersediaan obat yang lebih memadai, keberanian tenaga kesehatan dalam memberikan terapi psikofarmaka dasar di Puskesmas juga semakin meningkat. 

“Jika layanan di Puskesmas kuat, maka sistem rujukan akan berjalan lebih tertata dan tidak menumpuk di rumah sakit,” ujarnya.

Melalui penguatan kebijakan, pembiayaan, dan layanan di tingkat primer, Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan kesehatan jiwa yang lebih inklusif, merata, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

 

Komnas KIPI Tegaskan Keamanan PCV untuk Imunisasi Pneumonia

Iki Radio - Vaksin Pulmeera, salah satu merek Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) untuk program imunisasi pneumonia telah melalui seluruh tahapan uji keamanan sesuai standar internasional. Penegasan ini disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Penggunaan Vaksin Pulmeera dalam Pelaksanaan Imunisasi PCV, Kamis (8/1/2026).

Anggota Komnas Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI), Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, menjelaskan bahwa seluruh vaksin PCV, termasuk Pulmeera, memiliki profil keamanan yang relatif sama karena dikembangkan dan diuji melalui proses ilmiah yang ketat sebelum digunakan secara luas.  

"Penentuan keamanan vaksin tidak dilakukan secara singkat. Mulai dari uji praklinis pada hewan coba hingga uji klinis fase 1, 2, dan 3 pada manusia, prosesnya bisa memakan waktu lebih dari 10 tahun,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa setiap kejadian medis yang muncul setelah imunisasi disebut sebagai KIPI, namun tidak seluruhnya disebabkan oleh vaksin. 

Oleh karena itu, sistem surveilans KIPI diterapkan secara berjenjang untuk mendeteksi, melaporkan, menginvestigasi, dan menganalisis setiap kejadian secara objektif dan berbasis bukti ilmiah.  

"KIPI dapat bersifat serius maupun non-serius. KIPI serius antara lain menyebabkan rawat inap, kondisi mengancam jiwa, atau menimbulkan keresahan masyarakat. Semua kejadian tersebut wajib dilaporkan dan dikaji kausalitasnya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya observasi selama 15–30 menit pascaimunisasi guna mendeteksi reaksi cepat seperti anafilaksis, serta pencatatan nomor batch vaksin untuk mendukung proses investigasi apabila diperlukan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Kerja Imunisasi Tambahan Kemenkes, Endang Budi Hastuti menegaskan urgensi imunisasi PCV sebagai upaya pencegahan pneumonia. Indonesia masih termasuk dalam 10 negara dengan jumlah kematian balita tertinggi akibat pneumonia, dengan sekitar 14 persen kematian balita disebabkan oleh penyakit ini.

Data menunjukkan bahwa setiap jam terdapat 2–3 balita meninggal dunia akibat pneumonia, dengan beban pembiayaan perawatan yang mencapai ratusan miliar rupiah setiap tahunnya. 

Pneumonia paling banyak menyerang bayi usia di bawah 12 bulan, sehingga perlindungan melalui imunisasi sejak dini menjadi sangat krusial.

Vaksin Pulmera telah memperoleh izin edar dari Badan POM dan digunakan sebagai bagian dari pengadaan vaksin PCV nasional. Penggunaan Pulmera juga telah melalui kajian dan mendapatkan rekomendasi dari Komite Imunisasi Nasional (KIN). 

“Pulmeera dapat digunakan sesuai jadwal imunisasi PCV yang berlaku dan dapat saling melengkapi dengan merek PCV lain, seperti Prevenar,” jelasnya.

Pulmeera merupakan vaksin PCV13 yang diberikan sebanyak tiga dosis, yakni pada usia 2 bulan, 3 bulan, dan dosis lanjutan pada usia 12 bulan. Apabila terjadi keterlambatan, imunisasi kejar tetap dapat dilakukan sesuai ketentuan usia anak.

Tata Cara Sama, Masyarakat Tidak Perlu Khawatir

Secara teknis, tidak terdapat perbedaan tata laksana antara Pulmera dan PCV merek lainnya. Vaksin diberikan secara intramuskular dengan dosis 0,5 ml, disimpan pada suhu 2–8 derajat Celsius, serta dilaporkan melalui sistem pencatatan imunisasi nasional. 

“Ini hanya perbedaan merek. Tata cara pemberian, dosis, jadwal, hingga pelaporan tetap sama. Masyarakat dan tenaga kesehatan tidak perlu khawatir,” pungkasnya.

Melalui penguatan imunisasi PCV, pemerintah berharap angka kesakitan dan kematian balita akibat pneumonia dapat terus ditekan, sejalan dengan komitmen melindungi generasi masa depan Indonesia.

 

Perkuat Upaya Perlindungan Kesehatan Anak, Kemenkes RI Hadirkan Vaksin Pulmera

Iki Radio - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat upaya perlindungan kesehatan anak dengan menghadirkan vaksin Pulmera sebagai salah satu merek Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) dalam program imunisasi nasional.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional menekan angka kematian balita akibat pneumonia, penyakit infeksi paru yang hingga kini masih menjadi ancaman serius.

Pneumonia menyumbang sekitar 14 persen kematian balita di Indonesia, atau setara dengan dua hingga tiga balita meninggal setiap jam.

Kondisi tersebut menempatkan Indonesia dalam 10 besar negara dengan kematian balita akibat pneumonia tertinggi di dunia, sehingga penguatan pencegahan melalui imunisasi PCV menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.

Ketua Tim Kerja Imunisasi Khusus dan Tambahan Kementerian Kesehatan, dr. Endang Budi Hastuti, MKM, menjelaskan bahwa bakteri Pneumococcus merupakan penyebab utama pneumonia pada anak dan dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi. 

"Imunisasi PCV sangat krusial, terutama pada anak usia dini, karena dapat mencegah infeksi berat yang berisiko menyebabkan kematian,” jelasnya dalam sosialisasi secara daring Penggunaan Vaksin Pulmera dalam Pelaksanaan Imunisasi PCV yang diikuti Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten, dan Kota serta Kepala Puskesmas, Kamis (8/1/2026).  

Kehadiran vaksin Pulmeera melengkapi pilihan vaksin PCV yang sebelumnya telah digunakan pemerintah, seperti Prevenar dan Valenina.

Vaksin ini telah memperoleh izin edar dari Badan POM dan dipastikan memiliki keamanan serta efektivitas yang setara dalam memberikan perlindungan bagi bayi dan balita.

Selain menambah ketersediaan vaksin, Pulmeera juga memberikan fleksibilitas bagi orang tua. Berdasarkan kajian Komite Imunisasi Nasional (KIN), vaksin PCV bersifat interchangeable, sehingga Pulmera dapat digunakan untuk melanjutkan dosis PCV dari merek lain yang telah diberikan sebelumnya.

Endang menegaskan bahwa anak yang terlambat mendapatkan imunisasi PCV tetap dapat dikejar sesuai ketentuan usia.

Anak yang belum mendapatkan PCV pada usia 2 dan 3 bulan masih dapat diberikan dua dosis dengan interval empat minggu, kemudian dilanjutkan dosis ketiga minimal pada usia 12 bulan dengan jarak minimal delapan minggu dari dosis kedua.

Sementara itu, anak di atas usia 12 bulan yang belum pernah menerima PCV masih dapat diberikan dua dosis imunisasi dengan interval minimal delapan minggu, selama belum berusia 24 bulan. 

Bagi anak yang belum mendapatkan dosis lanjutan (dosis ketiga) pada usia 12 bulan, imunisasi tersebut masih dapat diberikan hingga usia 24 bulan.

"Adapun anak di atas usia 24 bulan hingga sebelum 5 tahun yang belum pernah menerima imunisasi PCV tetap dapat memperoleh satu dosis PCV sebagai perlindungan terhadap pneumonia," tambah Endang.

Vaksin PCV, termasuk Pulmera, diberikan melalui suntikan intramuskular di area paha dengan dosis 0,5 mililiter. Dengan semakin luasnya akses dan kejelasan panduan imunisasi kejar, pemerintah berharap tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan terlindungi hanya karena keterlambatan jadwal imunisasi.

Melalui penguatan imunisasi PCV, Kemenkes mengajak seluruh orang tua untuk memastikan anak mendapatkan perlindungan optimal sejak dini demi mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat dan kuat menuju Generasi Emas 2045. 

 

RSUD Caruban Bersiap Bila Ada Temuan Kasus Super Flu Di Madiun

Iki Radio - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Caruban Kabupaten Madiun, menyampaikan kesiapannya bila sewaktu waktu ditemukan kasus super flu, atau Influenza A (H3N2 subclade K) di wilayah Kabupaten Madiun.

drg. Farid Amirudin, Direktur RSUD Caruban Kab. Madiun

Kesiapan itu dilakukan, meskipun hingga kini belum ada edaran atau surat resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

"Surat atau edaran dari kementerian terkait munculnya Super Flu belum terima. Tapi kita tetap siapkan," ujar Ditektur RSUD Caruban, drg. Farid Amirudin, Senin (5/1/2026).

Dikatakan sebagai institusi layanan kesehatan, RSUD Caruban telah memiliki berbagai fasilitas bilamana nanti ada temuan kasus super flu.

"Kita ada ruang isolasi bila memang nanti diperlukan. Tentu petugas juga telah siap," lanjutnya. 

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun, dr. Heri Setyana, dikonfirmasi melalui aplikasi whatsapp, Sabtu (3/1/2026) memastikan kasus super flu atau Influenza A (H3N2 subclade K) di wilayah Kabupaten Madiun belum ada temuan.

"Belum ada," jawabnya singkat.

Dilansir dari laman Kemenkes RI, Influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai sebagai super flu bukanlah virus baru dan tidak bersifat mematikan seperti Covid-19 maupun tuberkulosis (TBC).

Masyarakat tidak perlu panik berlebihan, meski tetap harus waspada dan menjaga kesehatan. 

Virus influenza H3N2 sudah lama beredar dan memiliki karakteristik seperti flu musiman pada umumnya. Penyakit ini bisa menyerang seseorang lebih dari sekali, terutama ketika daya tahan tubuh menurun.(iw/IR)

Kemenkes Pastikan Influenza A(H3N2) Subclade K tidak Lebih Parah, Situasi Nasional Terkendali

Iki Radio - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya.

Ilustrasi (foto : Kemenkes RI)

Direktur Penyakit Menular Kemenkes Prima Yosephine menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring dengan masuknya musim dingin.

Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar Prima, Jumat (2/1/2026).

Lanjutnya, dikawasan Asia, subclade K telah dilaporkan di sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Meskipun influenza A(H3) menjadi varian dominan, tren kasus influenza di negara-negara tersebut menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Di Indonesia, hasil surveilans juga menunjukkan bahwa influenza A(H3) merupakan varian dominan. Tren kasus influenza nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir.

Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” jelasnya.

Dari total 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, sebanyak 348 sampel menjalani pemeriksaan WGS. Seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan saat ini bersirkulasi secara global dalam sistem surveilans WHO.

Kemenkes RI menegaskan akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza sesuai dinamika yang ada.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.

Vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian. Masyarakat juga diimbau untuk tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu.

"Menggunakan masker, menerapkan etika batuk, serta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari tiga hari," kata Prima.

IHT RSI Siti Aisyah Madiun, Ingatkan Hidrasi Anak Saat Demam

Iki Radio - Demam bukan hanya peningkatan suhu tubuh semata, tetapi juga memicu peningkatan metabolisme yang menyebabkan penguapan cairan tubuh lebih cepat.



Kondisi ini, apabila tidak ditangani dengan tepat, berpotensi menimbulkan dehidrasi yang dapat memperburuk keadaan pasien anak.

Demikian disampaikan dr. Medy Romadhan, Sp.A, Subsp. Neo.(K), Dokter Spesialis Anak sekaligus Subspesialis Neonatologi RSI Siti Aisyah Madiun, saat menyampaikan paparan komprehensif mengenai dampak demam terhadap keseimbangan cairan tubuh anak, di Gedung Ahmad Dahlan Lantai 4 RSI Siti Aisyah Madiun, Rabu (24/12/2025).

“Demam meningkatkan metabolisme tubuh sehingga cairan lebih cepat hilang melalui keringat dan pernapasan. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan cairan menjadi hal yang sangat penting," terang Medy.

Dalam hal ini, lanjutnya, perawat perlu memahami jenis cairan yang tepat serta cara pemberiannya agar dapat mendampingi dan mengedukasi orang tua pasien secara optimal.

Pada kegiatan In-House Training (IHT) bagi tenaga keperawatan yang dikemas dalam Medical Healthtalk bertema “Hidrasi Anak Pada Saat Demam” ini Medy menekankan edukasi kepada orang tua menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan anak. 

"Terutama terkait tanda-tanda dehidrasi dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan di rumah," tambahnya.

Dijelaskan larutan elektrolit memiliki keunggulan dibandingkan air biasa dalam kondisi tertentu, karena mampu membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang secara lebih efektif.

Sementara kegiatan In-House Training (IHT) ini merupakan upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan anak di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Aisyah Madiun.

IHT ini diikuti oleh perwakilan bagian pendaftaran serta perwakilan perawat dari seluruh unit pelayanan di RSI Siti Aisyah Madiun.

Harapannya, melalui pelatihan berkelanjutan ini, kualitas pelayanan medis, khususnya di instalasi kesehatan anak, dapat terus meningkat.(*)

Sumber : pwmu.co

Investasi Kulit Ala Mikha Tambayong, Tak Cuma Dari Produk Skincare

Iki Radio - Belakangan ini, istilah “skinvestment” alias “skin and investment” makin sering dipakai di tengah mulai meleknya masyarakat akan pentingnya perawatan kulit, terutama di area wajah.

Skinvestment adalah investasi dalam perawatan kulit untuk jangka panjang. Menurut aktris Mikha Tambayong, skinvestment sangat penting dilakukan sejak dini.

“Kulit harus ada investasinya. Karena, siapa lagi yang akan merawat kulit kita kecuali kita sendiri? Dari usia yang mudah sudah harus sadar akan perawatan kulit agar kondisi kulit bisa tetap terjaga,” ucap dia dalam acara peluncuran seri Clear White Supreme dari Ultima II di Jakarta Selatan, Minggu (7/12/2025).

Skinvestment untuk mencegah penuaan dini

Mikha menuturkan, skinvestment yang paling mudah dilakukan adalah perawatan kulit yang dapat membantu mencegah, memperlambat, atau setidaknya mengurangi tanda-tanda penuaan.

“Dulu palingan mulai usia 40 tahun ke atas, kalau sekarang enggak. Sekarang, dari usia muda sudah harus sadar dengan perawatan kulit agar bisa tetap terjaga produksi kolagennya,” kata Mikha.Skinvestment untuk mencegah penuaan dini

Mikha menuturkan, skinvestment yang paling mudah dilakukan adalah perawatan kulit yang dapat membantu mencegah, memperlambat, atau setidaknya mengurangi tanda-tanda penuaan.

“Dulu palingan mulai usia 40 tahun ke atas, kalau sekarang enggak. Sekarang, dari usia muda sudah harus sadar dengan perawatan kulit agar bisa tetap terjaga produksi kolagennya,” kata Mikha.

Produksi kolagen memang bisa berkurang seiring bertambahnya usia. Namun, perawatan kulit setidaknya bisa menjaga agar penurunannya tidak terjadi secara drastis.

Jangan cuma mengandalkan produk

Menurut aktris yang berperan sebagai Kenes di film “Abadi Nan Jaya” ini, satu hal penting yang sering dilupakan untuk mendapatkan hasil kulit yang bagus adalah kesehatan fisik.

“Kita harus merasa baik dari dalam diri kita. Supaya hasilnya (skinvestment) juga akan terlihat bagus, caranya dengan menjaga diri dari dalam,” kata dia.

Menjaga kesehatan fisik bisa dengan memerhatikan apapun yang dikonsumsi, baik dari segi porsi maupun nutrisi, rutin berolahraga, serta menerapkan pola hidup sehat yang mencakup tidur yang cukup.

“Kalau kita sudah sehat, kepercayaan diri juga keluar sendiri karena kita senang lihat kulit kita, tubuh kita. Semua dimulai dari kesadaran diri sendiri. Harus seimbang semua,” terang Mikha.

close
Pasang Iklan Disini