Iki Radio - Ledakan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi dengan teknologi, tetapi juga merombak peta kekayaan dunia.
![]() |
| Chief Technology Officer OpenAI, Mira Murati dalam sebuah wawancara di acara The Daily Show(YouTube/ The Daily Show) |
Sejumlah tokoh teknologi papan atas, seperti Jensen Huang dari Nvidia dan Sam Altman dari OpenAI, kini semakin tajir seiring melonjaknya nilai industri AI.
Namun, di balik nama-nama besar tersebut, era AI juga melahirkan gelombang miliarder baru dari startup yang sebelumnya nyaris tak dikenal.
Lonjakan valuasi perusahaan rintisan berbasis AI dalam setahun terakhir membuat saham para pendirinya berubah menjadi “tambang emas”.
Lantas, siapa saja miliarder baru yang lahir dari ledakan teknologi AI ini? Berikut deretan pendiri startup dan eksekutif muda yang kekayaannya melesat berkat valuasi perusahaan AI yang meroket dalam waktu singkat.
Mira Murati
Mira Murati merupakan salah satu contoh paling nyata dari cepatnya lahir miliarder baru di era kecerdasan buatan. Mantan eksekutif OpenAI ini mendirikan Thinking Machines Lab pada Februari 2025.
Meski masih tergolong sangat muda dan belum lama berdiri, startup tersebut langsung melesat dengan valuasi sekitar 10 miliar dollar AS, atau setara Rp 167,74 triliun.
Lonjakan valuasi ini terjadi bahkan sebelum Thinking Machines Lab meluncurkan produk secara luas, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap rekam jejak Murati serta potensi teknologi AI yang dikembangkannya.
Brett Adcock
Brett merupakan contoh lain bagaimana AI mendorong lonjakan kekayaan dalam waktu singkat. Ia mendirikan Figure AI pada 2022 dengan fokus mengembangkan robot humanoid berbasis kecerdasan buatan.
Seiring meningkatnya minat industri terhadap otomatisasi fisik, valuasi perusahaan ini melesat tajam, membuat kekayaan bersih Adcock diperkirakan mencapai 19,5 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 327,09 triliun.
Aravind Srinivas
Aravind mendirikan Perplexity pada 2022 sebagai mesin pencari berbasis AI generatif. Dalam waktu relatif singkat, perusahaan ini tumbuh pesat dan kini memiliki valuasi sekitar 20 miliar dollar AS, setara Rp 335,48 triliun.
Meski masuk jajaran miliarder baru, Srinivas dikenal kerap menekankan bahwa visi Perplexity berfokus pada pencarian pengetahuan dan kualitas informasi, bukan semata akumulasi kekayaan pribadi.
Winston Weinberg dan Gabe Pereyra
Lonjakan valuasi ekstrem juga dialami Harvey, startup perangkat lunak hukum berbasis AI yang didirikan Winston Weinberg dan Gabe Pereyra. Dalam beberapa bulan, valuasi Harvey melonjak dari 3 miliar dollar AS menjadi 8 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 134,19 triliun.
Meski demikian, salah satu pendirinya menyebut kekayaan tersebut masih bersifat “di atas kertas”, menyoroti rapuhnya status miliarder yang bergantung pada valuasi startup.
Alexandr Wang
Alexandr membangun Scale AI secara relatif senyap sebelum akhirnya mendapat sorotan global. Startup pelabelan data ini melonjak nilainya hingga 14,3 miliar dollar AS, setara Rp 239,87 triliun, setelah menerima investasi besar dari Meta.
Wang kemudian ditunjuk sebagai Chief AI Officer Meta, memperkuat posisinya sebagai salah satu aktor kunci dalam ekosistem AI global.
Lucy Guo
Meski telah keluar dari Scale AI sejak 2018, Lucy Guo tetap masuk jajaran miliarder baru berkat kepemilikan saham awalnya. Dengan nilai acuan perusahaan yang sama, sekitar 14,3 miliar dollar AS atau Rp 239,87 triliun.
Guo menjadi salah satu sedikit perempuan yang berhasil menembus level kekayaan tinggi di tengah dominasi pendiri pria di industri AI. Saat ini, ia aktif membangun firma modal ventura dan mengembangkan bisnis di sektor ekonomi kreator.
Brendan Foody, Adarsh Hiremath, Surya Midha
Gelombang miliarder AI juga datang dari generasi yang sangat muda. Mercor didirikan oleh Brendan Foody bersama Adarsh Hiremath dan Surya Midha, yang saat mendirikan perusahaan masih berusia awal 20-an.
Startup data berbasis AI ini telah dihargai sekitar 10 miliar dollar AS, atau setara Rp 167,74 triliun, menjadikan para pendirinya sebagai salah satu kelompok miliarder termuda di era kecerdasan buatan.
Michael Truell, Sualeh Asif, Aman Sanger, Arvid Lunnemark
Fenomena serupa terlihat pada Cursor, startup AI coding di bawah perusahaan induk Anysphere.
Perusahaan ini didirikan oleh Michael Truell bersama Sualeh Asif, Aman Sanger, dan Arvid Lunnemark. Setelah pendanaan besar pada 2025, valuasi Cursor melonjak hingga 27 miliar dollar AS, setara Rp 452,90 triliun.
Lonjakan tersebut langsung mengangkat para pendirinya, yang masih berusia 20-an, ke jajaran miliarder teknologi dalam waktu sangat singkat.
Itulah beberapa miliarder baru di era kecerdasan buatan ini dirangkum dari laporan The New York Times, yang menyoroti bagaimana ledakan AI tidak hanya mempercepat inovasi teknologi, tetapi juga menciptakan lonjakan kekayaan dalam waktu sangat singkat.
Meski valuasi perusahaan-perusahaan AI tersebut tampak fantastis, laporan itu juga mengingatkan bahwa sebagian besar kekayaan masih bersifat “di atas kertas” dan sangat bergantung pada kemampuan startup untuk bertahan serta membuktikan janji teknologinya di tengah dinamika pasar global.













