Iki Radio — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin pagi menyebabkan sedikitnya 254 orang tewas. Bencana ini tercatat sebagai salah satu gempa paling menghancurkan yang melanda negara tersebut pada abad ke-21.
Guncangan merusak blok apartemen, pemukiman, sekolah, hingga fasilitas kesehatan di sepanjang kawasan perkebunan kopi. Tim penyelamat kini berpacu dengan waktu menyisir reruntuhan bangunan untuk mencari korban selamat.
Laporan resmi per Selasa pagi mencatat sebaran korban jiwa di wilayah utama Pereira, yang menjadi area paling terdampak dengan 101 korban jiwa. Selanjutnya wilayah Cali, mencatat 95 korban jiwa, dengan kerusakan parah di kompleks apartemen Torres del Limonar.
Di lapangan, tim SAR gabungan bersama warga memobilisasi alat berat, ekskavator, hingga pencarian manual. Warga kerap diminta menghentikan aktivitas sejenak guna mendengarkan jeritan atau suara korban yang terperangkap di bawah puing.
"Struktur bangunan mulai berderit, dan tepat saat kami berlari keluar, bangunan itu langsung runtuh," ungkap Rosa Gonzalez, warga Pereira yang berhasil menyelamatkan diri bersama suami dan bayinya.
Kondisi di kawasan terpencil seperti Choco—yang berdekatan dengan pusat gempa—jauh lebih memprihatinkan. Komunitas adat setempat mengalami kelumpuhan total pada pasokan listrik, air bersih, gas, dan jaringan komunikasi.
Andres Caicedo, tokoh masyarakat di Sipi, menyebut warga terpaksa memanjat pohon demi mencari sinyal seluler untuk meminta bantuan.
"Anak-anak dan lansia mengalami trauma berat. Kami tidak memiliki puskesmas maupun pasokan medis; kami melakukan apa pun yang kami bisa dengan tenaga seadanya," tutur Andres.
Hingga Selasa sore, tercatat lebih dari 100 gempa susulan. Tiga bandara utama masih ditutup sementara dan sejumlah jalan nasional belum dapat dilalui.
Pemerintah menyatakan pemutakhiran data korban akhir dan total kerugian membutuhkan waktu beberapa hari ke depan hingga seluruh jalur komunikasi kembali pulih.








