Hebat, Metode GREATER Bawa Guru SMK Negeri 3 Madiun Juara GTK Jatim

Iki Radio - Keluarga besar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Madiun patut berbangga. Pasalnya, jelang peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025, salah seorang pendidik di sekolah kimia itu, berhasil meraih juara dalam lomba inovasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) tingkat Provinsi Jawa Timur.

Diah Fahmawati, guru SMK N 3 Madiun yang menjadi juara GTK tingkat Provinsi Jawa Timur

Dia adalah Diah Fahmawati (44) guru kimia analis SMK Negeri 3 Madiun, yang sukses dengan inovasi pembelajaran melalui metode GREATER yang ia ciptakan.

"Saya mewakili sebagai GTK transformatif untuk guru SMK. Maksudnya guru yang memiliki inovasi yang membawa perubahan ditingkat satuan pendidikannya," kata Diah, Jum'at (14/11/2025).

Dijelaskan, merode GREATER pada transformasi dalam pembelajaran yang dilakukannya itu, mendasar pada sistem penerapan pembelajaran mendalam. Tingkat pahaman peserta didik dalam menyerap ilmu yang disampaikan akan lebih mudah dan lebih cepat.

"Melalui inovasi, apakah media pembelajaran atau mungkin pendekatan pembelajarannya atau strategi pembelajarannya sehingga nanti anak lebih memahami atau lebih memiliki output yang lebih baik daripada kalau kita hanya mengajar secara konvensional," lanjutnya.

"GREATER itu saya mencoba mengajak peserta didik dan menggali pengetahuannya. Mulai memunculkan sebuah gagasan (G) kemudian membuat rencana (RE), aplikasi dan analisa (A), kemudian terapan (TE) dan refleksi (R)," tambahnya.

Melalui deep learning diharapkan siswa akan mudah memahami materi yang diajarkan. "Jadi kita fokus pada menyelesaikan masalah-masalah di kelas," ungkapnya.

Diah Fahmawati memulai karir di dunia pendidikan sejak Desember 2003, dan mulai mengajar tahun 2004, sebagai ASN yang ditempatkan di SMK PGRI Mospati Kabupaten Magetan.

Sempat mengenyam pendidikan selama satu semester di Amerika Serikat pada tahun 2015. Kemudian pada tahun 2019, memperoleh beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dengan mengambil pendidikan pasca sarjana (S2) di ITB selama 2 tahun.

Dengan momen peringatan HGN 2025 ini, Diah mengajak seluruh guru untuk melihat bahwa profesi sebagai guru lebih kepada panggilan nurani untuk melakukan yang terbaik bagi pendidikan di Indonesia.

"Profesi guru sebagai panggilan, bukan karir, itu yang jadi penguat, lebih meluruskan niat. Harapannya guru indonesia lebih bisa memberikan pelayanan untuk anak anak, lebih inovatif, sehingga ada harmonisasi yang terbentuk dalam pembelajaran,"pungkasnya.(iw/IR)

close
Pasang Iklan Disini