Iki Radio — Nasib memprihatinkan tengah melanda para peternak ayam petelur di Indonesia. Di tengah melonjaknya harga pakan, harga jual telur justru merosot tajam selama berbulan-bulan hingga membuat banyak peternak gulung tikar dan mengosongkan kandangnya. Persoalan ini disuarakan langsung oleh para peternak saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Pengurus Pinsar Petelur Nasional (PPN), Suwardi, mengungkapkan bahwa harga telur di tingkat peternak sejak April lalu jauh berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024 sebesar Rp26.500 per kilogram (kg). Rata-rata harga telur hanya berkisar Rp19.000–Rp20.000 per kg, bahkan sempat menyentuh titik terendah Rp17.100 per kg pada Juni.
"Jika dirata-rata dalam enam bulan terakhir, harga telur hanya Rp20 ribu sampai Rp21 ribu, padahal ongkos biaya pakannya sudah naik," kata Suwardi di hadapan anggota DPR. Akibatnya, peternak diperkirakan menanggung kerugian sebesar Rp5.000 hingga Rp7.000 untuk setiap kilogram telur yang diproduksi setiap hari.
Kondisi makin diperparah oleh melambungnya harga dan langkahnya pasokan pakan utama seperti jagung. Banyak peternak yang tak lagi sanggup membeli pakan terpaksa menjual ternaknya dengan harga murah. "Sudah ada sebagian teman-teman kami yang kandangnya melompong kosong. Daripada berdosa (ayam tak diberi makan), kemarin dijual harga ayam cuma Rp20 ribu," tutur Suwardi.
Tak hanya persoalan biaya produksi, penyerapan pasar yang buruk juga memaksa sejumlah peternak mengambil langkah ekstrem. Suwardi menyebutkan bahwa telur-telur hasil produksi peternak di Kalimantan bahkan sampai terpaksa dibuang karena menumpuk dan tidak ada pembeli.
Tangis haru pun pecah dalam rapat tersebut ketika seorang peternak perempuan asal Blitar, Jawa Timur, mengadukan kondisi yang dialaminya. Ia mengaku para peternak rakyat yang bergantung pada lahan terbatas kini sudah kehabisan modal. Pasokan jagung dari Perum Bulog yang sempat membantu menahan kerugian kini juga mulai tersendat.
"Kami ini benar-benar sangat menderita, sudah kehabisan kata-kata. Modal itu sudah habis. Kami memang berterima kasih sempat dapat jagung dari Bulog, tapi sekarang tersendat. Kami enggak tahu sampai kapan akan bertahan," teriaknya sambil menangis.
Para peternak menuturkan fenomena 'harga telur anjlok di tengah pakan melambung' ini terus berulang setiap tahun tanpa solusi permanen. Menghadapi ancaman kemarau panjang dan El Nino, PPN mengkalkulasikan kebutuhan jagung peternak mencapai sekitar 223 ribu ton untuk lima bulan ke depan hingga Februari.
Para peternak mendesak pemerintah agar segera turun
tangan memberikan solusi nyata. Mereka meminta agar telur hasil produksi
peternak rakyat diakomodasi dan dimasukkan ke dalam program bantuan pangan
pemerintah guna menyerap kelebihan pasokan di pasar, sekaligus menstabilkan
harga pasokan pakan agar usaha mereka tidak gulung tikar.









