SIDOARJO, Iki Radio — Taruna dan taruni Ocean Institute of Indonesia (OII) Kampus Sidoarjo, Jawa Timur, mencatatkan prestasi membanggakan dengan mengoptimalkan potensi lokal berupa daun ketapang hingga menembus pasar internasional. Sebanyak 100 kilogram daun ketapang resmi dikirim ke Australia pada akhir Oktober 2026.
Daun ketapang dipilih karena memiliki nilai pemanfaatan yang tinggi dalam industri ikan hias dan akuarium. Melalui penanganan dan pengolahan mutu yang tepat, komoditas sederhana ini mampu disulap menjadi produk bernilai tambah di pasar global.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa transformasi sumber daya manusia (SDM) di sektor kelautan dan perikanan tidak hanya berfokus pada penyerapan tenaga kerja, tetapi juga mendorong lahirnya inovator dan wirausahawan muda.
“Transformasi SDM kelautan dan perikanan tidak cukup hanya menyiapkan lulusan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja. Kita juga perlu membangun kompetensi agar mereka mampu berinovasi, berwirausaha, dan menciptakan nilai tambah dari potensi yang berkaitan dengan sektor kelautan dan perikanan. Pengalaman ini merupakan salah satu langkah untuk membentuk SDM yang adaptif dan berdaya saing,” ujar Trenggono dalam siaran resminya di Jakarta, Minggu (1/11/2026).
Ekspor ini merupakan wujud nyata penerapan Project-Based Learning (PBL) pada Program Studi Agribisnis Perikanan OII Kampus Sidoarjo yang berkolaborasi dengan CV Al Mina Berkah.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa keberhasilan ini diawali dari pengiriman sampel sebanyak dua kilogram. Respons positif dari calon pembeli di Australia kemudian berlanjut pada pesanan sebanyak 100 kilogram pada September 2026.
Dalam prosesnya, para taruna dan taruni terlibat secara langsung di seluruh rantai bisnis ekspor—mulai dari identifikasi pembeli, korespondensi perdagangan internasional, seleksi bahan baku, kontrol kualitas, hingga pengemasan produk sesuai standar pasar luar negeri.
Komoditas tersebut diekspor dengan nilai transaksi US$15 per kilogram. Meski nilainya masih terbatas, langkah ini dipandang sebagai pijakan penting bagi pengembangan wirausaha muda di lingkungan vokasi perikanan.
“Nilai transaksi awal mungkin belum besar, tetapi yang lebih penting adalah terbukanya akses ke pasar internasional dan pengalaman taruna menjalani proses ekspor secara langsung. Dari sini, mereka belajar bahwa peluang usaha dapat dibangun dari potensi lokal, selama ada pengetahuan, kreativitas, kualitas produk, dan kemauan untuk membaca kebutuhan pasar,” tegas Nyoman.
Capaian taruna OII Sidoarjo ini mencerminkan komitmen
satuan pendidikan kelautan dan perikanan dalam memperkuat pendidikan vokasi
yang relevan dengan industri serta pasar global. Melalui integrasi antara
pembelajaran praktik dan kemitraan dunia usaha, para lulusan diharapkan tidak
hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru di sektor
ekonomi biru.








